(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
13. Big Ban


__ADS_3

"Dokter yang menangani nyonya saya bilang, kalau nona Bella dibawa oleh anda untuk sementara, bukankah begitu?"


"I-iya, betul"


"Dimanakah nona Bella sekarang tuan? apa saya bisa menjemputnya sekarang?" Tanya Zico tersenyum.


"Dia ada dirumah, bersama istri saya" Barnest terlihat berfikir.


"Ma'af tuan, apa boleh Bella tinggal bersama kami untuk sementara wantu? setidaknya sampai ibunya sadar, istri saya sangat menyayanginya, hadirnya Bella memberi semangat untuk hidupnya setelah kepergian putri kecil kami untuk selamanya"


Zico terlihat berfikir, kalu dia membawa Bella kembali, siapa yang akan merawatnya, neneknya tidak akan mau merawatnya, sedangkan bersama Barnest, dia akan tetap mendapatkan kasih sayang.


Melihat Zico termenung, Barnest merogoh saku jasnya "Ini kartu nama saya, jika nyonya Tamara sudah siuman, anda bisa menghubungi atau langsung menemui saya!" Barnest menyodorkan kartu namanya dan diterima oleh Zico.


"Baiklah, mungkin untuk sementara, biarlah nona Bella bersama keluarga anda dulu, tolong jaga dia dengan baik"


Mendengar itu,Barnestmerasa sangat senang, karna istrinya masih ada waktu bersama Bella.


"Baik tuan, kami akan menjaganya dengan baik"


"Tapi untuk sekarang, bolehkah saya melihatnya keadaan nona Bella tuan?"


"Iya, tentu saya"


Mereka pun menuju rumah Barnest, benar saja, Bella terlihat sangat akrab dengan Megan dan Lucia, mereka pun berbincang sementara, setelahnya Zico pamit pulang.


Diperjalanan, tanpa diduga, sebuah truk besar tiba-tiba melaju kencang tak beraturan, tanpa sempat menghindar, mobil yang dikendarai Zico pun tertabrak, dan terpelanting beberapa meter.


Setelah beberapa sa'at, orang-orang pun berdatangan untuk menolong, Zico pun dibawa kerumah sakit terdekat dengan tubuh penuh luka bakar juga luka karna benturan, sayangnya, nyawanya tidak tertolong karna kehabisan banyak darah.


***


"Bapaaakk..." Seorang pemuda menangis histeris ketika jenazah ayahnya dibawa pulang oleh ambulance, dia adalah Jefry, anaknya Zico yang masih berumur lebih kurang dua puluh satu tahun kala itu.


Setelah kematian sang ayah, maka Jefry lah yang menggantikan pekerjaan ayahnya, Jeffry sudah tamat kuliah, juga sudah dari dulu diajarkan cara kerja sang ayah, agar suatu hari bisa menggantikan pekerjaan ayah nya, sayangnya, Zico tak sempat menceritakan keberadaan anak majikan mereka tersebut.

__ADS_1


Sudah tiga bulan Tamara berbaring dikasur rumah sakit, dan belum juga ada perkembangan, tapi Jefry tetap setia pada majikannya, dia juga yang menjalani perusahaan sang majikan untuk sa'at itu.


Mungkin karna capek tidur terus, akhirnya di bulan kelima, Tamara tersadar dari tidur panjangnya, dia sempat syok dengan keadaannya sa'at itu, juga syok mendengar kabar suaminya sudah meninggal dan anaknya hilang, serta orang kepercayaan nya pun juga sudah meninggal.


"Jefry, apa Zico mengatakan keberadaan anak saya? apa dia ada menitip pesan padamu?" tanya Tamara waktu itu, dia sudah bisa duduk.


"Tidak nyonya, bapak tidak ada mengatakan apapun, juga tidak ada pesan yang ditinggalkan beliau"


karna mobil yang dikendarai Zico sempat meledak, maka semua yang ada didalam mobil pun terbakar, termasuk kartu nama yang diberikan Barnest.


"Tolong cari anak saya sampai ketemu!"


"Baik nyonya?" Jefry pun keluar dan segera menghubungi rekanya yang lain, mereka adalah bawahan ayahnya Jefry dan selama ini mereka sangat patuh, begitupun sekarang.


"Bella, kamu dimana sayang? jangan tinggalin mama naak, mama sendirian sayang" Tamara pun terisak sendirian di ruang rawat.


Karna tidak ada jejak, orang-orang Jeffry pun tidak dapat menemukan Bella, mereka lupa untuk menanyakan ke pihak rumah sakit, tentang orang yang pernah menolong nyonya mereka.


Sementara yang mereka cari, Bella, dia sudah tidak lagi tinggal di tanah air, tiga bulan setelah kecelakaan itu, Barnest dan keluarga pindak ke Inggris atas perintah orang tuanya untuk menjalankan bisnis keluarga disana.


Karna mendapatkan keluarga yang hangat, dan begitu menyayanginya, Bella yang masih beliapun melupakan orang tua kandungnya, dan mimpi buruk yang selama ini mengganggu tidur nya, perlahan hilang.


***


Barnest dan Lucia terkejut, dan juga khawatir, sang putri mendengar ucapan mereka.


"Iya sayang" Lucia tetap berusaha tersenyum.


"pa, tadi Bella mimpi buruk, Bella kecelakaan bersama mamap dan papa, tapi Bella masih kecil dalam mimpi, dan juga Bella tidak mengenal wakah mama dan papa yang di dalam mimpi" ucap Bella menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah, dan Lucia membelai lembut rambutnya.


"Mama kan udah bilang, itu hanya mimpi sayang"


"Tapi itu seperti nyata ma"


"Mungkin kamu suntuk sayang, bagaimana kalau kita jalan-jalan? udah lama kita ngak jalan-jalan bersama" Barnest berusaha membuat sang anak melupakan mimpi nya, seperti yang mereka lakukan dulu.

__ADS_1


Dan akhirnya, mereka pun keluar, menikmati kebersamaan yang sudah jarang tak mereka rasakan.


Merekapun menuju tempat wisata Big Ben, Big Ban adalah jam raksasa yang merupakan ikon populer kota London, bentuknya agak mirip dengan jam gadang yang ada salah satu kota di daerah Sumatera Barat.


Selama berjalan kaki, seseorang terus mengintai mereka, berpura-pura seperti wisatawan lain.


"Hallo tuan, mereka sekarang ada di tempat wisata Big Ban"


"Baik tuan"


Seseorang itu terus mendekat, melangkah dengan pelan, terus menatap targetnya. Setelah sampai didekat target, ia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.


Dengan sigap, dia menusukkan pisau yang di keluarkan dari balik baju nya itu kearah perut Bella, targetnya.


"Aauu" Seseorang memegang pergelangan tangan nya yang terasa sakit.


Ternyata Tania selalu mengawasi Bella, dan sudah mencurigai sesuatu akan terjadi, keteka ia melihat Bella akan ditusuk, dengan kecepatan kilatnya, Tania menendang tangan orang tersebut.


"mama..." Bella histeris menyadari dirinya akan dicelakai, dia mendekat keorang tuanya dan mereka memeluk Bella, sementara Tania telah baku hantam dengan si penjahat.


Karena Tania merupakan atlit Muay Thai ( seni bela diri dari Thailand, dan bela diri ini lagi naik daun) dan sering menjuarai banyak pertandingan, dengan kekuatan lutut dan sikunya, Tania dapat mengalahkan lawannya tersebut dengan mudah.


"Brengsek.." Dia memaki tania setelah meludahkan darah yang ada di mulutnya, dan ternyata, beberapa giginya juga patah akibat serangan lutut Tania, ketika kedua lutut si penjahat sudah bertumpu di tanah setelah ditendang perutnya.


Semua yang ada di sana pun menjerit menyaksikan perkelahian dua orang berbeda jenis kelamin itu.


"Siapa yang menyuruhmu?" Bentak Tania, dia menginjak tangan si pria.


"Auuu... lepasin, sakit brengsek!" Dia meringis dan mengaduh kesakitan.


Bukannya melepaskan, Tania justru semakin menekankan kakinya di telapak tangan si penjahat, membuat dia semakin menjerit.


"oke, oke, saya bakalan ngasih tau, tapi tolong lepasin kaki kamu dari tangan aku!" Tania belum berniat melepaskannya sebelum dia mengetahui dalang di balik semua ini.


"Kenapa kamu ingin mencelakai anak saya, katakan!, siapa yang menyuruhmu?"

__ADS_1


*****


*****


__ADS_2