
"assalamualaikum Tio...
Apa kabarmu? maaf aku sedikit mengganggu. Aku hanya ingin memberi kabar untukmu, kalau aku sudah bertunangan sekarang dengan teman kuliahku dulu."
"Maaf ya, kalau dulu aku sempat mengharapkan kamu menjadi pasangan hidupku hehehee! aku konyol dan egois, memaksakan kehendak. Kuharap waktu itu kamu tidak merasa terganggu oleh kelakuanku."
"Oh iya, segera menyusul kami ya! ku kira Rani menyukaimu, dan kurasa kamu juga menyimpan rasa yang sama! jadi kejarlah dia! jangan sampai kamu menyesal nanti, saat dia duduk bersanding di pelaminan dengan yang lain! semangat ya Tio!"
"Jangan minder! kamu pantas mendapatkannya, berjuanglah ya kakakku sayang!"
"Aku doakan semoga kamu berhasil dan sukses! kabari aku, jika Rani sudah di menjadi milikmu... Goodluck kakakkuu!"
Tio mulai membaca pesan beruntun dari Eca. Gadis yang sempat menyukainya dan sudah dia anggap sebagai adik angkatnya sendiri. sudah sangat lama sekali tidak saling memberi kabar, kali ini begitu mengejutkan, tiba-tiba saja mengirim pesan!.
Pesan kiriman dari tadi pagi, baru kebaca siang ini. Tio membaca pesan itu sambil menikmati istirahat siang. Tiopun langsung membalas pesan itu.
"Waalaikum salam Eca adikkuu... tentu aku selalu memaafkanmu! kakak juga minta maaf ya kalau pernah membuat kamu kecewa atau patah hati hehehee! Apakah kamu serius tentang Rani? dan sejak kapan kamu memakai kata aku dan kamu? oohh... kakak lupa, kamu sudah dewasa ya sekarang,, beda usia rasa seumuran. kamu pasti lebih cepat tua dari kakak kalau nikah duluan hahahaa!"
"Baiklahh, kakak doakan semoga kamu bahagia dengan pilihanmu."
"Jangan lupa kabari kakak ya kalau nanti kamu sudah di kampung, dan kirim photo anakmu kalau punya anak nanti!"
"Ayo kita balapan, siapa yang punya jagoan duluan! Heheheee!"
"Bercandaaa... Maaf yaa,, pokoknya kakak doakan semoga kalian selalu bahagia di manapun kalian berada, aamiinnn."
Demikian isi pesan Tio. Lega rasanya mendengar Eca akan menikah. Setelah sekian lama tiada kabar berita darinya, baru kali ini dia ngechat, dan sekaligus memberi kabar besar pula! Eca memang penuh kejutan.
"Terimakasih Eca, karna saran darimu aku bisa duduk di kantor ini, melanjutkan pendidikan kelas karyawan, dan mengikuti les komputer sesuai keinginanmu, akhirnya mengantarkanku ke sini, tempat yang sangat ingin aku singgahi untuk ku menekuni karier yang yang benar-benar aku mimpikan! baju kemeja dengan warna yang sama, meja kerja dan ruangan yang sama, dengan ac di dalamya, dan segelas kopi panas di mejaku! sesuai khayalanku dahulu!" dan kini benar-benar nyata tengah di rasakannya.
__ADS_1
Kembali sekali lagi pikiran Tio melayang di mana masa itu mereka masih sering bermain bersama Rani.
Lamunan terhenti, ketika istirahat usai, dan salah satu temannya segera mengajaknya beranjak dari tempat itu.
Restoran kecil namun padat pengunjung. Resto ini cukup hits dengan varian makanannya yang terkenal enak.
Namun pesan Eca seakan masih terngiang-ngiang di kupingnya terus. Mungkin Eca benar, kali ini Tio harus lebih berani terus terang tentang perasaannya terhadap Rani, Tio harus mencoba mengungkapkan perasaannya, daripada tidak sama sekali dan membuat penyesalan di kemudian hari. Tio harus berani menerima kenyataan dengan apapun keputusan Rani. Termasuk menerima pahitnya ketika Rani benar-benar menolaknya.
Jam tiga siang, sebantar lagi jam pulang. Tio berusaha menyelesaikan semua tugas-tugasnya dengan lebih cepat.
Tio harus lebih bersemangat menjemput mimpinya, karna semua demi masa depannya juga. Reward bagi karyawan yang berprestasi juga selalu di berikan oleh perusahaan setiap setahun sekali. Ada kejutan tunjangan istimewa sesuai kinerja dan lamanya pengabdian di perusahaan. Itupun menjadi salah satu penyemangatnya, meskipun dia tidak yakin akan mendapatkannya di tahun ini. Karna perusahaan sempat sedikit goyah, di pertengahan tahun lalu. Namun kini sudah berangsur kembali stabil, malah incomenya jauh lebih besar dari sebelumnya. Kebijakan reward ini juga adalah ide dari pemilik perusahaan sendiri. Perusahaan juga tidak pelit memberikan bonus-bonus kecil ketika akhir bulan. Semua adalah bentuk kepedulian terhadap para karyawannya. Sebagai pengganti bentuk tanda kasih sayangnya.
Pintu terdengar di ketuk, tidak salah lagi itu pasti Lina!.
Entah kenapa akhir-akhir ini Tio merasa Lina terlalu sering mengusiknya. Meskipun Tio merasa tidak nyaman, namun Tio berusaha menghargai Lina, karna dia seorang perempuan. Lagi pula selama ini mereka sudah berteman baik.
"Ya silahkan masuk!" Ucap tio sedikit mengeraskan suaranya agar orang di balik pintu bisa mendengarnya. Karna keadaan di ruangan itu cukup kedap suara.
Seorang gadis masuk membawakan segelas teh hangat. Benar sekali dugaan Tio, ternyata dia Lina.
"Apa itu?" Tanya Tio.
"Teh hangat,," jawab Lina.
"Apa kamu salah room? Karna aku tidak memesannya," ucap Tio datar.
"Memang tidak ada yang memesannya, aku hanya sedang tidak ada kesibukan di pantry, jadi aku kesini membawakanmu teh hangat, ac di ruangan ini kan cukup dingin, ku kira kamu akan membutuhkan teh ini." Tio diam tak bergeming sedikitpun.
Dia tetap fokus pada pekerjaannya.
__ADS_1
"Apa kamu butuh makanan kecil lainnya?" Lina kembali melayangkan pertanyaan.
"Maaf Lina, ini bukan jam istirahat! dan sebentar lagi jam pulang, tolong jangan bawakan apapun ke mejaku lagi kalau aku tidak memintanya! aku takut nanti malah akan mengotori berkas-berkasku jika minuman dan makanan memenuhi mejaku, aku harus menyelesaikan tugasku secepatnya! Tolong bawa kembali minuman ini, atau nanti tumpah dan membasahi kertas-kertas ini." Ucap Tio.
Nada bicaranya terdengar sangat tidak nyaman untuk telinga Lina.
Lina merasa kecewa sekali, ketika merasa niat baiknya tidak di hargai.
Minuman itu kembali di bawanya keluar dari ruangan Tio. Kesedihan nampak mewarnai raut wajahnya. Untuk sekian lama Lina mengunci diri di ruang pantry.
"Apa aku salah melakukan itu? aku hanya ingin memberikan semua itu sebagai rasa terimakasihku kepadanya karna dia sudah mau memberikan aku tumpangan, itu saja!" titik air mata nampak jatuh di pipinya. Mengapa kali ini sikap Tio sangat terasa melukai hatinya. Padahal itu hal biasa yang terjadi ketika dia melakukannya pada staff yang lain. Dia akan membawa minuman itu kembali jika mereka tidak menginginkan minuman itu.
Tapi kenapa ketika giliran Tio melakukan itu hatinya merasa sakit dan sedih?.
Sementara itu di ruang kerja Tio sedikit di hantui rasa bersalah akan kejadian ini. Tio berharap Lina baik-baik saja dan tidak mempermasalahkan hal ini.
"Kenapa dengan aku? kenapa aku emosional sekali tadi? padahal niat Lina baik, dan aku juga membutuhkan teh itu!"
Tio mengelus-ngelus keningnyanya.
Tiba-tiba saja dia merasa konsentrasinya hilang. Beruntung berkas itu sudah rapi di mejanya.
Sebentar lagi jam pulang, dan pekerjaanya pun sudah rapi. Tio kembali merogoh sakunya dan menghidupkan data seluller ponselnya.
Rupanya Eca masih mengirim balasan pesan untuknya.
Lagi-lagi Tio harus telat membalasnya.
Ada ucapan terimakasih dan suport yang tak henti-hentinya Eca tuliskan. Tak lain semuanya tentang Rani.
__ADS_1
Memikirkan Rani selalu membangkitkan semangatnya lagi. Meskipun perasaan itu sudah lama singgah di hatinya, namun ternyata tak pernah pergi meninggalkannya. Rasa itu tetap melekat dan bersemayam dalam dadanya. Tio sendiri menduga kalau perasaan itu akan hilang dengan sendirinya. Tapi ternyata tidak juga sampai hari ini.