(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
35. Ketahuan


__ADS_3

"Astaghfirullah ... apa yang kalian lakukan." Suara teriakan seseorang mengagetkan mereka.


Dia adalah Lucia. Karena terlalu lama menunggu, jadi dia memutuskan untuk melihat apa yang terjadi yang membuat Bella tidak kunjung kembali.


Dan pemandangan yang dilihatnya saat itu, sungguh membuat Lucia berteriak seperti meneriaki aksi maling yang kepergok.


Megan dan Bella reflek memberi jarak, Bella mendorong tubuh Megan yang sedari tadi menghimpitnya.


"Megan ... apa yang kamu lakukan sama anak gadis mama?" teriak Lucia. Dia melangkah dengan ekspresi marah, dia sambar bantal yang ada di atas ranjang, kemudian memukul-mukulkan nya pada kepala Megan.


"Kamu apain anak mama hah? jangan macam-macam kamu!" Lucia terus memukulkan bantal ke tubuh Megan.


"Dasar mesum kamu."


"Ma ... ma ... aku ngak ngapa-ngapain Bella, beneran, tadi kami kepeleset karena lantainya licin," terang Megan sembari terus menghindar.


Sesungguhnya Megan sudah tidak tahan lagi, karena ada bagian tubuhnya yang terasa sangat sakit.


Megan reflek menutup kepalanya untuk menghindari pukulan sang mama, dan Lucia beralih memukul tubuh Megan yang lain.

__ADS_1


Melihat aksi ibu dan anak itu, Bellapun terkekeh melihatnya.


"Kenapa tertawa?"


Bella langsung terdiam dengan tangan menutup mulut karena mendapat pelototan dari sang mama.


"Upss." Tapi Bella tau, bahwa Lucia tidak benar-benar marah.


Merasa mendapat kesempatan, Megan melarikan diri, dia kembali memasuki kam mandi.


Dia merasa kewalahan juga menghadapi sang ibu, bukan apa, tangan sebelahnya menahan pukulan Lucia, sebelahnya lagi memegang handuk di pinggangnya agar tidak melorot.


Tapi ada satu hal yang tidak diketahui siapapun. Megan kesakitan bukan karena dipukuli Lucia dengan bantal tapi karena sebuah tendangan yang tak disengaja dan juga tidak disadari.


Saat ini Megan sedang mengaduh kesakitan dengan muka memerah sambil tangannya memegang pusaka dari lahirnya.


"Duuuh ... Bella ini ngak hati-hati, sakit banget," gerutunya di dalam kamar mandi sambil mengusap-usap barang pusaka nya yang terasa sakit.


Ketika tadi mereka terkejut dengan kedatangan dan teriakan Lucia, tangan Bella reflek mendorong tubuh Megan, dan tanpa sadar, kakinya juga menendang kepunyaan Megan, itulah kenapa Megan sangat merasa kesakitan. Pasalnya, pusaka itu sangat sensitif dan tidak bisa dikasari, bener ngak?

__ADS_1


Sementara Bella masih memberi penjelasan pada sang ibu.


"Duuhhh maa ... tadi beneran Bella kepeleset, karena lantainya memang licin, gegara air yang menetes di rambut kak Megan." Bella menjelaskan kembali apa yang telah terjadi.


"Kalau ngak ada kak Megan, mungkin Bella udah jatuh kelantai," ungkap Bella dengan suara dibuat lirih agar mamanya simpati, setelah itu merangkul manja bagian samping tubuh Lucia kemudian mencium pipi sang mama. "Percaya deh sama Bella, kami ngak ngapa-ngapain kok."


"Iya ... mama percaya, yuk turun," ajak Lucia. Bella pun mengangguk dan mereka turun dengan Bella masih menempel manja di tubuh sang ibu.


"I love you mama sayang."


Sesampainya dibawah, Bella langsung pamitan sama Lucia, karena dia harus segera pulng ke rumah mama Tamara.


"Ya sudah, hati-hati dijalan, tadi udah dikasih tau sama si Megan itu kan?"


Bella tersenyum mendengar suara Lucia, seperti masih kesal sama anaknya, Megan.


"Aduh ... lupa ma, nanti aja deh Bella telpon, capek Bella balik lagi keatas," alasan Bella. Sebenarnya bukan karena capek kembali keatas, akan tetapi dia merasa malu untuk bertemu Megan jika mengingat kejadian yang terjadi pada mereka sa'at didalam kamar.


*****

__ADS_1


__ADS_2