
"Barryyy ... Awaaaas ...! "
Megan begitu kaget melihat sebuah mobil yang tiba-tiba mengambil jalannya. Hampir saja mobil itu dan motor yang di kendarai Barry beradu.
Tapi, dengan gesitnya, Barry menghindari kendaraan yang mengambil jalannya itu. Kemudian kembali menyalip kendaraan lain.
"Gilanya kau Barry. Kalau tabrakan gimana, siapa yang akan menolong menghentikan pernikahan adikku," umpat Megan dalam hati. Yang di pikiran nya hanyalah Bella, adik tercinta sekaligus cintanya.
"Gila tuh orang, udah bosan hidup apa?" umpat seorang pengendara mobil yang di salip Barry
"Tau tuh, anak muda Zaman sekarang kelakuannya bikin geleng-geleng kepala," sahut istrinya. "Bahkan mati pun mereka seakan tidak takut," tambahnya lagi.
"Woaaaa ... Kereeen, kayak pembalap yang aku lihat di TV." Seorang anak berumur sekitar enam tahun yang duduk di bangku belakang mobil malah takjub dan gembira melihat aksi Barry yang menyalip mobil yang di kendarai Ayahnya
"Aku nanti juga pengen kayak gitu. keren banget," selorohnya lagi pada sang kakak.
"Hush ... kamu ini ngomong apa sih? masa orang ugal-ugalan gitu dibilang keren. Dan kamu ngak boleh jadi pembalap, kamu harus jadi pengusaha," sela sang Mama yang mendengar celotehan si anak.
"Mama ini, semua nya ngak boleh." Si anak malah cemberut.
"Ya kamu sih Dek, ngapain jadi pembalap kayak gitu. bawa kendaraan seperti itu hanya akan menimbulkan keresahan bagi pengendara lain. Kalau kecelakaan, bukan si pengendara ugal-ugalan yang akan menderita, orang lain juga akan celaka karenanya," terang sang kakak yang duduk di sebelah si adik, dia berkisaran umur dua belas tahun.
__ADS_1
"Huh ... Kakak sama aja kayak Mama ," sunggut nya kesal dengan melipat kedua tangan di dada dan memanyunkan bibirnya.
Si Kakak hanya tersenyum melihat ekspresi adik nya, di belainya rambut hitam sang adik, kemudian di kecup nya pipi gembil sang adik hingga membuat si adik tertawa karena geli.
***
Sudah beberapa jam mereka berkendara tanpa henti kecuali di lampu merah atau macet yang benar-benar tidak bisa di hindari. Dan sekarang mereka berhenti hanya untuk mengisi bahan bakar.
"Apa Tuan ingin istirahat dulu sebentar?" tanya Barry setelah mereka selesai mengisi bahan bakar, dan menepikan sejenak motor yang dikendarai nya di dekat pom bensin.
"Apa kamu capek?" ucap Megan, bukannya menjawab pertanyaan Barry, Megan malah bertanya balik.
"Menurut Tuan?" ingin rasanya Barry mengatakan kalimat itu, tapi terpaksa disimpan nya saja dalam hati, karena takut sang Tuan marah.
"Ya sudah. Kita istirahat di rumah makan itu." Tunjuk Megan pada salah satu rumah makan yang ada di dekat mereka berhenti, lebih tepatnya di seberang tempat mereka mengisi bahan bakar.
"Siap Tuan," sahut Barry begitu bersemangat ketika di tawarkan istirahat di rumah makan, pasalnya, cacing di perutnya sudah meronta-ronta minta dikasih makan.
Mereka berdua segera memasuki rumah makan setelah memarkirkan motornya.
"Kau ini ... sudah seperti orang yang tidak makan selama sebulan," ejek Megan melihat piring Barry penuh dengan makanan.
__ADS_1
"Hehe ... maaf Tuan, saya benar-benar lapar," sahut Barry.
"Ya sudah. Habiskan semuanya." Megan merasa kasihan melihat Barry, dia sebenarnya juga sadar, bahwa mereka belum sarapan, padahal hari sudah sangat siang.
Dia pun merasa bersalah pada sang asisten, karena selalu menolak untuk berhenti. Padahal sudah beberapa kali Barry menawarkan untuk berhenti, tapi dia tidak mau, karena takut tidak sempat menghentikan semuanya.
"Kalau kamu lapar, bilang dong."
"Saya tidak berani bilang langsung Tuan, tapi udah beberapa kali saya kasih kode. Tapi entah Tuan tidak paham atau pura-pura tidak paham," ucap Barry dengan mulut berisi makanan.
"Kamu kenapa jadi ngak sopan gitu, apa rasa lapar bisa menghilangkan rasa hormat seseorang?"
Mendengar teguran dari Tuannya, Barry langsung mengambil gelas berisi air, dan dengan segera dia menenggak nya, hingga makan yang ada di mulutnya tertelan bersama air.
"Maaf Tuan." Barry menunduk kan kepala, pertanda ia menyadari kesalahannya.
"Sudahlah. Habiskan makananmu, jangan sampai saya terlambat tiba di Bandung," perintah Megan mengingatkan.
"Baik, Tuan." Dia pun kembali menyantap makanannya, tapi tidak seperti semula, karena dia tidak tergesa-gesa lagi, apalagi sampai memasukkan makanan ke mulutnya dengan banyak.
Selesai menghabiskan makanan dan istirahat sejenak, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
*****