
Kamu jadi pulang? Besok kalau ke sini jangan lupa ya bawa oleh-oleh khas daerahmu hahahaha!" (Mas Danu)
"Iya betul tuh! Apalagi kalau bawa banyak, kita pasti bahagia! Hehehee!" (Bang Dian)
Belum lagi teman-teman yang lain, mereka mencandai Tio tanpa sungkan-sungkan.
"Bercanda lho Tio, yang penting kamu hati-hati saja di jalan, tapiiii... kalau sungguhan juga gak apa-apa deh! Hahahaha! Ucap danu di barengi tawa teman-teman yang lain. Tio hanya tersenyum dan mengiyakan saja. Supaya mereka tenang dulu.
Sejujurnya Tio sendiri belum tahu kalau saat ini di kampung lagi musim apa. mungkinkah masih sedikit tersisa hasil tani di kampung?. Yah kalau memang tak ada di rumahnya, Tio bermaksud akan membelinya dari tetangga. Tio juga ingin sedikit berbagi, agar teman-temannya ikut merasa bahagia dengan perhatian darinya.
Malam semakin larut, mata tak kunjung merasa ngantuk, terus terusan memikirkan apa yang akan terjadi besok. Apa yang akan di lakukan selama libur di desa, oleh-oleh apa yang akan di bawa ke desa untuk memberi kejutan kecil pada adik-adiknya, dan memikirkan apa yang akan kembali di bawa ke kota nanti setelah libur di desa.
Seharusnya itu tak usah terjadi. Tapi entah mengapa Tio harus selebay itu memikirkannya. Mungkinkah gugup? Karna ini adalah pertama kali merantau dan pertama kali dirinya pulang kampung. Pasti orang-prang akan banyak mengintrogasi dirinya. Tentang karir dan penghasilannya selama di kota, kemudian Tio akan merasa risih dengan pertanyaan itu, karna dirinya bekerja bukan di tempat yang bergengsi. Laluu... Mungkin Tio akan lebih banyak menghindari hal-hal itu dengan ide-ide kilatnya.
Hingga akhirnya lamunan itu hilang juga seiring rasa kantuk yang akhirnya mampu mengalahkan khayalannya. Terlelap dalam tidur memang itu kebiasaannya. Mungkin efek rasa lelah setelah seharian menjalankan rutinitas di toko.
Terbangun di pagi buta. Begitulah rata² orang menyebutnya. Padahal itu adalah kisaran jam empat pagi, idealnya di sebut subuh. Tapi entah sejak kapan istilah pagi buta itu di pakai orang, gak ada yang tahu hehehee!
Sepagi itu Tio terbangun. Sesungguhnya Tio tahu persis kalau keberangkatan bis x jam delapan pagi. Dan dari tempat kerjanya pun gak terlalu jauh, mungkin hanya empat puluh menitan kira-kira menuju terminal C.
Namun ketidak sabarannya untuk pulang kampung sudah tak terbendung lagi. Sampai-sampai mengabaikan matanya yang masih terasa mengantuk. Kebetulan sekali pas pamitan pada Wahid via telpon semalam Wahid menawarkan diri bersedia mengantar Tio sampai ke terminal C. Jadi itu sedikit meringankan Tio, karna pasti bakal menumpang gratis dan menghemat ongkos.
"Gimana sudah siap semuanya?" Wahid sedikit melayangkan pertanyaan.
"Sudah doong!" Jawab Tio dengan sedikit merapikan barang bawaanya. Tinggal di kota B selama itu rupanya cukup membuat ranselnya beranak. Baju sudah mulai banyak, mungkin ada beberapa bekas pakaiannya yang bisa di gunakan kembali oleh adik-adiknya nanti. Jadi Tio tidak membuang baju-baju bekasnya. Melainkan selalu menyimpannya dengan rapi, untuk di bawa mudik. Waktu di desa, ibunya tidak suka kalau Tio membuang-buang atau membakar pakaian bekas meski sudah usang sekalipun. Entahlah apa alasan ibunya demikian. Mungkin ibunya masih ingin memanfaatkan baju yang benar-benar sudah rusak itu sebagai lap dapur. Jadi sebelum benar-benar rusak dan jadi sampah akan di larang di buangnya.
Setelah berpamitan Tio pun tidak berlama-lama lagi membuang waktu.
Wahid pun memacu skuternya lebih cepat.
Tio memberi isyarat agar Wahid menghentikan laju skuternya. Ia ingat belum berpamitan pada bang nana. Dari itu timbul niatnya mencari bang Nana di pangkalan warung bu Tina.
Namun bang Nana tak ada di sana.
Karna waktu semakin sempit, Tio pun melanjutkan perjalanan ke terminal C.
__ADS_1
Hari raya idul fitri masih dua bulan lagi. Tapi penjaja petasan kembang api sudah mulai ramai menyambut kedatangan bulan suci ramadhan. Timbul keinginannya untuk membeli sedikit kembang api itu dan membawanya pulang. Pasti adik-adiknya akan sangat senang pikirnya.
Namun teringat karna perjalanan akan jauh khawatir takut bahaya ketika di dalam bisnya, maka Tio mengurungkan keinginan itu. Terlebih ranselnya itu berlebihan muatannya. Jadi Tio berencana akan meletakan bawaannya di bagasi saja. Dan Kali ini ranselnya lumayan berat. Salah satunya bahkan berisi oleh-oleh yang sengaja di belinya sejak jauh-jauh hari.
Di kota banyak mall-mall dan pasar-pasar malam. Namun Tio lebih banyak berkunjung ke pasar malam untuk membeli semuanya. Karna siang hari adalah waktu untuknya bekerja. Baginya itu sudah sangat bagus karna di desa tidak perlu baju bermerk. Asal bisa ganti saja sudah bersyukur. Entah sudah berapa lama ibu mereka tidak membelikan baju baru. Bahkan di hari raya tahun lalu pun tidak sepotong pun. Bagi nya kebutuhan pokok lebih penting ketimbang pakaian bagus.
Kali ini Tio membawakannya beberapa potong. Untuk ketiga adiknya.
"Aku titip salam saja sama semuanya! Kamu hati-hati ya! Aku pamit dulu, aku masih ada janji ketemu teman! Ingat jangan sampai mabuk perjalanan ya hahahahaa!" Olok Wahid.
"Makasih ya hid! Udah di anterin, gak sekalian nambahin ongkosnya nih? Hehehehe! Balas Tio.
Wahid ikut terkekeh mendengar ucapan Tio.
"Maneh mah tuman! Ingett... Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah! Hahahaa... Udah ah aku pulang dulu ya!" Wahid pun langsung ngacir bersama skuter andalannya. Meninggalkan Tio yang tertawa terbahak-bahak melihat ulah sohibnya. Tak berapa lama Bis X pun datang, menaikan semua penumpang yang sejak tadi menunggunya. Begitupun dengan Tio yang turut bergegas naik bersama penumpang lainnya.
Suasana kampung sudah terbayang di angan-angannya. Ketika bis X berlalu meninggalkan terminal C. Sepuluh bulan cukup bisa merubah pola bangunan. Banyak gedung yang ketika Tio datang ke kota ini terlihat masih terbengkalai, kini sudah mulai banyak yang di rapikan, bahkan cenderung banyak yang selesai. Dan terlihat lebih indah saja berpadu polesan warna warni cat.
Memandang jalanan yang panjang di sertai hembusan angin dari balik jendela kaca bis, membuat kantuknya kembali hadir.
Kebetulan hari masih pagi, walaupun cuaca cerah tapi belum terlalu terik.
Beruntung kali ini dia cepat tertidur. Itu lebih baik daripada melek, di samping bisa menghilangkan bete dan kelelahan dalam berkendara, tidur juga sedikit membuatnya kembali fit.
Haii teman-teman...
Apa kabarmu? Saya harap kita semua baik-baik selalu...
Tetap jaga kesehatan ya all...
Dan usahakan memakai masker jika keluar rumah.
Ada atau tidak corona, tetap masker berguna untuk menyaring polusi udara.
__ADS_1
Terutama untuk yang tinggal di kota-kota industri.
Salam sehat semuanya... Luv! Luv!
__ADS_1