
"Tuan ... Tuan ... Anda kenapa?" tanya Barry terdengar panik.
Tapi untung saja Megan masih bisa menjawab pertanyaan nya.
"Saya tidak apa-apa. Ayo cepat jalan." Kepalanya masih menyandar di punggung Barry.
"Baik Tuan. Semoga di depan sana ada rumah sakit atau puskesmas."
Dia menyalakan motor dan dengan kecepatan tinggi, motor itu menembus kegelapan dan dindingnya malam.
Sudah cukup lama mereka berkendara, lebih kurang delapan kilo meter, tapi belum juga menemukan puskesmas apalagi rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan di antara mereka, karena Barry fokus membawa motor.
Sementara Megan sendiri tetap menyandarkan kepalanya di punggung Barry dengan keadaan menunduk dan sebelah tangan tetap menekan luka pada rusuknya.
sepuluh menit lagi telah berlalu, dan barulah Barry menemukan sebuah papan yang bertuliskan PUSKESMAS di pinggir jalan.
Sengan segera dia memasuki halaman Puskesmas dan memarkirkan motornya.
"Semuanya, Tolong tuan saya!" teriak Barry setelah dia memasuki Gedung mini itu dengan menggandeng Megan yang masih meringis kesakitan.
Dua orang petugas datang dengan sebuah brangkar dan segera membantu dan menaikkan Megan ke atasnya.
Mereka segera menuju ruang tindakan UGD dan memeriksa luka Megan dan menjahit lukanya setelah diberi bius lokal.
Infus pun di pasang di sebelah tangannya.
"Dia harus di rujuk ke rumah sakit kota, karena kekurangan banyak darah," ujar seorang Dokter.
"Tidak perlu dokter, cukup berikan saja saya obat tambah darah atau vitamin atau apapun itu untuk menambah tenaga saya," ucap Megan yang tidak ingin ke rumah sakit.
Jika kerumah sakit, pastilah akan memakan waktu lama, karena akan mencari pendonor terlebih dahulu jika stok darah tidak ada.
__ADS_1
Kemudian harus menunggu darah donoran itu habis masuk ke tubuh Megan. Dan semuanya tentu tidak akan sebentar.
"Tapi Anda membutuhkannya, Anda terlihat sangat pucat," ujar si Dokter.
"Tidak apa-apa, saya tidak apa-apa."
"Baiklah. Tapi tolong jangan tuntut kami jika sesuatu terjadi pada anda."
"Saya tidak akan menuntut Anda ataupun Puskesmas ini, karena saya akan baik-baik saja," jelas Megan menjawab kecemasan sang Dokter.
"Baiklah. Sekarang anda istirahat, dan sebelum itu, anda harus meminum obat yang akan diantar sebentar lagi."
"Baik Dokter, terima kasih."
Dokter dan timnya ke luar dari ruang tindakan, dan setelah nya masuklah Barry yang menanyakan keadaan Tuannya.
"Saya tidak apa-apa. Kamu tidak perlu cemas, habis satu infus ini, saya boleh keluar dari Puskesmas ini," dusta Megan.
Padahal dokter tidak ada mengatakan seperti itu, sebaliknya Dokter mengatakan Megan boleh pulang besok siang jika keadaannya sudah membaik.
"Jangan bicara seperti itu Tuan, saya kan sudah bilang dan Tuan juga tau kalau semua ini adalah tugas saya untuk menjaga Anda. Harusnya saya yang meminta maaf karena gagal melindungi Anda."
Barry menunduk menyesali kegagalannya dalam menjaga Tuanya.
Dan Megan hanya mengangguk kan sedikit kepalanya, tidak berselang beberapa waktu, seorang bidan datang membawa obat.
"Ini obatnya. Silahkan diminum, Tuan," ucap si Bidan seraya menaruh obat itu di atas meja sebelah Megan.
"Terimakasih," sahut Barry.
"Sama-sama. Saya permisi." Pamitnya.
"Ayo, Tuan. Obatnya di minum dulu." Barry membantu menegakkan kepala Megan dengan menambah bantal untuk menopang punggungnya.
__ADS_1
"Obat apa ini? kenapa sebanyak ini?" sunggut Megan.
Dia kesal melihat berbagai macam obat yang harus di habiskan nya saat itu juga.
"Sudah, Tuan. Habiskan saja semuanya, biar cepat pulih."
Dengan terpaksa, Meganpun meminum semua obat itu, setelah nya dia kembali berbaring.
"Disini bukannya ada sinyal?"
"Iya,Tuan. Memangnya ada apa?" tanya Barry penasaran.
"Tolong ambilkan ponsel saya, ada di kantong baju itu." Tunjuk Megan pada bajunya yang tersampir di atas kursi.
Barry mengambil dan memberikannya pada Megan.
"Baterainya habis lagi." Megan berucap sambil berusaha menyalakan ponselnya, tapi tetap tidak bisa menyala. "Pinjam ponselmu."
"Ini Tuan." Barry memberikan ponselnya.
"Sama, baterai nya juga habis." Ternyata baterai mereka sama-sama habis.
"Coba di isi dulu dayanya," perintah Megan seraya mengembalikan ponsel milik Barry.
"Baik, Tuan."
Dia membuka tasnya untuk mengambil charger.
"Astagaaa ... Ketinggalan," batin Barry.
"Maaf, Tuan. charger nya tidak kebawa," jelas Barry.
Megan memandang wajah Barry.
__ADS_1
*****