
Tiga hari lagi adalah hari yang di takutkan Bella. Bagaimana tidak, hidupnya akan diserahkannya pada orang yang sama sekali tidak dicintainya
"Kamu mau tambahin mahar nya sayang?" Tanya si calon suami. Saat ini mereka sedang mengobrol di ruang tamu rumah Bella.
Katanya dia bernama putra. Dia pun sudah berani memanggil Bella dengan kata sayang, tapi Bella sama sekali tidak mau memanggilnya dengan sebutan itu.
Dirinya merasa geli mengucapkan kata kata yang bagi kebanyakan orang itu adalah kata keramat untuk menaklukkan lawan jenisnya.
"Tidak, rumah dan mobil itu sudah cukup bagiku." Bella terpaksa memberikan senyuman nya.
"Kamu memang calon istri idaman, Sayang."
Bella hanya tersenyum menanggapi nya.
Sedang mereka asyik mengobrol, tiba-tiba mama Tamara datang dan memanggil Bella.
"Ada apa Ma?"
"Itu Sayang ... di depan ada yang cariin kamu, katanya dia teman lama kamu," ungkap Tamara.
"Oh ya? siapa namanya Ma?" tanya Bella seiring kakinya melangkah keluar.
"Mas tunggu sebentar ya," ucap Bella sesaat sebelum ia melangkah keluar
"Kalau tidak salah ... namanya Jessica."
Putra yang dengan mendengar nama Jessica, sontak saja terkejut.
"Jessica? apakah dia orang yang sama, atau memang temannya Bella. Kalau memang Jessica yang sama, mau apa dia kemari? bukankah dia tidak mengenal Bella?" gumam Putra.
Sementara Bella sudah berada di depan gerbang dekat pos satpam.
"Maaf ... anda mencari saya?" tanya Bella pada orang yang sedang berdiri memunggunginya.
__ADS_1
"Anda ... bukankah perempuan yang bersama anak kecil malam itu?" tanyanya lagi setelah melihat wajah sang perempuan.
"Iya, saya Jessica." Dan Jessica mengulurkan tangannya, Bella pun menyambut uluran tangannya.
"Ada yang ingin saya sampaikan sama kamu Bella."
"Apa? anda tau nama saya?" tanya Bella heran, karena seingatnya, dia belum memberitahukan siapa namanya kepada si perempuan.
"Iya ... saya tau."
"Ya sudah, mari kita duduk di bangku itu." tunjuk Bella pada sebuah kursi panjang yang ada di taman, tempat biasa dia Tamara duduk jika di taman.
"Saya merasa ... sepertinya ada hal penting yang ingin kamu sampaikan. Silahkan duduk."
"Terimakasih. Kamu benar, hal ini memang sangat penting, terlebih untuk hidup kamu dan pernikahan mu yang akan kamu jalani beberapa hari lagi."
Bella semakin heran pada si perempuan. Dari mana dia tau kalau Bella akan menikah, begitulah yang dipikirkan Bella.
"Kamu pasti heran, kenapa saya bisa mengetahui nama kamu dan juga tentang pernikahanmu." Tebak Jessica. Dan tebakan itu sangat benar.
"Mungkin kamu lupa dengan saya, ya wajar sih. Pertemuan kita hanya sekilas, dan kemudian tidak pernah bertemu lagi lebih kurang lima tahun," terang Jessica.
"Jadi maksudmu ... kita sudah pernah bertemu begitu?"
"Iya. Kamu benar. Mungkin karena pertemuan kita hanya sekilas, jadi kamu tidak terlalu mengingat wajahku. Kamu mungkin lupa kalau aku ... orang yang pernah di bawa Megan kerumahnya."
"Apa?" Kaget Bella. "Jadi ... kamu mantannya kak Megan?"
"Iya. Aku mantannya, tapi aku tetap mencintai nya sampai sekarang."
"Omong kosong apa ini? cinta katanya, makan tuh cinta. Udah menghianati kan Megan, tapi masih berani bilang cinta," batin Bella kesal mengingat cerita kakak nya yang waktu itu di hianati.
"Maaf. Aku waktu itu memang bodoh telah mengkhianati Megan, dan tak seharusnya aku mengatakan masih mencintainya. Tapi aku menyadari satu hal, bahwa cintaku masih untuknya. Tapi kamu jangan khawatir, aku tidak akan mendekati kakak mu lagi, apalagi berniat kembali bersama nya." Jessica tersenyum dengan sudut mata yang basah.
__ADS_1
Bella hanya mengangguk mendengar penuturan mantan kakak nya itu. Dia melihat, bahwa ucapkan Jessica tidak bohong, sebagai seorang perempuan, dia bisa merasakan ketulusan dari ucapannya.
Jessica memang sudah berubah. Dia tidak lagi terobsesi untuk kembali memiliki Megan. Meskipun awalnya dia memang sangat ingin kembali lagi bersama Megan, tapi sekarang tidak lagi.
Semenjak dia bisa menerima kehadiran anaknya, dia juga berusaha melupakan Megan dan tidak ingin mengganggu kehidupan sang mantan lagi.
"Lalu ... kenapa malam itu mbak seakan lupa dengan saya?" tanya Bella merubah panggilan nya pada Jessica setelah mengetahui jika si perempuan adalah mantan kakak nya.
Bellapun bingung, Karena malam itu, dia melihat Jessica benar-benar tidak mengenalinya.
"Malam itu ... memang aku belum mengetahuinya, lebih tepatnya belum menyadarinya. Dan setelah kamu berlalu, aku baru mengingat bahwa kamu adalah adiknya Megan," terang Jessica.
"O gitu. Jadi ... kenapa mbak bisa mengetahui tempat tinggal saya?"
"Saya kan sekarang bekerja di sebuah perusahaan, jadi waktu itu saya libur, dan memutuskan menemui mu. Saya berfikir untuk menyelamatkan hidupmu, dan sayapun mengunjungi mu ketempat tinggal yang lama. Sampai disana, saya disambut tante Lucia, beliaupun mengatakan bahwa kamu bukan adik kandung Megan. Tante Lucia juga yang memberikan alamat ini," terang Jessica, membuat Bella mengangguk pertanda bahwa dia mengerti.
"Saya sempat terkejut, saat Tante Lucia bilang bahwa kamu bukan adik kandung Megan. Tante Lucia pun menceritakan bagaimana kamu hadir dalam kehidupan keluarga mereka." Jessica tampak menarik nafas, sepertinya dia merasakan penyesalan.
"Mama angkat mu memang orang yang sangat baik, Bella. Dia tetap menyambut saya dengan baik, bahkan dulu beliau tidak pernah menunjukkan sikap buruknya, meski tau jika beliau sebenarnya tidak menyukai saya." Jessica kemudian tersenyum.
"Iya, Mama Lucia orang yang sangat baik," sahut Bella mengangguk. "Jadi ... sebenarnya hal penting apa yang ingin Mbak sampaikan? tidak mungkin kan kalau hanya ingin mengatakan tentang perasaan Mbak dan pertemuan Mbak dengan Mama Lucia?"
"O iya ... saya sampai melupakan hal pentingnya." Jessica sedikit tertawa.
"Jadi begini Bella ... kamu harus tau, jika calon suami mu itu bukan orang yang baik. Dia adalah seburuk-buruk pria yang pernah saya temui. Jadi ... saya minta, agar kamu jangan meneruskan rencana pernikahan kalian itu. Kamu akan menyesal nantinya Bella." Wajah Jessica berubah menjadi ekspresi serius.
Bella terkejut mendengar penuturan dari Jessica, akan tetapi, dia mencoba agar tidak di ketahui oleh Jessica tentang keterkejutannya.
"Kenapa saya harus percaya pada apa yang Mbak ucapkan? bukankah Mbak juga seorang pembohong. Mbak telah membohongi kakak saya selama ini bukan?"
"Iya ... saya memang pernah membohongi Megan, tapi untuk saat ini, saya tidak berbohong. Percayalah pada semua yang saya ucapkan, laki-laki itu seorang pembohong. Dia juga seorang ... penjahat kelamin," terang Jessica menatap mata Bella. Berharap Bella mempercayai ucapannya.
Mendengar kalimat terakhir Jessica, terang saja Bella begitu terkejut di buatnya. Dan dia mulai merasa, ketidak inginan hatinya menerima perjodohan ini memiliki sebuah alasan, dan inilah salah satu alasannya. Tapi Bella masih belum sepenuhnya percaya akan semuanya.
__ADS_1
*****