(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
39. Tiga Gadis Di Pulau Terpencil


__ADS_3

"Perempuan dan anak kecil tadi itu siapa? sepertinya mereka memang mengenalmu."


Pertanyaan Bella membuat si pria terdiam beberapa saat. Tapi dengan cepat dia mengembalikan keterkejutannya menjadi ke mode normal.


"Tadi sudah mas bilang. Perempuan itu mungkin salah satu orang yang menyukai mas. Mas sama sekali tidak mengenal mereka." Dia mencoba kembali meyakinkan Bella.


"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi, mereka bukan siapa-siapa kok, percaya sama mas. Yang paling penting kan, mas mencintaimu, dan cinta mas hanya untukmu, Bella." Dia memegang tangan Bella yang ada di atas meja.


"Tapi jujur Mas, aku benar-benar kepikiran sama mereka." Bella memandang wajah yang ada di hadapannya. "Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari aku mas?" tanya Bella menatap intens mata lawan bicaranya.


Ditatap seperti itu, ada kegugupan yang di rasa si pria, tapi dia mencoba mengendalikannya.


"Tidak Bella, tidak ada yang Mas sembunyikan dari kamu. Percaya sama mas."


"Ya sudah Mas, semoga memang tidak ada yang kamu sembunyikan dari aku Mas. Aku ini calon istri mu, jadi aku berharap jangan ada rahasia di antara kita, dan juga jangan ada kebohongan. Aku paling tidak suka dengan kebohongan," ucap Bella dengan penekanan di akhir kalimatnya, bahwa dia tidak suka di bohongi.


"Iya ... Mas tau itu, dan mas tidak akan berbohong padamu."


"Maaf Bella, sepertinya untuk hal ini, aku tidak bisa jujur padamu. Bagaimana mungkin aku akan jujur padamu, karena jika aku jujur, kamu pasti akan meninggalkan aku."


"Waahhh ... pesanan nya udah datang. Ayuk makan Bell, Mas udah lapar nih."


"Iya Mas." Mereka pun menikmati hidangan yang ada dihadapan mereka.


Terlihat si pria begitu menikmati makanan nya, sementara Bella terasa tidak berselera untuk makan.


"Dimakan Bell, jangan diliatin aja."


"Iya Mas." Setelah mengucapkan kata itu, tiba-tiba sesuatu menyentuh bibirnya.


"Ayo buka mulutnya, biar Mas suapin."


Dengan terpaksa Bella pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari calon suami.


"Udah Mas, biar Bella suap sendiri." Tolak Bella ketika akan disuapi untuk yang kedua kali, membuat sendok yang diarahkan kemulut Bella berbalik arah ke mulut orang yang menyuapi.

__ADS_1


"Baiklah ... tapi benar loh di makan makanan nya, jangan diliatin aja tu makanan."


"Iya ... iya ... bawel ah," sunggut Bella. Jika perempuan lain mendapat perhatian seperti itu, maka mereka akan klepek-klepek di buatnya. Tapi tidak dengan Bella, perhatian seperti itu tidaklah ngaruh baginya.


"Bukan bawel, Mas cuma ngak mau nanti kamu sakit kalau ngak mau makan. Bukankah kita sebentar lagi akan menikah, jadi tolong dijaga kesehatannya."


Mendengar kata menikah, Bella kembali dibuat galau. Pasalnya hatinya menolak pernikahan itu, terlebih setelah melihat kejadian tadi.


Dia bingung harus mengadukan isi hatinya, di ungkapkan pada Tamara, dia tidak mau membuat sang ibu kecewa.


Diungkapkan pada Lucia, Lucia sendiri sudah melepaskan semuanya pada Tamara, karena bagi Lucia, dia tidak bisa mencampuri keputusan Tamara. Keputusan mutlak milik Tamara sebagai orang tua kandung bagi Bella.


Di ungkapkan pada Megan, sang kakak saja sampai saat ini masih tidak bisa dihubungi.


Ketika mereka berangkat ke Inggris beberapa waktu lalu, mereka hanya pergi bertiga, karena Megan masih tidak bisa dihubungi kala itu.


"Kak Megan, kamu dimana sih? Bella dalam masalah, apa yang harus Bella lakukan. Bukankah kakak sudah berjanji akan selalu melindungi Bella, tapi kenapa sekarang kakak biarkan Bella dalam kesulitan sendirian seperti ini."


***


Saat mengetahui Megan dan team nya akan membangun tower dan juga akan memperbaiki jalan disana, masyarakat pun sangat senang dan begitu antusias menyambut rencana itu.


"Alhamdulillaah, kampung kita ada yang melirik," ujar salah satu warga yang sedang berdiri berjejer melihat mobil yang datang mengangkut bahan dan alat untuk pendirian tower.


"Iya ... semoga pembangunan tower nya berjalan lancar, agar kalau kita ingin menghubungi anak kita yang sedang merantau, tidak perlu bersusah payah lagi menuju perbatasan untuk mendapat sinyal," timpal salah seorang perempuan paruh baya.


"Baik banget ya orang yang mau bantu kita itu, udah gitu ... tampan lagi," ujar salah seorang gadis.


"Iya ... pasti istrinya cantik. Aku yakin Mas Megan itu sudah menikah, dan aku yakin lagi kalau istrinya pastilah sangat cantik," timpal teman si gadis yang bernama Dara


"Aku dengar sih ... Mas Megan itu belum menikah. Tapi ngak tau juga benar apa ngak nya."


"Kalaupun belum menikah, aku yakin pacarnya pasti sangat cantik," ungkap Dara lagi.


"Lah iya lah pasti canting, orang setampan dan sebaik itu."

__ADS_1


"Andai saja dia masih lajang," ucap Dara melihat ke langit seperti orang yang sedang menghayal.


Plak.


Satu tamparan mendarat di kepala Dara.


"Aduh ... sakit tau," sunggut nya mengusap kepala yang kena pukul. Sebenarnya ngak sakit sih, hanya si Dara saja yang berlebihan.


"Makanya jangan menghayal kamu. Kalian kalau Mas Megan itu emang lajang kenapa? jangan ngimpi kalau dia bakalan mau sama kamu." Ejek si gadis.


"Yee ... kamu ini, bukan nya memberi dukungan malah menjatuhkan mental aku. Sebenarnya kamu itu teman aku apa bukan sih?" Sunggut si Dara.


"Ya teman laaahh, tapi ... kalau hayalan kamu ketinggian seperti itu, aku tidak akan mendukung mu. Jangan kan menjadikan mu sebagai istri, menjadikan Asisten Rumah Tangga nya saja aku belum yakin. Hahaha."


"Dasar kau Mitha. Hahaha."


Akhirnya mereka bertiga tertawa bersama.


"Dasar perempuan," gumam Megan yang ternyata mendengar obrolan para gadis itu.


"Ada apa tuan?" tanya Barry yang mendengar gumaman sang Tuan.


"Tidak ada." Kemudian dia kembali menyesap teh manisnya.


Mereka dan Barry dan beberapa karyawan lain yang sedang minum di sebuah warung kecil di kampung itu. Sementara ketiga gadis itu berada tidak jauh dari tempat warung, sehingga Megan dapat mendengar obrolan mereka tadi.


"Melihat mereka ... aku jadi rindu sama Bella. Sedang apa ya dia disana? Kenapa perasaan ku mengatakan kalau Bella sedang membutuhkan ku, aku merasa jika dia menginginkan kehadiran ku. Apa karena aku terlalu merindukannya? Semoga kamu baik-baik saja ya disana. Kakak rindu kamu."


"Tuan ... mereka datang."


Ucapan Barry membuyarkan lamunan mereka. Dia memberitahukan kepala pemborong bahan bangunan itu sedang melangkah mendekati mereka. Sepertinya ingin menyelesaikan pembayaran.


"Sepertinya mereka telah selesai menurunkan semua barang dan bahan nya tuan," ungkap Barry menunjuk pada tumpukan bahan bangunan yang akan digunakan untuk pembangunan tower.


*****

__ADS_1


__ADS_2