(Bukan) Cinta Terlarang

(Bukan) Cinta Terlarang
56.


__ADS_3

"Kak Megan!" Diguncang nya tubuh lemah yang sudah tidak sadarkan diri itu.


Semua keluarga panik melihat Megan yang tidak sadarkan diri, sementara darah juga keluar di bagian rusuknya yang terkena tusukan kemarin.


"Astaghfirullah ... Megaan." Lucia pun tak kalah histeris melihat anaknya yang menutup mata tidak sadarkan diri.


"Barry ... cepat bawa Megan ke rumah sakit," perintah Barnest.


"Baik Tuan."


Dia segera mengangkat tubuh Megan berdua dengan Jerrimy. Karena tubuh Megan padat berisi, membuat mereka berdua sedikit kewalahan saat menggotong nya ke dalam mobil.


Dua orang lagi yaitu pengawal Barnest, ikut membantu karena melihat Barry dan Jerrimy yang kewalahan.


Mereka segera membawa Megan kerumah sakit terdekat. Tak lupa Bellapun ikut serta.


Didalam mobil, Megan ditidurkan di kursi bagian tengah, dan kepalanya berada di atas paha Bella yang masih berbalut gaun pengantinnya.


Kesedihan semakin bertambah menyelimuti hati Bella saat dia memandang wajah Megan yang sangat pucat, tubuhnya pun terasa sangat dingin.


Dia terus menangis dan memanggil nama kakaknya, tangisan itu sangat pilu, hingga siapa saja yang mendengar nya akan ikut merasakan kesedihan itu.


"Kak Megan banguuun. Jangan tinggalin Bella!"


Hiks


Hiks


Hiks


*


*

__ADS_1


*


Sementara di rumah Tamara, keadaan malah semakin ricuh.


Tuan Hernandez kembali memukul sang anak yang dimatanya sangat keterlaluan itu.


Bhuk


Bhuk


Dua pukulan kembali bersarang di bagian perut Azward setelah sebelumnya dia mendapat pukulan di bagian wajahnya.


"Anak k***ng a**r! bikin malu keluarga kamu!" Satu pukulan lagi akan segera mendarat di perutnya ketika dia mencoba berdiri tegak.


"Hentikan!" Teriakan seseorang menghentikan pergerakan tangan Tuan Hernandez untuk kembali memukul anaknya.


Hernandez kembali terkejut dengan siapa yang telah menghentikannya itu.


"Iya. Saya Briptu Agatha," ucap orang yang berseragam polisi itu, kemudian ia memberikan sebuah surat kepada Tuan Hernandez.


"Surat penangkapan?" tanyanya. "Atas nama Azward Putra Hernandez?" Dia semakin terkejut dibuatnya.


"Iya, Tuan. Itu adalah surat penangkapan atas nama saudara Azward." Jelas Briptu Agatha kembali menerima surat perintah penangkapan itu.


"Tapi kapan anak saya melakukan penipuan? selama ini dia tidak pernah melakukan."


Tuan Hernandez bertanya seakan tidak percaya dengan apa yang ia baca.


"Semua akan dijelaskan di kantor polisi. Sekarang kami harus membawa Tuan Azward."


Briptu Agatha memerintahkan bawahannya untuk membawa Azward.


"Papa, jangan percaya, ini pasti fitnah. Aku tidak bersalah. Tolong bilang pada mereka jika aku tidak bersalah!" Teriak Azward memberontak saat dirinya di borgol dan di bawa paksa menuju mobil polisi.

__ADS_1


Seorang pria yang masih mengenakan pakaian pengantinnya, diseret paksa oleh polisi, dan itu menjadi bahan pembicaraan semua orang yang ada, ditambah kelakuan buruk dia selama ini.


"Astagaaaa ... kenapa aku mempunyai anak seperti ini? padahal dia adalah satu-satunya pewaris semua harta ku." Sesal Tuan Hernandez dengan kelakuan anaknya.


"Azwaaard ... kenapa kamu seperti ini naak?" Setelah mengatakan itu, Nyonya Hernandez-ibunya Azward tidak sadarkan diri.


"Akayla ..."


Tuan Hernandez berteriak karena istrinya telah jatuh kelantai tanpa sempat ia tangkap.


Dia berlari mendekat dan segera mengangkat tubuh sang istri. Kemudian berlari keluar dengan menggendong istrinya dan segera menuju tempat parkir mobilnya.


"Hari sakral dan hari paling bahagia yang begitu dinanti setiap pasangan, malah menjadi hari paling mengenaskan. Dengan masih menggunakan pakaian pengantin, si wanita pergi ke rumah sakit, sementara si pria malah digiring ke kantor polisi."


Salah seorang tamu undangan berbicara dengan temannya.


"Iya benar. Sungguh mengenaskan. Apa Nyonya Tamara tidak mengetahui kelakuan calon menantunya?" sahut yang lain.


"Entahlah ... bisa saja Nyonya Tamara tidak mengetahuinya, wong orang tuanya aja tidak mengetahuinya." Timpal yang lain.


"Kasihan sekali nasib putrinya, harus gagal dalam di hari pernikahannya." Simpati yang lain.


"Tapi kalau menurut aku, lebih baik dia malu karena gagal menikah, daripada menikah, tapi akhirnya menderita dengan melakukan suaminya nanti."


Beberapa ibu-ibu sosialita yang sedang menggibah itupun mengangguk, mereka setuju jika lebih baik Bella gagal menikah hari ini, daripada menyesal di kemudian hari.


Tamara yang hendak mendekati para ibu sosialita itupun,seketika berhenti mendengar ucapan mereka. Ia pun merasa sangat bersalah dengan putrinya.


"Maafkan Mama, Bella. Harusnya Mama mencari tau dulu bagaimana kelakuan laki-laki itu sebelum menjodohkannya dengan mu," gumam Tamara.


Dia kemudian kembali melangkah mendekat ke arah para tamu undangan yang tengah menghibahkan nya, meminta maaf atas semua yang seharusnya tidak terjadi di hari itu.


*****

__ADS_1


__ADS_2