
"Kamu licik, dan seorang penjahat, kamu ingin membunuh seorang perempuan yang tak tahu apa-apa" Tatapan sangat mengintimidasi sa'at bicara, membuat tuan Takana merasakan badannya sedikit gemetar.
"Apa kamu tau siapa yang ingin kamu bunuh itu?" Tanyanya "Dia adalah adikku"
Tuan Takana benar-benar dibuat terkejut olehnya, kenapa perempuan yang ingin dia lenyapkan adiknya Megan.
"Kenapa jadi begini? apa mereka salah sasaran?" batin tuan Takan merasa heran.
"Aku tidak tahu apa masalahmu dengan adikku, bukan tidak tahu, tapi belum tahu" ralatnya.
"Ma'af tuan Megan, sepertinya anda salah paham, saya tidak pernah ingin menyakiti apalagi sampai ingin membunuh tuan Megan, itu bukan tipe saya."
"Oh ya?" Megan semakin menatap tajam, sehingga yang lain tidak berani untuk buka suara.
"Be-benar tuan Megan" Dia benar-benar gugup dengan tatapan Megan.
sayang sekali, saya tidak percaya dengan omongan besar mu dan mulut busuk mu itu. Satu hal yang harus kamu ingat , tuan berdarah dingin." Megan yang benar-benar merasa kesal dengan tuan takana. Dia mengganti panggilan lelaki di hadapannya dengan nama yang sedikit menyindir.
"Jika terjadi lagi hal seperti itu, maka kamu akan berhadapan dengan saya. Saya akan membinasakanmu dan menghancurkan seluruh orang- orang yang kau cintai sampai semua binasa." Ancam tuan Megan kepada tuan Takana dengan tatapan tajamnya seperti seorang pembunuh berdarah dingin.
Tuan Takana sa'at ini bukan lagi gugup, tapi sudah ketakutan, karena dia tahu,Megan tak pernah main-main dengan ucapannya, itu jugalah yang membuat pengusaha lain tidak ingin berbuat masalah dengannya.
"Silahkan anda keluar dari ruangan saya!" Tanpa basa basi, Megan mengusir tuan Takana dari hadapan nya, juga dari kantor nya, semuanya membubarkan diri kecuali Barry, orang-orang nya tuan Takana segera meninggalkan kantor tanpa bicara apapapun lagi.
"Sialan, kenapa jadi seperti ini sih, ini mereka yang tolol apa gimana sih? kenapa adiknya si Megan yang kena sasaran?" Batin nya mengumpat kesal sa'at dia berada didalam lift menuju lantai bawah.
Setelah sampai dilantai bawah, Takana langsung memasuki mobilnya, kemudian menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Kalian ini kenapa tolol sekali sih, kenapa kalian sampai salah sasaran?" makinya sa'at telepon terhubung.
"Ma'af tuan, saya tidak mengerti apa maksud tuan," jawabnya sedikit takut.
"Kenapa kalian malah mencelakai adiknya Megan? kalian tau, keluarga mereka keluara terkaya, dan juga kakek nya Megan mantan mafia, kalian tahu kan, apa akibatnya jika berurusan dengan mereka hah?"
"Tapi benar tuan, saya tidak berbohong, kami tidak salah sasaran, orang yang kami targetkan memang sesuai dengan data yang tuan berikan pada kami, kami tidak mungkin salah tuan." Bela seseorang yang ada di seberang sana, sambunganpun diputus tuan Takan dengan kesalnya.
"Kenapa si Bella bisa jadi adiknya Megan? apa jangan-jangan, keluarga Stewart telah mengangkat nya jadi anak mereka? ah sialan kalau begini, aku tidak akan bisa menyingkirkan nya, karena aku juga tidak mau berurusan dengan keluarga itu." Tuan Takana bergumam sediri.
"Kenapa belum jalan?" tanyanya pada sang sopir karena dari tadi mobil tidak juga melaju, bahkan mesin saja belum nyala.
"Ma'af tuan, saya menunggu perintah tuan, siapa tau, tuan masih ada keperluan disini."
"Dasal bodoh, cepat jalan! aku tidak ada lagi keperluan disini." Tuan takana dibuat kesal oleh sopir nya.
Sang sopir langsung menyalakan mesin dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sedangkan tuan Takana hanya diam tak berbicara sepatah katapun. Kini tuan Takana hanya memikirkan omongan tuan Megan yang telah mengintimidasi nya.di ruang rapat tadi.
***
Sementara itu, Megan terusberusaha mengatur emosinya, sebenarnya ia ingin sekali memukul wajah si Takana itu, bahakan ingin membunuhnya detik itu juga, tapi melihat banyaknya orang, dia mengurungkan niatnya, karena diapun tak ingin berurusan dengan kepolisian dan juga tidak ingin reputasinya jadi jatuh dimata orang lain.
"Ma'af tuan, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Barry takut-takut, tapi dia juga penasaran, kenapa tuannya membatalkan kesepakatan itu, padahal keuntungan sangat besar.
"Apa kamu tidak mendengar apa yang saya ucapkan tadi?" tanya Megan
"Dengar tuan, tapi yang saya tidak mengerti, kenapa tuan Takana ingin mencelakai bahkan berniat membunuh nona Bella?" Meskipun ragu, Barry tetap memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
"Ck, kamu tau, cuma kamu yang berani mengajak saya bicara, disa'at saya masih merasakan amarah" Meskipun kesal, Megan sebenarnya tidak bisa benar-benar marah pada Barry, karena sesungguhnya Megan sudah menganggapnya sebagai adik sekaligus temannya.
Dan Hanya Barry lah yang berani bersikap sedikit nyeleneh kepadanya selain adiknya, yaitu Bella.
"Hehe, ma'af tuan, saya benar-benar ingin tau." Melihat tuannya tidak lagi semarah tadi, membuat Barry sedikit lega dan tidak merasakan canggung seperti tadi.
"Hah, sebenarnya saya juga tidak tau, apa motifnya si Takana itu mencelakai adik saya, tapi anak buah saya masih terus menyelidikinya," ucap Megan menghempaskan bokongnya di kursi kerjanya. Meskipun cuek, tapi Megan tetap menjawab pertanyaan Barry.
"Tapi sepertinya, tuan Takana tidak akan mengganggu nona Bella lagi, dilihat dari raut ketakutan di wajahnya." Barry mencoba menenangkan tuannya.
"Yah semoga saja, dan kalau dia masih melanjutkan aksinya, dan terjadi yang tidak-tidak dengan adik saya, saya sendiri yang akan mengakhiri hidupnya." Amarah Megan kembali memuncak, tapi dia mencoba mengatur emosinya.
Barry hanya mengangguk mendengar ucapan Megan, dia tidak lagi bertanya.
***
Sementara Bella, dia benar-benar merasa bosan, sudah beberapa hari ini dia tidak boleh keluar, termasuk pergi kuliah, orang tuanya sangat mencemaskannya.
Tapi karena desakan Bella yang ingin kuliah dan mengatan bosan dirumah, akhirnya Barnest dan Lucia serta nenek dan kakeknya mengizinkan Bella pergi kuliah, tentu dengan tambahan dua pengawal lagi, tapi laki-laki, dan semuanya itu orang kepercayaan Aaron, kakeknya Bella.
"Hati-hati, gunakanlah insting mu, bukankah kamu sudah belajar bela diri dari remaja, gunakan itu!" ucap Barnest pada anaknya.
"Iya papa, kan sudah ada tiga pengawal, udah kayak ratu aja nih Bella," sahut Bella sembari menyalami penghuni rumah itu, tidak termasuk pelayan nya yah.
"Iya, tapi kamu tetap harus waspada ya!" Lucia kembali mengingatkan, karena ia benar-benar merasa khawatir dengan keselamatan Bella, tapi dia juga tidak bisa terus mengurung Bella dirumah, karena Bella akan segera menyelesaikan pendidikannya.
*****
__ADS_1