
"Barry ... berapa lama lagi pembangunan nya selesai?" tanya Megan saat mereka sudah berada di sebuah rumah tempat mereka tinggal sementara selama di Pulau.
Rumah tersebut merupakan sebuah rumah milik seorang warga yang sudah lansia, yang mana dirinya tinggal sendiri di sana.
Semenjak kedatangan Megan, si nenek memilih tinggal bersama anaknya yang berada tidak jauh dari tempat tinggal itu. Dan rumahnya disewakan kepada Megan dan rekan nya.
Barry bergegas mengambil notebook nya, kemudian menggeser-geser layarnya dengan telunjuk, seperti nya ia sedang mencari sesuatu di sana.
"Paling lama empat bulan lagi Tuan. Ada apa Tuan, saya lihat akhir-akhir ini anda sering melamun."
"Ah ... jangan sok tau kamu."
"Ngapain sih buru-buru pulang tuan? kan dirumah ngak akan ada juga yang merindukan tuan." Seperti biasa, Barry terkadang memang suka ceplas-ceplos pada Tuan nya. Dan seperti biasa juga Megan tidak akan mengambil hati ucapan sekretaris nya itu.
Plak
"Aduuuuhhh ... saya salah apa Tuan. Kan memang benar yang saya bilang. Makanya Tuan cepetan menikah, biar kalau lagi jauh ada yang di rindukan, dan kalau pulang ada yang menyambut dengan penuh kerinduan juga," ucap nya lagi tanpa dosa.
Dia mengusap-usap kepalanya yang di pukul oleh Megan dengan sebuah map.
"Jangan sampai keduluan sama saya Tuan." Candanya membuat Megan kembali menoleh padanya.
"Memang kamu sudah punya pacar? eh ngak ... pertanyaan nya di ganti, memangnya ada yang mau sama kamu?"
"Ya pastilah Tuan, secara kan saya ini tampan. Kaya lagi." Setelah mengatakan kaya, Barry malah terkekeh. Kemudian menutup mulutnya karena mendapat pelototan dari Megan.
"Hehehe ... saya kan emang kaya Tuan. Saya turun naik mobil mewah. Kemana-mana saya selalu menaiki mobil, ya ... walau pun mobil nya bukan punya saya, hahaha ... "
Megan tidak mengubris omongan Barry, dia hanya memberi kan sedikit senyuman, kemudian kembali menatap keluar jendela, sepertinya hujan akan turun, dan itu sudah sangat berarti bagi Barry.
Kekonyalan yang di ucapkan Barry sebenarnya memang ingin membuat tuan nya sedikit terhibur, dan usahanya berhasil, tapi hanya berlangsung sesat, setelah itu Megan terlihat kembali bermenung.
"Maaf Tuan, sebenarnya apa yang Tuan pikirkan?" tanya nya lagi penasaran.
__ADS_1
"Saya hanya sedang merindukan adik saya, saya merasa dia seperti ada dalam sebuah masalah," ungkap nya jujur.
"Oh merindukan Nona Bella. Saya pikir ada masalah lain." Akhirnya dia mengetahui alasan kenapa Tuannya bermenung.
"Eh Tuan ... sepertinya para gadis disini menyukai Tuan. Tadi saya juga mendengar obrolan mereka jika mereka sangat menyukai tuan. Menurut saya, lebih baik gadis desa di jadikan istri tuan, karena mereka sepertinya masih sangat polos. Apa sebaik nya Tuan coba mendekati mereka, barangkali ada yang nyangkut di hati Tuan."
Barry berbicara panjang lebar, tapi dia tidak menyadari bahwa sang majikan sedang memelototi nya dan dengan raut muka yang menahan marah.
Megan memandang ke arah Barry. Dan sang Asisten pun melangkah mundur.
"Gawat," batin Barry menyadari tatapan Tuan nya. Sepertinya akan ada sesuatu.
Dan benar saja, Megan berdiri dari duduk nya, kemudian melangkah mendekati sang Asisten, tapi Barry semakin melangkah mundur.
"Memangnya semua gadis kota tidak begitu maksud kamu hah? lalu kamu anggap apa adik ku hah?" ucap Megan dengan suara dan tatapan mematikannya.
"Ampun Tuan. Saya cuma bercanda, dan bukan begitu maksud saya," ucapnya dengan kedua telapak tangan yang di satukan dan kaki tetap melangkah mundur.
"Jadi apa maksud kamu?"
"Maksud saya apa? cepat jawab!"
Barry terus melangkah kan kakinya mundur.
"Sini kamu! Sepertinya mulut mu itu harus di kasih pelajaran, agar bisa diam dan tidak sembarang bicara."
Barry tau, Megan memang paling tidak suka di jodohkan seperti itu dan juga membahas tentang perempuan, terlebih sampai menyinggung sang adik tercinta. Dan niat hati Barry hanya bercanda, tapi tadi dia lupa akan hal itu.
"Sini kamu! atau kamu saya pecat!" ancam Megan.
"Jangan Tuan. Kalau saya di pecat, siapa yang akan menafkahi ibu dan adik saya? Hanya saya harapan mereka. Tuan kan juga Tau kalau ayah saya meninggal satu tahun lalu," ungkap Barry memelas.
"Udah tau begitu keadaan kamu, bukannya berlaku sopan, kamu malah seperti perempuan. Harusnya kamu menjaga sikap." Mereka terus melangkah. Dan akhirnya Barry telah berada di luar rumah, dan kebetulan hujan pun telah turun.
__ADS_1
Senyum mengerikan terhias di bibir Megan.
"Kembali kamu! atau push up tiga ratus kali!" Perintah Megan memberi pilihan.
Soal di pecat, Megan tidak akan memecat Barry seperti ancaman nya, karena Barry orang yang sangat dapat di percaya dan di andalkan, dan juga bisa menjadi teman bagi Megan.
Barry sedikit berfikir, menimbang keputusan apa yang akan dia ambil. Jika push up, tentu dia akan basah kuyup, karena Megan pasti menyuruh melakukannya di luar.
Tapi jika mendekat, maka giginya akan menjadi taruhan.
"Sa - saya ... lebih baik ... " ucapan nya terputus, tapi kakinya melangkah mendekat. Melihat hal itu Megan semakin tersenyum misterius.
"Saya pilih push up saja Tuan," ucap Barry menghentikan langkahnya mendekat.
"Pilihan bagus! cepat laksanakan!" tegas Megan melangkah masuk mengambil sebuah kursi dan kembali lagi, kemudian meletakkan nya di dekat pintu. Menyaksikan penyiksaan sang Asisten yang menurut nya udah seperti Lambe Turah.
"Aduh ... di awasin lagi. ngapain pake di awasin sih, kalau kayak gini kan aku ngak bisa bohong dong," hati Barry menggerutu.
"Jangan curang! Dan jangan harap kamu bisa mencurangi saya!" Teriak Megan sambil duduk menyilang kan kedua kakinya dan juga menyilang kan kedua tangannya, sementara punggung kekar itu ia sandarkan pada sandaran kursi.
"Iya."
"Iya apa? bicara sama hujan kamu?" bentak Megan lagi.
"Iya Tuan ku." Kemudian dia melangkah ke halaman, setelah itu melaksanakan hukumannya.
"Hiburan yang bagus. bisa sejenak melupakan rindu ini," gumam Megan memandang pertunjukan di bawah guyuran hujan di luar sana.
"Bella ... tunggu kakak, jaga hati dan ragamu, jangan kamu berikan pada siapapun. Kakak akan datang melamarmu. Semoga semuanya cepat selesai, agar kakak dapat segera mempersuntingmu. Tunggu kakak," batin Megan mengingat wajah manis sang adik.
Senyuman Bella selalu bisa bikin Megan luluh, hingga mengingat senyuman itu saja sudah membuat Megan senyum-senyum sendiri.
"Ini nih ... efek kelamaan melajang, jadi stres kan," Gumam Barry.
__ADS_1
Dia yang masih menjalani hukuman di bawah derasnya hujan, merasa kesal melihat sang tuan tersenyum, dia berfikir bahwa Megan tersenyum karena senang melihat penderitaan nya, padahal sama sekali bukan begitu.
***