
"Lagi sibuk ngak?" Seseorang terlihat sedang menelpon.
"Tidak paman, ada apa?"
"Bantu paman menyingkirkan seseorang, dia akan mengganggu ketenangan paman" Ucap Takana.
"Siapa paman?"
"Nanti paman kirim foto dan informasi nya, tolong bereskan dia, paman sangat berharap padamu, karna anak buah paman tidak bisa diandalkan"
"Buat apa menghabiskan uang membayar orang, kalau dia tidak dapat diharapkan?" Ucap seseorang di seberang sana.
"Ck, entahlah, dia itu seperti ada yang melindungi, sudah beberapa kali kena musibah, tapi tetap aja selamat!"
"Ya sudahlah, kirimkan semua datanya, nanti akan aku coba bantu paman"
Sambungan pun terputus, Takana segera mengutak-atik handphone, setelah itu dia tersenyum, karena telah berhasil mengirim data orang yang akan dia singkirkan.
"Hah, kali ini pasti berhasil, dia anak mafia, ngak mungkin gagal menyingkirkan satu perempuan" Takana berguman dan tersenyum.
"Setelah ini, tidak akan ada lagi yang akan menggangu ku" kemudian dia kembali menenggak minuman yang ada di hadapannya, sekali sesap, satu gelas ludes.
Sementara yang menerima data orang yang akan disingkirkannya, mengernyitkan alis.
"Hanya seorang perempuan, dia tidak becus mengurusnya, dan malah menyuruhku yang mafia kelas kakap ini, ck, dasar laki-laki lemah, kalau bukan paman ku, aku tidak akan membantunya" gerutunya, kemudian memandang lagi foto yang ada di handphone nya itu.
"Cantik" gumamnya, "kenapa perempuan secantik ini ingin dibunuhnya, emang seberapa bahanya nya sih dia?" setelah beberapa sa'at memandang, akhirnya si pria menyimpan handphone di atas meja kerjanya.
*
Sementara Megan pun merasakan kecemasan, kecemasan pada adiknya yang sedang tidak aman sa'at ini.
Megan masih berusaha mencari siapa yang berniat ingin mencelakai adik nya itu, dia telah mengerahkan anak buahnya untuk menyeliki semuanya.
Semenjak Bella menghubunginya, dan memberitahukan tentang kejadian yang telah di alami sang adik, hati Megan merasa sangat tidak tenang.
__ADS_1
***
"Tuan, customer nya sudah datang, mereka sudah di lobi!" Barry memberikan informasi nya.
"Apa semua sudah beres?" Tanya Megan bangkit dari duduknya.
"Sudah tuan"
Merekapun berjalan keluar , dengan Barry membukakan pintu untuk tuannya.
Sesampainya di ruang rapat, Megan segera menghampiri kursi kebesarannya, dan duduk disana menunggu rekan kerjanya yang sebentar lagi akan tiba di ruangan itu.
"Dima mereka?"
"Sudah di luar tuan, sebentar lagi mereka akan masuk" Barry menjawab, dan Meganpun mengangguk kan kepalanya.
Dan benar saja, setelah pintu dibuka, masuklah seorang laki-laki dengan pakaian mewahnya dengan beberapa bawahannya, dia berjalan dengan tegap meski tidak semuda Megan lagi.
"Selamat datang, tuan Takana" Megan bangkit dari duduknya, kemudian menyalami tuan Takana yang sudah berjalan mendekat padanya.
"Terimakasih kasih Tuan Megan" tuan Takana menyambut uluran tangan Megan "anda sungguh luar biasa, di usia yang masih muda, sudah bisa mengembang perusahaan dengan sangat baik"
Rapat pun dimulai, Hany, seorang karyawan di perusahaan itu, ditunjuk Megan sebagai presenter untuk menyampaikan presentasi nya di depan tuan Takana dan jajarannya.
Berkat kepintaran dan kegesitan Hany, dia mampu menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan audience nya, dia juga berhasil menggaet customernya.
Tepuk tangan pun menggema di ruangan itu, semua merasa puas, tak terkecuali tuan Takana dan juga Megan sendiri.
"Saya sangat puas dengan presentasi anda, saya menyetujui untuk bekerjasama dengan perusahaan anda, satu minggu lagi, kita akan bertemu kembali, dan menandatangi kesepakatan kita" tuan Takana kembali menjabat tangan Megan, dan mereka pun bersalaman.
Setelah berpamitan, tuan Takana dan jajarannya melangkah keluar dari ruangan.
"Bagus Hany, kamu berhasil, terus tingkatkan kemampuan mu!" ucap Megan pada bawahannya itu, dengan sedikit senyuman, membuat hati Hany seketika berdesir melihatnya.
Bagaimana tidak, orang yang selama ini terkenal dingin dan kaku, kini malah tersenyum kepadanya.
__ADS_1
"oh , ya ampuunn,, manis banget senyumnya, walaupun hanya sekilas, tapi itu benar-benar sangan waw, lebih tampan dari pangeran Hamdan dari Dubai " Hany membathin. "Ternyata dia bisa senyum juga ya?"
Hany merupakan sekretaris Megan untuk di kantor, dia baru bekerja selama empat bulan disana, dan itu adalah presentasi pertamanya didepan customer, berbeda dengan Barry, yang akan selalu ada dimanapun Megan berada, kecuali toilet dan tempat yang tidak diizinkan Megan untuk ditempati Barry.
"Terimakasih pak!" sahut Hany dengan menundukkan kepalanya dengan sedikit gemetar.
"Kamu kenapa gemetar? masih grogi?, perasaan kamu tadi biasa-biasa" Megan sedikit mengernyitkan alisnya, pertanda tak percaya dengan ucapannya sendiri.
"Iya pak, mungkin grogi tampil tadi" Hany berkilah, karena sesungguhnya, dia gemetar bukan karena grogi akibat tampil tadi, tapi gemetar akibat berhadapan dengan atasannya.
"Jangan memanggil saya pak, sudah berapa kali saya ingatkan, memangnya saya sudah seperti bapak-bapak?" Megan langsung saja menjadi kesal.
"Ma'af tuan, ma'afkan saya!" Hanya sedikit ketakutan, dan hanya bisa menunduk, tidak berani menatap tuannya.
"Sekali lagi saya minta ma'af tuan, saya tidak akan mengulanginya lagi" Kali ini benar-benar takut, takut dipecat oleh atasannya.
"Tuan, ma'afkan saya" dia masih tidak berani mengangkat wajahnya, masih dengan posisi menunduk dalam.
"Tuan!" Karena masih tidak ada jawaban,Hany pun memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dengan perlahan.
"Loh, kemana dia?" Hany malah terkejut, karena tidak mendapati siapapun lagi diruangan itu, termasuk orang yang diajaknya bicara tadi.
"Kapan perginya? jadi aku dari tadi ngomong sendiri?" Hany bertanya pada dirinya sendiri.
"Hah, syukurlah, aku bisa bernafas lega, itu berarti, tuan dingin dan kaku itu tidak akan mempermasalahkan aku lagi" Hanypun mulai tersenyum, sedikit kesal juga merasa lega.
"Tuh cowok kenapa dingin bangat ya? apa dia lahir di kutub? atau ibunya sering makan es sa'at hamil dia?"
"Seandainya dia tak sedingin itu, seandainya dia sedikit lebih hangat, mungkin aku akan mendekatinya, ngak kebayang enaknya jadi nyonya Megan, tinggal duduk manis dan ngak perlu kerja, tapi duit tetap mengalir, haha," Hany nyeletuk sendiri sambil berjalan ke ruang kerjanya.
Seperti hal nya dengan perempuan lain yang memang pada dasarnya matre, Hany pun begitu, hanya saja, tidak semua perempuan bisa mendepatkan keinginannya itu.
Harus diingat, perempuan yang baik, matre nya bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga memikirkan masa depannya, dan juga kehidupan anaknya kelak, Hany pun begitu, dia tidak hanya memikirkan dirinya untuk sa'at ini, tapi juga masa depannya.
Tapi ada juga yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan hanya untuk hari ini, tidak memikirkan masa depannya, seperti halnya Jessica.
__ADS_1
Seharusnya perempuan itu bisa membuka usahanya sendiri dari uang yang selalu diberikan Megan selama ini, tapi sayang, dia tidak memiliki jiwa seperti itu, yang difikirkannya hanyalah kesenangan hari ini, dan juga keterbiasaannya menjadi anak yang selalu dimanja.
****