(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
51. Persiapan Pernikahan Bella


__ADS_3

"Maaf, Tuan. Saya lupa membawa charger nya," ucap Barry.


Megan memandang ke arah Barry. Tatapan dinginnya membuat Barry menunduk takut.


"Huh ... dasar kamu. Kenapa tidak kamu bawa sih?" Kesal Megan.


"Maaf,Tuan. Karena niatnya kan kita cuma ke perbatasan, jadi saya tidak terfikir kan untuk membawa charger nya," jelas Barry menunduk.


"Kamu ini. Biasakan kalau membawa ponsel itu sekalian dengan charger nya."


"Baik Tuan Megan."


Megan terbangun dari tidurnya, dia melirik jam yang ada di dinding, ternyata sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi.


Megan juga melihat cairan infusnya yang menggantung, dan ternyata hanya tinggal sedikit lagi.


"Barry." Megan mengguncang sedikit bahu Barry yang ternyata tertidur di samping Megan.


"Iya, Tuan. Tuan sudah bangun?" Dia mengucek matanya.


"Iya. Infusnya juga sudah habis. Dan saya juga sudah tidak apa-apa lagi. Ayo kita jalan."


"Apa tidak kita tunggu hari terang dulu, Tuan?" tanya Barry." Sebenarnya dia kaget dengan permintaan Megan untuk segera melanjutkan perjalanan.


"Tidak Barry. Jika menunggu terang, maka waktu akan terbuang banyak."


Megan berusaha untuk duduk sendiri, dia menolak dibantu Asisten nya itu.


"Baiklah, saya akan mengurus semuanya terlebih dahulu," ucap Barry, kemudian keluar dari ruangan itu untuk mengurus segala sesuatunya.


Awalnya, permintaan Barry untuk membawa Megan keluar saat itu juga di tolak oleh Bidan, tapi Barry terus meyakinkan dan mengatakan akan membawa Tuannya ke Rumah Sakit. Dan barulah Si Bidan mengizinkannya.


"Apa semuanya sudah beres?" tanya Megan saat Barry kembali memasuki ruangan tempat Megan di periksa dan istirahat.


"Sudah, Tuan. Mari saya bantu." Dia membantu menurunkan Tuannya dari tempat tidur.


"Dasar, Tuan ini, sangat keras kepala. Turun dari tempat tidur saja tidak bisa sendiri, tapi tetap maksain kekerasan hati," kesal Barry dalam hati.

__ADS_1


Setelah sampai di parkiran, mereka segera menaiki motor. Tapi Barry menemukan sebuah ide, dan berharap Tuannya menyetujuinya.


"Tuan, apa sebaiknya kita sewa mobil saja. Kondisi Tuan belum benar-benar stabil." Dia benar-benar berharap jika Tuannya menuruti sarannya.


"Tidak Barry. Kita akan menggunakan motor ini saja. Jika memakai mobil, kita akan sering terkena macet, belum lagi mencari mobil sewaannya." Megan ternyata tidak mau menerima saran dari Barry.


"Ya sudahlah, saya tidak dapat memaksa. Tolong pegangannya yang kuat Tuan." Barry pun menyalakan motornya.


Setelah di rasa Megan sudah berpegangan dengan kuat, Barry menarik gas dan melesat meninggalkan bangunan Puskesmas itu dengan cepat.


Udara waktu itu sangat dingin karena embun sesang turun, hingga menusuk sampai ke tulang. Beruntung mereka memakai Jaket sehingga tidak terlalu kedinginan.


Mereka berkendara hingga matahari terbit, kemudian mengisi bahan bakar juga mengisi perut mereka masing-masing.


Tidak lupa juga Megan meminum obatnya, dan tentu saja paksaan dari Barry, kalau tidak, pastilah obat itu akan tetap pada tempatnya yaitu di kantong baju Barry.


"Tuan, apa masih sakit lukanya?"


"Tidak terlalu, hanya sedikit," jawab Megan kembali melanjutkan makannya setelah berhenti karena menjawab pertanyaan Barry.


"Apa sebaiknya kita rumah sakit dulu, Tuan."


"Tidak perlu. Kamu jangan mengkhawatirkan saya seperti itu, saya sudah tidak apa-apa. Ayo cepat habiskan makananmu."


"Baik, Tuan." Mereka menghabiskan makanan masing-masing tanpa percakapan lagi.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, dan akan berhenti jika Barry benar-benar lelah.


"Kita berhenti di counter itu."


"Baik, Tuan."


"Tolong belikan charger, dan sekalian di isi dayanya sebentar, jangan lama-lama, cukup lima menit saja" perintah Megan kemudian memberikan ponselnya pada Barry.


Dengan sigap, Barry mengambil ponsel itu, kemudian berjalan sedikit berlari masuki counter, dan segera melakukan apa yang ingin ia lakukan.


Megan melihat jam tangannya.

__ADS_1


"Jangan sampai aku terlambat," gumamnya.


Dan setelah lebih kurang lima menit, Barry kembali dan memberikan ponsel Megan.


Megan menyalakan ponselnya, setelah ponselnya stabil, dia mengetik sesuatu disana. Beberapa saat setelah nya, dia kembali menyimpan ponsel itu.


"Ayo jalan lagi."


"Baik, Tuan."


Merekapun kembali melanjutkan perjalanan.


Waktu pun terus berjalan, tanpa mau menunggu Megan yang sedang berusaha tiba di Bandung sesegera mungkin.


Mereka telah melewati malam lagi, tapi beruntung, mereka tidak melewati jalan sepi seperti sebelumnya lagi.


Jalanan kali ini, meskipun sudah malam, tapi tetap ada kendaraan yang berpapasan dengan mereka meskipun tidak banyak.


Hanya tiga atau empat kendaraan yang mereka lihat, tapi itu tidak masalah, karena di pinggir jalan merupakan bangunan, baik itu rumah ataupun ruko-ruko, dan pencahayaan jalan pun cukup terang.


Perjalanan yang harus mereka tempuh masih sangat jauh, dan itu membuat hati Megan merasa cemas.


Sementara di kediaman Tamara, semua sedang bersiap-siap, terlebih dengan Bella.


Dia yang akan menjadi pengantin wanita tentu lebih di perhatikan, karena dialah yang akan menjadi pusat perhatian hari itu.


Perias terbaik pun didatangkan kerumah, pagi-pagi sekali, Bella sudah dirias wajahnya.


Dia yang tidak terbiasa dengan riasan tebal, sekarang di rias dengan sangat baik, dan hasilnya benar-benar membuat orang pangling.


Bagaimana tidak, dia yang dasar nya memang sudah cantik, di poles dengan baik, tentulah akan semakin cantik.


Taman rumah Tamara sudah dihias sedemikian rupa, sungguh sangat indah bagi siapapun yang melihatnya, tapi tidak untuk Balla.


Kemegahan dan keindahan yang ia lihat, seakan sesuatu yang sangat menyakitkan.


"Kak Megan." Tanpa sadar,, air matanya pun jatuh, membasahi pipinya yang cantik menawan itu.

__ADS_1


__ADS_2