(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
45. Ke Dealer Motor


__ADS_3

"Ada apa Tuan?" tanya Barry setelah motor kembali normal berdiri ke posisi semula.


"Kita pake motor ini saja kembali ke Bandung."


"APA?" teriak Barry begitu terkejut. Bagaimana mungkin mereka akan kembali dengan motor butut dan berisik itu.


Plak


Akhirnya kepala Barry mendapatkan pukulan juga dari Megan, karena tadi dia sempat membuka helmnya.


"Aduuuh." Dia meringis sambil mengusap-usap kepalanya.


"Ngak usah teriak-teriak. Kamu pikir telinga saya tidak cukup budeg gara-gara motor ini, jangan kau tambah lagi."


"Iya Tuan, maaf. Ucapan Tuan membuat saya terkejut. Bagaimana mungkin kita Ke Bandung menggunakan motor ini Tuan?"


"Kenapa tidak mungkin? memang nya ada apa?" tanya Megan sedikit kesal.


"Maaf sebelumnya tuan. Selain motor ini butut, dan pasti akan menjadi pusat perhatian orang-orang ... "


"Memang nya apa masalahnya jika jadi pusat perhatian. Jangan biasakan menghiraukan omongan orang lain, itu prinsip orang sukses."


"Bukan begitu maksud saya Tuan. Makanya Tuan tolong dengarkan penjelasan saya dulu."


"Ya cepatan!"


"Jadi begini Tuan ... motor ini kurang sehat, maksud saya kurang terawat, takutnya di jalan malah rusak. Dan juga motor nya tidak memiliki surat-surat, STNK nya tidak ada, BPKB nya apa lagi," terang Barry.


"Apa? tidak ada surat-surat?" Megan malah terkejut mendengar nya. "Kenapa sampai tidak ada surat-surat nya?"


"Ya saya tidak tau Tuan, coba tanya sama pemilik motor ini."

__ADS_1


Megan mengangkat tangannya hendak memukul kembali kepala Barry. Dan Barry reflek mundur sebelum tangan kekar itu kembali mendarat di kepalanya.


"Maaf Tuan, saya bercanda. menurut saya, untuk apa penduduk di Pulau sana memiliki surat-surat motor, yang mereka butuhkan hanyalah motor mereka menyala dan bisa berjalan. Mereka tidak butuh surat-surat itu, tidak ada gunanya bagi mereka, mereka berkendara hanya di pulau sampai perbatasan ini, dan di daerah mereka tidak ada razia kendaraan," terang Barry membuat Megan mengangguk.


"Ya sudah ... Sekarang kita ke dealer motor, lebih baik kita pake motor, kalau pake mobil akan memakan waktu lama, dan saya tidak ingin semuanya terlambat."


"Baik Tuan. Tapi kita pake apa ke dealer nya."


"Ya pake ini aja lah."


"Takutnya di depan ada polisi patroli Tuan," jelas Barry.


"Biarkan saja. Jika kita terkena razia, berikan saja motor butut ini."


"Baik Tuan."


Mereka kembali menaiki motor berisik yang mereka bilang butut itu. Dengan keahliannya, Barry menyalip beberapa kendaraan, hingga mereka sampai di dealer dengan cepat.


Sementara motor butut pinjaman, mereka taruh di bengkel untuk diservis, karena salah satu remnya tidak berfungsi, yaitu rem belakang. Dan juga ban nya sudah sangat tipis dan juga licin.


"Tolong perbaiki semuanya," ucap Barry agar motor butut itu kembali layak digunakan.


"Beres Pak," sahut tukang bengkel.


"Tolong beritahu saya berapa biaya nya," ucap Barry memberikan kartu namanya.


"Assiap paak," sahut si tukang bengkel menirukan gaya bicara seorang artis papan atas, eh ... YouTuber ya. Entahlah, ya pokoknya itulah.


"Saya permisi Pak." Pamit Barry meninggalkan bengkel itu.


"Silahkan Pak."

__ADS_1


"Cepetan! lama amat, kayak emak-emak pergi ke warung kamu, pergi pagi, pulang tengah hari," Sunggut Megan.


"Tuan juga ... kayak perempuan lagi datang bulan aja, marah-marah aja kerjaannya."


"Ampun Tuan. Jangan pukul lagi kepala saya, nanti eror gimana, ngak bisa lagi saya mengerjakan pekerjaan saya."


"Kalau kamu sudah tidak mampu, saya tinggal cari yang lain lagi."


"Ya jangan dong Tuan. Nanti siapa yang akan me ... "


"Udah ... cepet, jangan curhat mulu kamu."


"Iya ... iya Tuan."


Mereka akhirnya kembali menaiki kuda besi berkaki dua, tapi tentu saja sangat berbeda dengan yang tadi mereka naiki.


Motor yang mereka gunakan keluaran terbaru, dan kecepatannya sangat jauh dari yang tadi.


"Pegangan yang kuat Tuan," seru Barry ketika dia hendak melakukan motor itu dengan kecepatan maksimal.


Megan pun dengan patuh memegang kuat pundak Barry, motor pun melaju bak kilat.


"Buset, gila juga nih anak bawa motor," batin Megan mengagumi keahlian dan kegilaan sang asisten dalam mengendarai sepeda motor.


"Tuan sepertinya sedikit merasa tahut, hihihi," Barry menertawakan Megan di dalam hatinya.


Barry malah semakin senang mengerjai Megan. Dia salip kendaraan lain dengan lincah, bahkan hanya sedikit ruang yang tersisa antara kendaraan satu dengan kendaraan lain yang berlawanan arah, Barry tetap melalui dengan lincahnya.


Namun, saat hendak memasuki kembali jalurnya, sebuah mobil mengambil jalannya.


"Barryyy ... Awaaaas ... "

__ADS_1


*****


__ADS_2