
"Jadi bagaimana Nak, mulai sekarang kamu akan tinggal bersama Mama kan?"
Pertanyaan Tamara membuat semua terdiam, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Barnest dan Lucia sudah pasti merasakan kesedihan dengan tinggalnya Bella bersama Tamara begitu juga Megan, ia juga pasti tidak rela jika harus berpisah lagi dengan Bella.
Sedangkan Bella dilema, dia tidak ingin berpisah dengan Barnest dan Lucia, tapi disisi lain, dia juga ingin merasakan kasih sayang ibu kandungnya.
"Mama ngak maksa kog sayang, jika Bella tetap ingin tinggal bersama Mama dan Papa angkat mu, mama ngak akan memaksa Bella untuk tinggal bersama mama, tapi mama cuma minta agar Bella sering-sering nengokin Mama," ucap Tamara tersenyum menyembunyikan kesedihannya melihat ekspresi wajah Bella, dia menduga bahwa Bella tidak ingin meninggalkan rumah lamanya.
"Ma..., Bella ingin tinggal sama Mama, Bella ingin merasakan kasih sayang Mama, meskipun selama ini Bella ngak pernah kurang kasih sayang dari Papa Barnest dan Mama Lucia serta kak Megan."
Perkataan Bella sungguh membuat hati Tamara merasa bahagia.
"Benarkah nak? terimakasih sayang." Tamara kembali memeluk Bella yang mengangguk.
"Semua barang Bella biar di jemput sama Jefry atau yang lain," ungkap Tamara. Semua hanya mengangguk.
"Biar aku yang mengemasi barang Bella," ucap Megan pada akhirnya.
Hari ini Bella akan langsung tinggal bersama ibunya, sementara Barnest dan Lucia juga Megan kembali kekediaman mereka dengan perasaan tak menentu.
Hari itu, Bella benar-benar menghabiskan waktunya bersama Tamara, mereka mengelilingi rumah, taman dan tempat-tempat lain di rumah itu.
Di dalam rumah Bella begitu terharu, meskipun sudah belasan tahun, tapi foto nya masih terpajang dengan rapi di berbagai tempat di dinding rumah itu.
Sementara ditaman, Bella melihat begitu banyak bunga yang indah sedang bermekaran, tempat itu adalah tempat favorit Tamara ketika sendirian dan merindukan Bella.
Bella begitu antusias, karena sesungguhnya Bella juga sangat menyukai bunga. Dia mendekat dan menghirup hampir setiap bunga.
"Mama kalau sedih dan ingat kamu, Mama pasti kesini, karena Mama masih ingat, bahwa Bella sangat suka dengan bunga, apalagi bunga yang ini," tunjuk Tamara pada sebuah bunga yang memang sangat cantik, apalagi sedang mekar.
"Mungkin mereka tau, akan kedatangan gadis cantik, makanya mereka mekar agar tidak kalah cantik." Tamara dan Bella akhirnya tertawa dengan candaan Tamara.
"Mama yang rawat ini semua?"
__ADS_1
"Iya, Mama yang rawat, tapi terkadang juga dibantu sama Bibi Tati, dia itu sudah seperti saudara bagi Mama, dia juga suka temanin mama kalau lagi sedih."
"Apa Bella masih ingat dengan Bi Tati?" Tanya Tamara. Bella menggeleng pertanda tidak ingat.
"Dulu, Bi Tati yang menjaga Bella jika Papa sama Mama lagi sibuk dan ngak bisa bawa Bella, tapi jika tidak terlalu sibuk, mama akan membawa Bella," terang Tamara.
Bella hanya tersenyum mendengar semua yang dikatakan Tamara. Tapi tiba-tiba ia teringat akan seseorang.
"Ma... papa dimana makam nya? Bella ingin kesana," ungkap Bella pada sang mama.
"Makam papamu ada didekat rumah sakit tempat mama dirawat dulu, besok kita kesana."
"Iya ma."
"Non..., nona, syukurlah nona kembali, nyonya sangat tersiksa dengan perpisahan kalian," ucap seseorang yang datang sedikit berlari, dia yang baru pulang dari pasar, langsung mencari keberadaan Bella setelah mengetahui anak majikannya itu telah pulang, ART tadi yang memberi tahukan padanya.
Matanya berkaca-kaca memandang Bella, melihat hal itu, Bella dengan reflek memeluk si perempuan, membuat si perempuan terkejut dengan perlakuan anak majikannya itu, tapi Tamar malah tersenyum.
"Ternyata kamu didik sangat baik nak," bathin Tamara.
"Iya ma." Bella melepas pelukannya. " Bi, terima kasih banyak, karena selama ini bibi telah menemani mama," ucap Bella tersenyum.
"Bibi sama sekali tidak terbebani non, non Bella tidak perlu berterima kasih, karena bibi juga sangat senang bisa menemani nyonya Tamara, beliau orangnya sangat baik, bibi beruntung bisa mendapatkan majikan seperti beliau." Bi Tati mengusap sudut matanya, merasakan bahagia karena yang dinantikan nyonya nya sudah kembali.
"Non tau, nyonya Bella selalu berharap untuk bertemu kembali dengan non, siang malam di panjatkan do'a, alhamdulillaah ketulusan do'a seorang ibu dikabulkan ALLAH," ungkap bi Tati, sekarang mereka sudah duduk di sebuah kursi yang ada ditaman, dan Tamara tetap di kursi rodanya.
Mendengar itu, Tamara hanya tersenyum, sementara Bella kembali merasa sedih, karena pasti ibunya sangat menderita berpisah dengannya.
***
Di kediaman Barnest, semua tampak diliputi kesedihan, termasuk Megan.
Dia yang semula begitu bahagia karena kedatangan sang adik, harus mengubur kebahagiaan itu dan terpaksa menggantinya dengan rasa sedih.
"Megan, apakah barang adikmu sudah kamu bereskan?" tanya Lucia. Karena dia melihat Megan hanya bermenung didalam kamar. Dan kedatangan Lucia menyadarkan lamunan Megan.
__ADS_1
"Belum ma, bentar lagi aku beresin," sahut Megan kembali menatap kedepan setelah sebelumnya menoleh pada ibunya.
"Baiklah, mungkin nanti sore barang Bella akan dijemput," ucap Lucia. Setelah itu dia keluar dari kamar anak lelakinya.
"Hah...," Megan menghela nafas panjang dan setelah itu bangkit dari duduknya menuju kamar Bella.
***
Dikamar Bella, Megan mengemasi semua barang Bella, tidak semua sih, karena Lucia melarang membawa semuanya agar nanti jika Bella datang berkunjung, pakaian ganti untuk Bella masih ada.
Dia memasukan barang-barang yang kiranya di sukai Bella, Megan memeriksa semua laci yang ada, siapa tau ada barang berharga Bella atau barang kesukaannya tersimpan disana.
"Apaan nih?" gumam Megan sa'at menemukan sesuatu yang unik.
"Cantik, kayak orangnya." Megan tersenyum sendiri membayangkan yang dia ucapkan. Tapi memang benar, Bella sangat cantik dengan bibir tipisnya yang merah merona, warna alami tanpa polesan apapun.
Perlahan Megan membuka benda itu. "Ternyata diary," gumamnya lagi.
Dengan iseng membukanya, dan karena penasaran ia membaca isinya.
"Ah, cuma curhatan anak ABG," ucap Megan sa'at dia membaca tulisan yang ada dilembar awal dan beberapa lembar berikutnya.
Disana Bella mengisahkan kekesalan pada sang kakak karena telah membuat malunya, dan juga acara PDKT mereka waktu itu jadi berantakan.
Waktu SMA Bella memang pernah menyukai pria di sekolahnya, si pria merupakan idola di sekolah itu, dan Bella merasa sangat senang mengetahui jika pria itu juga menyukai Bella.
Tapi sayangnya, hubungan mereka harus berakhir sebelum dimulai karena ulah dan ke aroganan sang kakak, si pria tidak lagi berani mendekati Bella karena ancaman Megan.
"Dasar perempuan, yang beginian aja di curhatin sama buku." Meskipun mengerutu, Megan tetap tersenyum karena terbayang ulahnya waktu mengancam si pria.
Tapi dibagian agak ketengah buku itu, Megan sedikit penasaran, karena ada gambar hati disana, ia pun membacanya. Dan betapa terkejutnya Megan membaca tulisan itu.
"Apa maksudnya ini?"
*****
__ADS_1