(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
14. Dia Melarikan Diri


__ADS_3

"Kenapa kamu ingin mencelakai anak saya, katakan!, siapa yang menyuruhmu?" Barnest melangkah, dan semakin mendekat kearah sang penjahat


Bhuk..


Satu tendangan pun mendarat tepat di wajah pria itu,dan membuat ia mengaduh kesakitan, darah segarpun kembali mengalir dari mulut dan hidung nya.


"Katakan, kenapa kamu ingin mencelakai putri ku?" Barnest kembali bersiap menendang kembali, tapi beberapa orang berseragam polisi datang tepat sa'at Barnest ingin mengayunkan kembali kakinya, dan melerai mereka.


"Ma'af tuan, jangan main hakim sendiri, kita bisa mengadilinya sesuai dengan hukum di negri ini!" Ucap salah seorang polisi.


Dua orang polisi mengangkat tubuh si pria jahat itu, kemudian memegang tangan nya agar dan mengarahkannya kebelakang agar tidak kabur.


"Dia ingin mencelakai putri saya, saya yakin dia juga ingin membunuh putri saya" Ucap Barnest geram karna tidak bisa melepaskan kekesalan hatinya.


"Kita akan mengintrogasinya di kantor polisi, tuan beserta anak dan juga saksi yang bisa di mintai keterangan, segera menyusul kekantor!" Ucap salah seorang polisi yang mana terdapat tulisan Morlin di name tag nya.


Merekapun akhirnya menuju kantor polisi, Barnest dan keluarga menyusul di belakang.


Dor, dor..


Sa'at sedang dalam perjalanan, terdengar dua kali tembakan, detik kemudian, mobil polisi terguling ketepi jalan, karena dua bannya pecah terkena tembakan, sementara, disebelahnya, di jalur yang berlawanan, terlihat sebuah sedan hitam berhenti.


Si penjahat keluar dari dalam mobil, dengan tangan masih diborgol ke arah depan, dan dengan sigapnya dia berlari kearah sedan hitam di seberang, yang ternyata adalah komplotan si penjahat.


Sementara polisi masih berusaha keluar dari mobil yang dalam keadaan terbalik, Barnest yang yang melihat dari kejauhan, segera mempercepat laju mobilnya, karna tadi dia ketinggalan di lampu merah.


"Ada apa ini"? Barnest terkejut melihat keadaan mobil polisi yang diikutinya tadi, sekarang mobil itu sudah dalam keadaan terbalik.


Dia bergegas keluar dari dalam mobil, dan membantu polisi yang sedang kesusahan untuk keluar dari balik kemudi, terlihat keningnya berdarah.


Lucia dan Bella juga Tania menyusul, mereka sama , terkejut.


"Ma, tolong hubungi ambulance!" Ucap Barnest sambil berusaha mengeluarkan si korban.


"Iya pa" Lucia bergegas melaksanakan perintah suaminya.


Taniapun dengan sigap ikut membantu, dan akhirnya semua korban yang tak lain adalah anggota kepolisian, berhasil di keluarkan dari dalam mobil, tak lama kemudian mobil ambulance pun datang.


***


"Dia melarikan diri!" Ucap salah seorang polisi bernama Morlin, ia salah satu korban yang tak terluka parah, dia tidak dirawat, hanya di kasih perban di bagian keningnya yang sedikit terluka.


"Huh" Barnest membuang nafas, dia ikut kerumah sakit, sesangkan Lucia dan Bella telah lebih dulu pulang.

__ADS_1


"Ma'afkan kami tuan! kami lalai" sang polisi terlihat menyesal dengan kejadian yang menimpa dinyanya dan teman-teman nya.


" Seperti nya dia tidak sendirian, dia punya komplotan, sa'at di jalan tadi, ban mobil kami di tembak, akibatnya... ya begini, diapun kabur"


"tepat di seberang kami, terdapat mobil sedan hitam terparkir disana, dan saya melihat, dia berlari dan masuk kedalam mobil itu"


"Sudahlah, mau bagaimana lagi" Barnest yang kecewa pun tak bisa berbuat apa-apa. Setelah akhirnya diapun meninggalkan rumah sakit, Barnest tetap merasa khawatir dengan keselamatan putrinya.


***


Plak


"Dasar bodoh" maki seseorang dihadapan anak buahnya "mengurus satu perempuan saja kalian tidak becus!" dia terus mengumpat, dan satu tamparan lagi mendarat mulus dipipi anak buahnya, akibatnya, sudut bibirnya nya pun berdarah.


"Ma'afkan kami tuan, ternyara dia punya ajudan, dan dia diselamatkan ajudannya, kalau tidak, mungkin dia telah mati di tangan kami" Ucap si ajudan, kemudian mengusap sudut bibirnya yang terasa asin.


"Terus awasi dia! jangan sampai kehadirannya mengacaukan semua yang sudah ada, dan jika kalian gagal lagi, kalian terima akibatnya!" Seseorang orang itu sangat geram, hanya mengurus satu perempuan saja , mereka tidak bisa.


"Baik tuan" pengawalpun segera keluar, takut terkena tamparan lagi.


Sementara di kota lain, Tamara juga sangat terkejut dengan berita yang didengarnya, semenjak mengetahui keberadaan putrinya, dia menugaskan seseorang untuk selalu mengawasi Bella.


"Tapi nyonya jangan khawatir, nona Bella mempunyai ajudan untuk melindunginya, dan anak buah saya juga selalu mengawasinya!" Ucap Jefry


"Apakah dia sudah membuka map nya? kenapa dia belum juga memberi kabar?"


"Jefry, tolong kamu jaga Bella! saya hanya punya dia, dan hanya dia harapan saya, hanya Bella yang bisa mengambil kembali apa yang telah diusahakan papanya untuk dia"


"Pasti nyonya, saya telah menempatkan orang kepercayaan ayah saya dulu untuk menjaga nona Bella, nyonya jangan terlalu khawatir!"


Drrttt.. drrttt


"saya izin mengangkat telpon nyonya" Setelah mendapatkan izin, Jefry pun keluar dari ruangan.


"Terus pantau!" Jefry pun mematikan telvonnya, kemudian dia kembali menemui Tamara.


"Ma'af nyonya, sepertinya anak buah saya sudah mengetahui siapa dalang dari semua ini"


"Siapa?" Tamara seketika memutar kursi rodanya menghadap orang kepercayaan nya itu.


"Tuan Takana, adik ipar nyonya sendiri"


"Keterlaluan dia, berani-beraninya dia ingin membunuh keponakannya sendiri.

__ADS_1


"Dulu tak pernah peduli dengan kami, sekarang ingin merampas yang hasil jerih payah kami, benar-benar manusia tak tahu diri.


"Terus awasi dia, dan singkirkan semua yang ingin menyakiti Bellaku!, tak ada rasa kasihan lagi, jika dia tetap ingin melenyapkan putriku, kamu tahu yang harus kamu lakukan...!" Tamara kembali memutar kursi rodanya, dan menatap keluar jendela dengan air mata yang sudah menggenang.


"Baik nyonya"


Setelah Jefry keluar, Tamara pun tak kuasa menahan tangisnya, dia takut membayang apa yang akan terjadi dengan putri nya, kerakusan Takana telah melumpuhkan akal sehatnya.


"Semoga kamu selalu dilindungi anak ku, jadilah wanita tangguh dan peka!"


Tamara kembali menggerakkan kursi rodanya, dan bergerak keluar dari ruangan pribadinya, setelah sampai di depan pintu,


"Kita keluar!" ucapnya pada ajudan yang selama ini menemani kemanapun ia pergi, sekaligus menjadi supir pribadinya, dan tak lupa asistennya pun ikut menemani.


"Kita kemana nyonya?" Tanya sang ajudan setelah Tamara mendudukkan tubuhnya di kursi penumpang bagian belakang.


"Kemakam suamiku" Dan tanpa bicara lagi, mobil pun diarahkan menuju tempat pemakaman almarhum suami Tamara, tuan Hernandez.


Tamara memang sering mengunjungi makam suaminya, apalagi ketika ia bersedih, maka dia akan minta diantar kesana, jaraknya cukup jauh menempuh perjalanan satu jam kalau tidak macet.


Karena dulu tidak diketahui siapa keluarganya, jadi tuan Hernandez dimakamkan di tempat pemakam umum dekat rumah sakit, tidak di pemakaman keluarga nya.


***


"Tuan, anda yang ingin bertemu" Megan yang sedang duduk melamun di taman rumahnya, dikagetkan dengan suara asistennya.


"Kamu bisa sopan ngak sih?" Megan sewot karna dia memang terkejut dengan kedatangan Barry, asisten sekaligus menjadi teman nya.


"Ma'af tuan, dari tadi saya sudah memanggil tuan, dan sudah beberapa menit berada disini, karena tuan tidak juga sadar dari lamunan, ya saya kagetkan sedikit"


"Jadi benar ya, kamu sengaja membuat saya kaget?"


Barry hanya nyengir membuat Megan ingin menjitaknya.


"Sini kamu!" Megan berdiri dan ingin memukul Barry, tapi Barry malah melangkah mundur. "Ingin di pecat kamu?"


"Ma'af tuan, jangan pecat saya, kalau saya dipecat, dimana saya akan mencari uang denga jumlah yang besar dalam waktu dekat, tuan kan tau, saya punya anak dan istri untuk di nafkahi" celoteh Barry, yang membuat Megan menutunkan tangannya, tapi ucapan Barry selanjutnya, kembali membuat Megan naik darah "memangnya tuan yang ngak punya istri?"


"Apa katamu, kamu menghina saya...?" Megan melangkah, ia benar-benar ingin memukul kepala asistennya yang kurang ajar kamu.


"Ada yang ingin bertemu dengan tuan" Barry seketika berucap agar Megan berhenti mendekat, dan benar saja, ia berhasil.


"Siapa?"

__ADS_1


"Istri tuan"


*****


__ADS_2