
"HENTIKAN!"
Ucapan lantang seseorang menghentikan ucapan ijab kabul sang wali nikah.
Dia yang berjalan dibantu dengan dipapah oleh Asisten, melangkah maju mendekati meja ijab kabul.
"Siapa Gelandangan ini?" Batin Azward alias Putra. Dia mengernyitkan dahi karena tidak mengetahui siapa sebenarnya yang datang.
"Kenapa Gelandang seperti dia di izinkan masuk? apa tidak ada penjagaan di gerbang?" Kesal Putra. "Cepat usir mereka!" Perintah Putra untuk mengusir dua orang yang dikiranya gelandangan itu.
Laki-laki yang datang dengan tampilan berantakan, rambut acak-acakan, kumis dan jenggot yang mulai tumbuh, serta noda darah yang menghitam terlihat di bajunya yang terang itu tentu saja akan dikira Gelandang.
Bella pun menoleh, dia mengenali suara itu, tapi begitu menoleh, tapi betapa terkejutnya dia melihat penampilan orang yang ada di ujung sana yang berusa melangkah mendekati nya.
Awalnya dia tidak mengetahui sosok itu, lebih tepatnya tidak menyangka dengan apa yang ia lihat.
Setelah benar-benar memperhatikan pria itu, barulah Bella sadar jikalau pria yang menghentikan pernikahan nya itu adalah orang yang ia rindukan.
"Kak Megan?" Pekiknya. Merasa bahagia sekaligus sedih.
"Megan?" Lucia dan Barnest pun sangat terkejut melihat penampilan sang anak.
Bella bahagia, karena kedatangan Megan akan membantu nya terlepas dari pernikahan itu, tapi sangat sedih begitu melihat penampilan sang kakak. Terlebih sebelah tangannya menekan bagian rusuknya.
"Megan?" gumam Putra alias Azward yang seakan tidak asing dengan nama itu.
Tapi dia belum bisa mengingat siapa orang yang bernama Megan itu.
__ADS_1
Bella bangkit dari duduknya, di pegang nya bagian tepi gaunnya yang panjang itu, kemudian berlari ke arah sang kakak.
"Kakak."
Bella langsung memeluk tubuh sang kakak yang sebenarnya sudah tidak kuat lagi berdiri.
Hampir saja mereka terjatuh akibat dorongan dari tubuh Bella yang langsung memeluk Megan, untung saja Barry masih membantu Tuannya berdiri dan menjadi penopang untuk sang Tuan.
Dia menangis dalam pelukan sang kakak, rindunya terobati dengan kehadiran orang yang sangat ia rindukan selama ini, meskipun dalam diam.
Megan mencoba mengucap punggung sang adik. Dia juga sangat merindukan sosok cerewet itu.
Hatinya begitu bahagia, ternyata dia tidak terlambat, dan bisa menghentikan pernikahan itu.
Bella melepas pelukannya, tapi masih menangis tersedu. Dengan tangan yang sudah lemah, Megan berusaha menghapus buliran bening yang membasahi pipi cantik sang adik.
"Kakak tidak apa-apa. Maaf kakak hampir saja terlambat. Sekarang, semua kebohongan dan penipuan ini telah berakhir."
Megan berucap seraya mengusap wajah Bella dengan tersenyum. Setelah itu, tatapan tajamnya beralih pada Azward.
"Maksud kakak?" Bella yang tidak tau apa-apa, tentu saja bertanya.
"Megaaan ..." Lucia menangis melihat kondisi sang anak.
Di peluknya tubuh yang sebenarnya sudah lemah itu dengan penuh kerinduan dan kasih sayang.
Begitu juga Barnest, meskipun tidak menangis, tapi dia juga sangat sedih melihat sang anak saat ini.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja Ma - Pa. Jangan khawatir." Megan mencoba menghilangkan kesedihan kedua orangtuanya yang dimatanya terlihat sangat cemas.
"Barry ... apa yang terjadi? kenapa penampilan kalian seperti ini? dan kenapa Megan terluka?"
Karena Megan tidak mau jujur, Barnest pun memberondong pertanyaan pada Asisten anaknya.
"Kami ... di begal, Tuan - Nyonya," sahut Bary pada akhirnya.
"APA?"
"Udah ... Nanti aja ceritanya, aku punya sesuatu buat semua."
"Ya sudah, lebih baik kamu duduk dulu." Lucia memberikan sebuah kursi untuk Bella.
Sementara Azward, dia sangat kesal di abaikan. Dia mendekati pembawa acara, dan mengambil pengeras suaranya.
"Kepada pengantin wanita, diharapkan segera menuju meja ijab kabul. Mari kita selesaikan ijab kabulnya,"
Ucap Azward menahan kesal, tapi tentu saja dia tutupi dengan mulut manisnya, agar orang-orang tidak memberi nilai buruk padanya.
"Barry ... tolong kamu ambil pengeras suara nya." Perintah Megan.
Barry pun segera berlalu menuju tempat pembawa acara, dan meminjam pengeras suaranya. Setelah mendapatkan nya, dia kembali ke tempat duduk Megan.
"Ini, Tuan." Barry menyerahkan benda tersebut, dan Megan pun mengambilnya.
*****
__ADS_1