(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
43. Bahagiaku Jika Disampingnya


__ADS_3

"Mama tidak berbohong tentang Bella. Dia akan menikah besok lusa."


"APA?"


"Astaghfirullah ... Tuan kenapa sih teriak-teriak. Apa dia ngak kasihan sama aku yang jomblo ini, dan jika aku meninggal, siapa yang akan menangisi ku?" Barry kembali mengurut dadanya karena terkejut.


"Megan! jangan teriak-teriak. Kamu pikir Mama budeg?" bentak Lucia setelah menjauh kan handphone nya dari telinga.


"Mama ... tolong bicara yang benar, jangan bercanda mulu, ngak lucu!" kesal Megan.


"Siapa juga yang bercanda. Udah di bilang Mama serius, malah kamu ngak percaya. Dengerin Mama ya Megan, Mama ulangi, Bella, adik angkat mu besok lusa akan menikah," tekan Lucia.


Saat mendengar penekanan dari ucapan sang ibu, Megan luruh ke tanah. Megan merasa semuanya sudah sia-sia, semuanya sudah berakhir.


Megan yang berniat melamar Bella ketika ia kembali, malah harus menelan kekecewaan, karena pujaan hatinya akan segera dimiliki orang lain.


Dia harus mengubur cintanya yang sudah subur sebelum di ungkapkan nya. Air matanya pun telah jatuh, pertanda hatinya begitu merasakan kecewa dan terlalu sedih.


"Kenapa harus di jodohkan, Ma?" ucapnya lirih.


"Semua demi orang tuanya ... " Lucia menceritakan kenapa Bella harus di jodohkan.


"Kenapa Mama ngak bilang sama aku dari awal? Dan kenapa Bella ngak pernah bilang sama aku tentang semua nya?" Suara Megan begitu lirih karena menahan tangis, tapi masih dapat di dengar oleh Lucia.


"Bagaimana mau memberi tahukannya sama kamu, kamu aja ngak bisa dihubungi. Bella juga sudah sering kali menghubungi mu, tapi tidak bisa di hubungi." Lucia menjelaskan bahwa dia dan Bella sudah sering menghubungi, tapi tetap tidak tersambung.


"Kenapa Bella menerima perjodohan itu Ma, apa dia mencintai calon suaminya?"


"Mama tidak tau, Megan. Tapi sepertinya dia tidak menginginkan pernikahan itu, Mama rasa dia tidak mencintai calon suaminya itu," terang Lucia.


"Jika Mama tau bahwa Bella tidak mencintai nya, kenapa Mama mengizinkan perjodohan itu? bukankah Bella juga anak Mama. Apa Mama tidak menyayangi Bella lagi?"


"Mama selalu menyayangi Bella, Mama tidak pernah berhenti menyayanginya. Selamanya Bella akan tetap menjadi anak Mama sama Papa, tapi Mama tidak bisa berbuat apa-apa, Bella adalah tanggung jawab ibu kandungnya." Lucia pun merasa sedih akan nasib anak angkatnya.


Sebagai seorang ibu, Lucia juga merasakan kesedihan anak lelakinya. Lucia sudah mengetahui tentang perasaan Megan pada Bella, hal itu diketahui nya saat Bella Kecelakan dan koma, Megan pun menangis dan mengungkapkan perasaannya kala itu.


"Bella ... bangunlah, jangan tinggalin kakak, kaka ngak bisa kehilangan kamu. Bella ... dengerin kakak, kamu harus bangun, dan kamu harus tau, bahwa kakak mencintaimu, sangat mencintaimu. Bangunlah Bella ... banguuun ...!"

__ADS_1


Meskipun waktu itu Megan belum menyadari bahwa Bella bukan lah adik kandungnya, entah kenapa dia sangat ingin mengungkapkan semua perasaannya itu. Dia tidak peduli jika dunia akan menentang nya, dan dia akan menentang dunia.


Mengingat kata cinta Megan pada Bella yang beruraian air mata, air mata Lucia pun jatuh, dia tau pasti bagaimana perasaan Megan saat ini, dapat ia rasakan kesedihan sang anak.


"Kenapa kamu sedih? harusnya kamu bahagia adikmu akan ada yang menjaga." Lucia mengusap sudut matanya yang basah, dan berusaha menghibur hati sang anak, berharap Megan bisa menerima dengan ikhlas takdir cintanya.


"Aku akan bahagia jika aku yang ada disampingnya, jadi pelindung nya, dan jadi ... pelengkap hidupnya, bahagia ku di samping nya," batin Megan merana. Dia masih belum menerima kenyataan yang ada.


"Kita tidak tau, apakah suaminya nanti akan mampu membahagiakannya, mampu menjaganya."


"Doakan saja yang terbaik untuk pernikahan adikmu, semoga dia mendapat kan kebahagiaannya."


"Ikhlaskan adikmu, Nak. Mama tau kamu terluka, tapi mungkin Bella memang bukanlah jodohmu."


"Ya sudah, Mama matiin ya."


Tak ada jawaban dari Megan.


"Assalamu'alaikum." Megan tetap diam hingga panggilan itu terputus.


Megan terduduk di tanah, air matapun tak dapat lagi ia tahan. Tak ada rasa malu ketika ada orang lain melihat ia menangis.


"Astaghfirullah ... pasti masalah Tuan sangat besar, hingga dia sampai menangis begini. Tapi aku rasa, masalah paling besar bagi laki-laki dan sampai membuatnya menangis adalah ... masalah perasaan." Barry hanya mampu membatin. Meskipun kasihan melihat sang Tuan, tapi Barry tidak berani mendekat apalagi bertanya.


"Bella ... kenapa kamu menerima nya? kenapa kamu tidak menunggu kakak. Kakak kan sudah bilang padamu agar menunggu kakak." batin Megan.


Entah siapa yang harus disalahkan nya saat ini. Merasa kesal dan juga kecewa.


Mama Tamara kah yang harus disalahkan nya, karena telah menjodohkan Bella. Mama Lucia kah yang harus disalahkan nya karena membiarkan perjodohan itu.


Bella kah yang harus disalahkan nya karena tidak menolak perjodohan itu. Atau dirinya sendirilah yang harus disalahkan nya, karena tidak bergerak cepat, harus menunda mengatakan perasaannya, hingga akhirnya, perasaan nya tidak akan pernah bisa diungkapkan lagi.


"Aaaaarrhhh ...."


***


Akhirnya Megan berdiri dengan tumpuan yang tidak kokoh, seakan dia akan kembali terjatuh dan terduduk di tanah.

__ADS_1


Tapi dengan sekuat tenaga, dia mencoba mengokohkan kakinya untuk berdiri, kemudian melangkahkan kaki menuju motor yang dia pinjam kepada warga.


Megan memang tidak membawa mobilnya ke Pulau terpencil itu, mobilnya dia titipkan di hotel yang tidak jauh dari perbatasan, tentu saja dengan biaya yang cukup mahal untuk menjaga keamanan mobil nya.


"Kita kembali ke Pulau," perintah nya sedikit lemah tapi tetap tegas.


"Baik Tuan." Barry segera menaiki motor trail pinjaman itu, dan segera ia dinyalakan mesinnya.


Megan pun segera naik di bagian belakang, sementara beberapa pengawal lainnya juga bersiap untuk kembali.


Megan menepuk punggung Barry. "Ayo jalan."


Barry mengangguk dan segera melajukan motor trail yang suaranya memekakkan telinga jika di tarik gasnya itu.


Tapi detik kemudian dia kembali menepuk pundak Barry dua kali dengan kencang.


Reflek Barry pun menghentikan motornya dengan seketika.


"Astagaaa ... Ada apa Tuan?"


"Tunggu sebentar. Sepertinya handphone saya berbunyi," ungkap Megan seraya turun dari atas motor dan segera mengambil handphone nya yang ia rasakan bergetar didalam saku celananya.


"Benar ... untung belum meninggalkan tempat ini," gumam Megan sambil membuka sandi handphone nya itu. "Pesan siapa ya."


"Mama ... Ngapain Mama kirim pesan." Dia sedikit heran, karena baru selesai telponan, tapi sekarang Mamanya malah ngirim pesan.


"Megan, mudah-mudahan kamu masih di perbatasan, dan bisa segera membaca pesan ini. Mama cuma ingin mengirimkan foto calon suami adikmu, barangkali kamu mengenalnya." Itu isi pesan Lucia. Kemudian ada satu pesan lagi, tapi berisi gambar.



( itu calon suaminya Bella, bagaimana menurut mu?)


"Ah ... Mama ini ada-ada saja, masa ngirim foto orang yang mau ngambil cintaku, Ck, apa dia ngak mikirin perasaan ku?" gumamnya, tapi dia merasa tidak asing dengan sosok yang ada di foto itu.


"Astagaaa ... Dia kan ... "


*****

__ADS_1


__ADS_2