(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
52. Kesedihan Di Hari Pernikahan


__ADS_3

"Kak Megan, kamu dimana? kenapa kamu biarkan adik mu ini dalam masalah seperti ini. Bukankah kakak sudah berjanji akan melindungi dan menjaga Bella?. Kakak, bukankah kamu mencintai Bella, mana buktinya, kenapa kamu biarkan Bella menikah dengan laki-laki yang sama sekali yang tidak Bella cintai?"


Air matanya telah jatuh membasahi pipi. Dengan segera dia mengambil Tissu, dan menghapus air bening itu.


"Nona kenapa? ada yang sakit?" tanya perias merasa khawatir pada Bella. Barangkali ada yang sakit akibat pakaian atau yang lainnya.


"Tidak Mbak, saya baik-baik saja." Dia mencoba tersenyum dalam tangisan hatinya.


"Apa Nona tidak menginginkan pernikahan ini, apa ada seseorang yang telah mengisi hati Nona" Pertanyaan Moana - sang perias, membuat Bella seketika menatapnya.


"Entahlah. Saya pun tidak mengerti dengan diri saya. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur, pernikahan ini sudah di depan mata."


Bella juga merasa heran dengan hatinya. Kenapa susah sekali dia membuka hati untuk yang lain, padahal dia sendiri juga belum memiliki kekasih.


Moana tau, air mata yang ia lihat di pipi Bella, bukanlah air mata bahagia seperti calon pengantin yang selama ini ia tangani.


Air mata itu merupakan Air mata kesedihan dan ketidak berdayaan.


"Jika memang Nona Bella tidak menginginkan pernikahan ini, kenapa Nona terima, kenapa tidak Nona tolak?" tanya Moana heran.


"Ini semua demi Mama dan almarhum Papa," jelas Bella.


"Kalau begitu, ikhlaskan semua ini. Semoga Nona mendapatkan kebahagiaan di pernikahan Nona ini."


Bella hanya mengangguk mendengar nasihat Moana. Dirinya belum yakin akan menemukan kebahagiaan di pernikahan yang akan dia jalani tanpa cinta ini.


Krek

__ADS_1


Bunyi pintu dibuka mengalihkan pandangan Bella dan Moana.


"Sudah siap, Sayang?" tanya Tamara mendekat.


"Sudah Ma."


"Ya sudah, ayo kebawah. Semua udah hadir, dan tinggal nunggu kamu aja lagi." Tamara menggandeng putri semata wayangnya yang sebentar lagi akan di miliki oleh orang lain, yaitu suaminya.


"Sebentar Nona." Cegah Moana.


"Ada apa Moana?" tanya Tamara.


"Ini." Moana mendekat kearah Bella, kemudian memperbaiki riasan diwajah Bella karena sempat menangis dan di usap wajahnya dengan Tissue.


"Nah ... sudah, sudah sangat cantik," ucap Moana mengacungkan jempol, kemudian kembali memasukkan alat Make-up nya ke dalam tas khusus alat kosmetik nya.


"Terimakasih, Moana."


*


*


*


Semua tamu undangan telah hadir, tidak terlalu banyak. Hanya beberapa kolega dan saudara dari calon pengantin pria dan saudara jauh Tamara.


Tak lupa juga keluarga Barnest. Nenek Bella yang sudah sembuh juga ikut hadir bersama suaminya - Aaron.

__ADS_1


Bella yang turun dan berjalan menuju tempat ijab kabul, menjadi pusat perhatian. Bukan hanya karena dia menjadi calon pengantin wanita, tetapi karena kecantikan dan keanggunan nya, serta kemewahan dan keindahan gaun yang ia pakai.


Calon suami Bella memandang takjub padanya. Putra tersenyum bahagia ke arah Bella, pandangannya tidak lepas dari Bella.


"Luar biasa cantiknya calon istri ku, tidak salah aku memutuskan mengakhiri masa lajang ku ini. Dia benar-benar cantik, semua perempuan yang pernah dekat dan tidur denganku, tak ada yang bisa menyamai apalagi menandingi kecantikan calon istri ku ini. Dan hal yang pasti aku yakini, dia masih pe***** dan sangat polos."


Bella duduk di sebelah calon suaminya di depan penghulu dan wali nikahnya. Dan di atas meja, telah tersedia berkas-berkas dan buku nikahnya.


"Baiklah ... Karena pengantin pria dan wanita sudah hadir, maka acara akan segera kita mulai."


Pembawa acara melakukan tugasnya, yaitu membaca dan memandu acara yang berlangsung.


Semua acara telah dilakukan, doa bersama, meminta restu kepada orang tua dan lain sebagainya.


Dan saat meminta restu pada sang Bunda, Bella semakin merasakan kesedihan, karena sang ayah tidak ada disana.


"Seharusnya Papa yang menikahkan aku."


Mereka berdua kembali pada meja ijab kabul.


"Baiklah ... tibalah saatnya kita pada acara sakral yang sudah kita nanti, yaituuu ijab kabul."


Pembawa acara kembali bicara, dan acara ijab kabul segera dilakukan.


Wali nikah Bella menjabat mengulurkan tangan, dan Putra menerima uluran tangn itu, mereka pun saling berjabat tangan.


"Azward Putra Hernandez, aku nikahkan engkau dengan -"

__ADS_1


"HENTIKAN!"


*****


__ADS_2