(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
49. Megan Terluka


__ADS_3

"Barry ... hati-hati." Megan memperingati.


"Ish ... Tuan ini, apa dia tidak melihat kalau mereka berdua itu sudah ketakutan?" batin Barry tetap kesal pada Tuannya.


"Baaah."


Sekali gertakan dari Barry, mereka berdua kabur dengan berlari tunggang langgang tak tentu arah, sehingga mereka saling bertabrakan dan jatuh, kemudian bangkit lagi, tertabrak lagi, bangkit lagi dan seperti itu hingga beberapa kali.


"Hahaha..."


Barry pun kembali tertawa melihat tingkah manusia yang katanya penguasa di wilayah itu.


Dia kemudian mengambil beberapa senjata yang tergeletak di aspal, dan di masukkan kedalam tas yang selalu dibawanya.


"Tuan tidak apa-apa?" tanya Barry. "Apa ada yang luka?"


"Tidak ada yang luka, saya baik-baik saja. Terimakasih."


"Ini memang kewajiban saya untuk menjaga dan melindungi Tuan."


"Ayo, Tuan. Kita lanjutkan perjalanannya," ucap Barry. Kemudian menaiki motornya, dan disusul Megan yang naik dan duduk di belakang.


Tanpa mereka sadari, ternyata Bos penjahat telah bangkit dengan satu tangan masih menutupi sebelah matanya, sementara tangan satunya memegang sebuah pisau dan bersiap untuk menusukkan nya.


Sreet


"Aaakk... "


Terdengar suara erangan kesakitan dari mulut Megan.


Barry yang mendengar, reflek menoleh. Dia sangat terkejut, ternyata si Bos jahat telah menusuk rusuk Megan.


Dengan sigap, Barry melompat dari motor, dan langsung melayangkan tendangannya ke arah ulu hati si Bos penjahat itu.


Push

__ADS_1


"Aaak ..."


Dia mengaduh kesakitan, meringkuk di tanah sambil membungkuk kan badannya seperti orang yang sedang sujud, hanya saja, kepalanya tidak sampai menyentuh aspal.


Ulu hati merupakan salah satu organ yang sangat sensitif bila terkena tendangan, apalagi tendangan itu berasal dari ahlinya.


Barry mendekati si penjahat itu, berniat hendak menambahkan tendangan atau pukulannya.


Tapi niatnya terhenti saat mendengar suara Megan memanggilnya dengan lirih seperti orang yang menahan kesakitan.


"Tuan."


Barry benar-benar cemas dan panik melihat keadaan tuannya. Dengan pencahayaan yang minim, dia bisa melihat jika pisau yang ditusukkan ke rusuk Megan, masih menempel disana.


Bergegas dia mendekat dan menyentuh pisau itu, tapi sesaat berhenti dan membuka semua bajunya.


Barry pun mengambil baju dalamnya, setelah itu kembali memegang tangkai pisau, dan dengan sangat hati-hati, dia mencabut pisau itu.


Megan menahan rasa sakitnya dengan menggigit lengan baju nya dengan kuat.


Setelah pisau tercabut, Barry segera menutup luka Megan dengan baju yang sudah dilepaskannya tadi.


"Tuan ... bagaimana keadaan Anda?" tanya Barry semakin cemas.


"Saya tidak apa-apa," sahut Megan terdengar lemah. "Coba kamu ambil baju salah satu dari mereka untuk mengikat luka ini," perintahnya.


"Baik, Tuan. Tolong anda pegang ini dengan kuat, jangan sampai lepas." Barry melepaskan tangannya dari kain yang menutup luka Megan, setelah diambil alih oleh Megan.


Barry melangkah mendekati si Bos yang masih kesakitan dan berusaha untuk bangun.


Bhuk


Satu tendangan melayang dan tepat menghantam kepala si Bos, dan dia yang sudah hampir berhasil berdiri, kembali lagi terjatuh ke aspal.


Dia kembali mengerang kesakitan, tapi tendangan Barry kembali menghantam kepalanya.

__ADS_1


Bhuk


Bhuk


Bhuk


Terdengar beberapa kali tendangan mengenai tubuh si Bos entah bagian yang mana saja, tidak jelas lagi, karena Barry sudah kesetanan menghajarnya hingga membuat si Bos tidak bergerak lagi. Dan terakhir Barry menginjak dada Bos penjahat itu meski Barry tau jika dia sudah tidak bergerak lagi.


Bergegas Barry membuka baju laki-laki penjahat itu, dan beruntung bajunya adalah baju kaos berlengan panjang.


Dia kembali mendekat ke arah Megan, dan dengan sigap, Barry mengikatkan baju itu ke sekeliling tubuh bagian rusuk Megan.


"Tuan, apa darahnya sudah berhenti keluar?"


"Sepertinya sudah," Megan pun tidak mengetahui apakah darahnya masih keluar atau sudah berhenti.


Tapi dia tidak ingin Asisten nya itu semakin cemas, maka dia menjawab dengan kata yang mungkin bisa membuat sang Asisten sedikit lega.


"Apa kita kembali saja Tuan?"


"Tidak. Kita lanjutkan perjalanannya. Pengorbanan ini tidak boleh jadi sia-sia. Cepat pakai baju mu," perintah Megan.


"Baik, Tuan."


Dengan segera Barry memakai kembali bajunya yang bagian luar, karena baju dalamnya sudah di gunakan untuk menutup luka Megan. Dan setelah itu kembali memakai jaketnya.


Barry kembali menaiki motor.


"Tuan ..."


Barry kembali dilanda kecemasan karena Megan sepertinya tidak kuat menahan sakitnya. Dia merasakan kepala Megan terkulai menempel di pundaknya.


"Tuan ... Tuan ... Anda kenapa?"


*****

__ADS_1


__ADS_2