
"Tapi aku akan menikah, jika adikku sudah menikah." Megan memandang Bella yang terkejut.
"Kenapa begitu? kamu sudah tua, sedang adikmu masih muda,masak iya kamu nunggu adikmu menikah lebih dulu, kalau dia menikah enam atau delapan tahun lagi gimana? ketuaan kamu," Sela Aaron, kakeknya Megan yang masih terlihat gagah itu, meski tak muda lagi.
"Tidak akan lama, aku yakin Bella pasti akan segera menikah, biasanya perempuan kalau sudah tamat kuliah akan memikirkan menikah, apalagi jika sudah menemukan pria yang membuat dia nyaman."
"Tapi adikmu kan baru tamat Megan" Barnest berusara "pria yang membuat dia nyaman apa maksud kamu? pacaran saja dia tidak, bagaimana pula dia akan menemukan orang yang akan membuatnya nyaman seperti katamu itu."
"Iya, papa benar, Kakak nih ada-ada aja, padahal dia yang nyuruh Bella ngak dekat-dekat sama laki-laki, lah gimana ceritanya Bella bisa menemukan pria yang membuat Bella nyaman, dekat laki-laki saja tidak?"
"Kamu akan menemukannya di Indo Bell, disini mungkin tidak, tapi kakak yakin, jika di tanah air, kamu pasti akan menemukannya, kalau perlu, kakak akan membantu kamu untuk menemukannya." Megan tetap keukuh dengan pendiriannya, tentang ucapannya tadi.
"Ya sudah, ma, pa, semuanya,aku ngantuk, udah malam nih." Megan berdiri dan melangkah meninggalkan ruang kelurga menuju kamarnya.
"Megan itu kenapa sih, kog dia ngak mau nikah? punya pacar saja tidak, padahal anak muda seumuran dia udah gonta ganti pasangan." Alice merasa heran sekaligus khawatir pada cucunya.
"Apa jangan -jangan...."
"Jangan-jangan apa mommy?" tanya Barnest juga merasakan ke khawatiran pada putranya.
"Jangan-jangan anakmu tidak menyukai perempuan, malah menyukai terong," Sahut Aaron, merasa jenhkel dengan cucu laki-laki nya.
"Apa?" Barnest dan Lucia terkejut dan saling pandang, mereka juga pernah terbesit akan hal demikian tentang anak nya, tapi di tepis jauh-jauh, tapi mendengar itu dari mulut orang lain, meskipun itu kakek dan neneknya, mereka merasa apa yang mereka fikirkan itu benar adanya.
"Tidak grandma, grandpa, pa , ma." Bella berusaha menenangkan hati keluarganya.
"Kak Megan itu trauma sama perempuan, dulu waktu sekolah dia pernah dikhianati pacarnya, trus beberapa tahun lalu, kejadian itu terulang lagi, kak Megan kembali dikhianati."
__ADS_1
"O..., jadi kakakmu sudah pernah pacaran, grandma kira ngak pernah," ucap Alice merasa lega, dikiranya Megan benar-benar belok, dan tidak menyukai perempuan.
"Iya grandma, kasihan sih sebenarnya kak Megan,dia udah habis-habisan sama perempuan itu, eee taunya dia selingkuh, untung aja mereka belum menikah, entah apa yang akan terjadi dengan perempuan itu jika mereka sudah menikah,tapi malah diselingkuhi, mungkin akan dibunuh kak Megan." Bella mencoba membela kakaknya.
"Itu juga salah satu, kenapa Bella ngak mau dekat-dekat sama laki-laki, takutnya kak Megan tambah minder dengan dirinya sendiri." Semua mengangguk mendengar penjelasan Bella.
"Semoga Megan nanti menemukan perempuan yang tepat, yang baik untuk menjadi pendamping hidupnya." Lucia berharap yang terbaik untuk anaknya.
"Aamiin," sahut mereka.
"Bella kekamar dulu ya ma, pa,grandma, grandpa" Bella pamit ingin tidur, karena hari semakin larut.
"Ya sudah, tidurlah sayang, udah makin larut" ucap Lucia.
Tiba didepan kamar, Bella menghentikan langkahnya, dan menoleh ke kamar kakaknya yang lampunya masih menyala.
Tiba di depan kamar Megan, dia langsung membuka pintu,karena berfikir Megan sudah tidur, dan tidak akan mendengar panggilan nya.
"Loh, kakak belum tidur?" Bella bertanya karena malah melihat Megan yang sedang duduk di kursi di balkon kamarnya.
"Loh Bell," Megan malah terkejut dengan kedatangan Bella, sungguh dia tidak menyadarinya. "Kog belum tidur?"
"Iya mo tidur, tapi tadi Bella lihat lampu kamar kakak masih menyala, Bella kira kakak lupa matiinnya, jadi Bella masuk buat matiin lampunya, eh ternyata emang belum tidur," Terang Bella sambil melangkah kearah Megan dan duduk di sebelahnya.
"Kakak belum ngantuk." Kemudian dia menatap Bella "Bell, apa kamu benar ingin menetap disini?" tanya Megan serius.
"Emang kenapa kak? sama aja kan, disini kan juga ada perusahaan papa, jadi Bella bisa kerja disana," ucap Bella santai.
__ADS_1
"Tapi disini kan ngak ada yang jagain kamu? kalau di Indo kan ada kakak yang bakalan slalau jagain kamu." Megan tetap keukuh agar Bella balik ke tanah air, bukan malah menetap disini.
"Alaaaahhh, palingan juga sibuk dengan istri kakak nanti, dan Bella tetap aja akan tinggal di rumah sama papa dan mama aja, sedangkan kakak bakalan pindah sama istri kakak, iya kan?"
"Bell, dengar kakak, kakak kan udah bilang, kakak ngak akan nikah sebelum kamu menikah, kakak akan memastikan kamu bahagia terlebih dahulu" Megan tetap berusaha meyakinkan Bella, kalau dia tidak akan pernah meninggalkannya.
Mendengar hal itu, Bella merasa terharu dan bahagia, karena kakaknya selalu mementingkan dirinya, tapi juga merasa kasihan, bagaimana mungkin Megan akan menunggunya, sedangkan dia sama sekali belum mengenal laki-laki, lebih tepatnya menjalin suatu hubungan layaknya anak muda lain.
Seperti halnya Megan, Bella juga pernah dianggap menyimpang, karena tidak pernah terlihat memiliki kekasih, tetapi dia juga tidak merasa terbebani dengan hal itu, karena dia malah merasa bahagia, kakak nya melarangnya memiliki kekasih karena belum waktunya, itu artinya, Megan sangat sayang dan begitu menjaganya.
"Bener kak? tapi apa ngak kasihan sama nasib kakak, kalau sepuluh tahun lagi Bella belum juga menikah gimana? ketuaan dong?" Bella sedikit bercanda.
"Kakak yakin, ngak bakalan selama itu, kakak pastikan ngak lama lagi kamu pasti akan menikah," jawab Megan pasti.
"Ah, kakak nih sok tau, tapi kakak bantu cariin yang baik ya, yang setiaaa, bertanggung jawab, dan berlaku lemah lembut pada istrinya nanti," Bella mulai sedikit berkhayal tentang sosok yang akan menjadi suaminya nanti. "Kayak kakak, sangat sayang menyayangi Bella, tampan, dan juga baik, tapi yang ngak dingin kayak kakak ya, bisa-bisa Bella jadi es kalau suami Bella nanti dingin kayak kakak," canda Bella.
Megan tersenyum, merasa senang mendengar ungkapan Bella, itu artinya, selama ini dirinya ada nilai plus dimata sang adik, meskipun tetap ada minusnya.
"Iya, nanti kakak cariin yang sesuai kriteria kamu, tapi masalah dingin dan kaku, kalau sama kamu, kakak kan ngak kayak gitu." Megan membela dirinya sendiri.
"Iya, benar juga, kakak emang slalu bisa membuat Bella nyaman." Bella menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak. "Juga slalu bikin Bella merasa rindu jika jauh dari kakak" Dia mengungkapkan isi hatinya, karena sesungguhnya, dia benar-benar merasa nyaman jika sudah ada didekat Megan, juga akan kerinduan bila sudah tak lagi bertemu.
Megan mengusap lembut rambut Bella, "Jadi kamu akan balik bareng kakak kan?" tanyanya memastikan.
Bella mengangkat wajahnya, kemudian menatap wajah sang kakak yang terlihat penuh harap.
*****
__ADS_1