
"Pa, sepertinya masih ada yang selamat"
"Iya ma, ayo cepat!" Mereka pun bergegas mendekat kemobil, dan berusahamembuka pintunya, tapi pintu tidak dapat dibuka dari luar.
"Pecahkan saja kaca nya pa!" Ucap Lucia memberi saran.
"Iya, mama sama Megan mundur kebelakang dulu ya!"
Barnest celingak celinguk mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk memecahkan kaca, dan beruntung, dia menemukan sebuah batu yang lumayan besar
Bhuk, bhuk
Dua kali pukulan, akhirnya kaca mobil yang berada di bangku penumpang belakang sopirpun pecah.
Beruntung anak kecil yang menangis tersebut berada di bagian kiri, sehingga tidak terkena pecahan kaca.
Setelah melihat kondisi penumpang yang ada didalam, Barnest memutuskan menghubungi ambulance, karna tidak mungkin dia mengangkat mereka semua kedalam mobilnya, terlebih sang sopir terlihat terluka parah.
"ma, adeknya kita bawa aja! kasihan, dia sendirian, mama sama papanya tidak sadarkan diri!" Ucap Megan kala itu, dia yang masih remaja itu sangat tertarik dengan gadis kecil yang sedang menangis tersebut utuk dijadikannya adik.
Barnest dan Lucia sesa'at saling pandang, dan akhirnya Barnestpun mengangguk.
"Baiklah, kita bawa dia kemobil kita, dan orang tuanya dimobil ambulance"
Tak berselang lama, mobil Ambulance pun datang, para tim medis segera mengangkat kedua korban kedalam ambulance, dan melaju dengan kecepatan tinggi, mobil Barnest pun mengikuti dibelakang.
para dokter dan suster, mereka segera melakukan tindakan terhadap para pasien, termasuk sikecil, untuk memastikan ada atau tidaknya luka yang dialaminya baik di luar maupun didalam tubuhnya.
Beruntungnya dia tidak terluka parah, hanya sedikit luka di bagian kening akibat benturan kekursi penumpang, dan perban kecilpun dipasang dikeningnya.
"Ma'af, apa anda keluarga pasien?" Tanya dokter pada Barnest sa'at dia keluar dari ruang tindakan.
"Bukan dok, tapi saya yang menemukan korban"
"satu korban tidak tertolong lagi, sepertinya dia meninggal ditempat kejadian" Ucap dokter "dan satu lagi kritis, kami memerlukan izin keluarga untuk melakukan operasi pada kakinya"
Barnest pun terdiam, dia bukan keluarga pasien, dan dia tidak tahu harus menghubungi siapa
"Bagaimana ini?" gumamnya.
"Segera saja lakukan tindakan yang terbaik untuk korban dokter!" Barnest merasa khawatir dengan si korban apabila tidak lansung sitangani.
"Saya akan mempertanggung jawabkan semuanya, termasuk biayanya"
__ADS_1
"Baik, silakan urus semua administrasi nya!"
Barnest segera melakukan apa yang di ucapkan sang dokter. Setelah semua selesai, para tenaga kesehatanpun segera melakukan tindakan operasi pada korban.
Dan Barnestpun melangkah menuju ruangan dimana istri dan anaknya berada, yaitu UGD, mereka masih disana setelah melakukan pemeriksaan pada anak korban.
"Bagaimana pa?" Tanya Lucia sa'at melihat suaminya memasuki ruangan.
"Tidak apa-apa ma, bisa kita bicara sebentar?"
Ucap Barnest merangkul pundak sang istri. Lucia pun mengangguk.
Lucia yang mengerti dengan situasi dan kondisi, melangkah keluar diikuti sang suami, sedangkan Megan menemani si kecil yang sudak mulai akrab dengannya.
"Pengemudinya tidak tertolong lagi, sedangkan yang perempuan sedang menjalani operasi!" Ucap Barnest kemudian menghirup nafas panjang dan kemudian menghembuskan nya perlahan.
"Papa terpaksa menandatangani surat pernyataan petanggung jawaban, kita tidak tau keluarganya, akan membutuh waktu lama jika harus mencari dulu keluarga nya, kasihan dia, semoga bisa tertolong"
"Iya pa, semoga ibunya Bella bisa deselamatkan, kasihan kalau harus kehilangan kedua orang tuanya, dia masih kecil" Ucap Lucia, mereka sedang duduk di kursi tunggu di luar ruangan.
"Bella?" Barnest mengernyitkan alis nya, pertanda ia tak mengerti.
"Iya pa, nama anak itu Bella, mama suka sekali sama dia, dia anak pintar, dan mudah menyesuaikan diri" Lucia tersenyum, detik kemudian dia menunduk, kemudian terisak, membuat sang suami heran.
"Mama kangen Aurora pa" Lucia akhirnya menangis di pundak sang suami "Bella mengingat kan mama sama Aurora, dia sangat manis seperti anak kita, mereka memiliki kemiripan pa"
Barnest mengusap-usap lembut kepala Lucia, mencoba menenangkannya.
"Bagaimana kalau kita adopsi aja Bella pa? siapa yang akan menjaganya pa? ayahnya sudah meninggal, ibunya juga kritis" Ucap Lucia sesa'at setelah menegakkan kepalanya.
Barnest menghela nafas, melihat keceriaan di wajah sang istri, dia tidak tega untuk menolak keinginan istrinya.
"Terserah mama aja lah!" Lucia pun tersenyum. Merekapun kembali memasuki ruangan.
"Bella sayang, kita pulang dulu yuk!" Ajak Lucia sa'at dia dan suami telah berada disisi ranjang Bella.
"Pulang kemana tante? papa sama mama Bella dimana?" tanya Bella polos, Barnest dan Lucia pun saling pandang.
"papa sama mama Bella lagi diobatin sama dokter" Lucia membelai rambut Bella. "Bella pulang kerumah kak Megan dulu ya! disana Bella bisa main lagi sama kak Megan, kalau disini, nanti dokternya datang, trus Bella disuntik, apa Bella mau disuntik? Berbagai macam bujuk rayu dilakukan Lucia, akhirnya Bella pun mau di ajak kerumah keluarga Barnest.
karena tidak di ketahui siapa keluarganya, akhirnya korban yang meninggalpun dimakamkan di TPU dekat rumah sakit itu, sedangkan Tamara, yang tak lain adalah ibunya Bella belum juga sadar dari komanya.
Sudah tiga hari Tamara dirawat, namun tetap tak ada perkembangan, selama tiga hari juga, Barnest selalu mengunjunginya dan menanyai keadaan Tamara pada dokter yang menanganinya.
__ADS_1
"Masih belum ada perkembangan tuan, saya tidak yakin, apakah nyonya Tamara bisa bertahan" Ucap dokter diakhiri hembusan nafas berat. Barnest pun hanya mengangguk kan kepala, tak tau juga apa yang harus dikatakannya.
"Tuan!" Sa'at akan melangkahkan kaki, dokter kembali menoleh pada Barnest.
"Ya dokter?"
"Tadi pagi ada keluarga nyonya Tamara yang datang, bersama dengan seseorang, sepertinya itu orang kepercayaan nyonya Tamara dan suaminya".
"Orang kepercayaan itu menanyakan keberadaan putri tuan mereka, dan saya katakan, dibawa orang yang menyelamatkan nyonya Tamara, saya juga mengatakan kalau anda akan kembali lagi kesini untuk memantau perkembangan nyonya mereka".
"Baik dok, kapan dia akan kesini lagi?" Tanya Barnest, dengan perasaan yang entahlah.
Sesa'at Barnestteringat dengan istrinya, semenjak kehadiran Bella, Lucia lebih ceria dan bersemangat menjalani hidupnya, apa jadinya, jika Bella dibawa oleh keluarga nya.
"Mungkin sebentar lagi tuan, saya telah memberi tahukan jam kunjungan tuan pada mereka"
"Baik, terima kasih dokter" Dokter meninggalkan Barnest yang masih dilanda kekhawatiran.
"Tuan Barnest?" Seseorang mengagetkan Barnest yang sedang duduk termenung, membuat Barnest menatap orang tersebut.
"Iya" ucap Barnest setelah berdiri dari duduknya.
"Saya Zico, tangan kanan nyonya Tamara dan almarhum suaminya" Ucap Zico mengulurkan tangan dan disambut oleh Barnest.
"Terimakasih sudah menyelamatkan nyonya saya, meskipun... beliau masih belum sadar sampai sa'at ini!"
"Iya, saya tidak tau dengan keluarga nyonya Tamara, jadi saya terpaksa menandatangani surat pernyataan yang diberikan dokter, agar dokter segera melakukan tindakan operasi terhadap beliau" Ucap Barnest "kami telah memeriksa handphone mereka, tapi kedua handphone nya ternyata sudah hancur"
"Tidak masalah tuan Barnest, justru kalau tidak ada tuan, mungkin nyonya saya sudah kehilangan nyawanya" Zico menunduk merasa sedih karena musibah yang menimpa keluarga majikannya, Tamara dan suaminya sudah menganggap Ziko sebagai keluarga mereka.
Barnest pun menepuk pundak zico, sekarang mereka sudah duduk dikursi, setelah sebelumnya berbicara sambil berdiri, membuat Zico menyeka sudut matanya kemudian tersenyum dan menoleh menatap Barnest.
"Saya sangat sedih, mereka orang baik, mereka sudah seperti keluarga bagi saya, mereka juga memperlakukan saya dengan baik" Barnest hanya mengangguk.
"Kami akan mengganti semua biaya yang telah tuan Barnest keluarkan, untuk membiayai nnyonya Tamara beserta almarhum suaminya"
"Tidak perlu, saya ikhlas" Sela Barnest cepat.
"Baiklah kalau begitu" Zico memandang Barnest.
" Oh ya tuan, kedatangan saya kesini, selain ingin mengucapkan terima kasih, saya juga ingin menjemput nona Bella, anaknya nyonya Tamara"
"Dokter yang menangani nyonya saya bilang, kalau nona Bella dibawa oleh anda untuk sementara, bukankah begitu?"
__ADS_1
*****