
"Bu besok Tio balik ke kota!" Tio mengeliarkan amplop coklat pemberian pak Dani ketika dirinya hendak pulang kampung.
Ibu bersiap menyambut di selimuti rasa penasaran.
"Apa itu?" Ibu mulai bertanya.
"Ini uang gaji Tio yang terakhir bu, kemarin Tio ingat ibu ingin beli hewan ternak, jadi amplop ini sengaja Tio simpan dulu, biar gak kepake macam-macam!" Jelas Tio.
Uang itu memang sengaja tidak Tio serahkan di awal kedatangannya.
Tio takut kalau ketika dia tiba amplop itu di serahkan, pasti ibunya bakal membeli banyak kebutuhan untuk menjamu dirinya. Lalu isi amplop akan berkurang dan impian membeli hewan ternak akan tertunda.
Tio khawatir akan lama lagi waktunya untuk bisa mengumpulkan uang sebanyak itu.
"Oh iya,, kalau kamu mau, kamu bisa belikan sendiri sesuai pilihanmu! Ibu terima mengurus saja! Adik-adikmu pasti dengan senang hati merawat kambing kita!" Ibu memberi saran.
Tio cukup mengerti dengan arahan ibu. Selesai menghitung budget dan membagi -bagi dengan kebutuhan lainnya, maka Tio pun tidak berlama-lama membiarkan jatah uang untuk membeli ternak berada di kantong.
Gak mesti kambing atau domba, ayam pun boleh, maunya sih beli sapi, tapi kalau untuk sapi gak mungkin banget untuk saat ini. Jangankan beli induknya, untuk membeli anak sapinya aja belum cukup uangnya.
Tidak sampai setengah hari, Tio berhasil membeli seekor domba gimbal. Cukup gemuk dan lumayan besar. Nampaknya domba itu tengah hamil, dan sang penjual awalnya enggan menjualnya. Namun Tio berhasil menawarnya sesuai harga kesepakatan.
Dengan membeli domba yang sedang hamil, kemungkinan besar domba Tio akan lebih cepat bertambah banyak jumlahnya dalam waktu dekat. Domba itu pun di beli dengan harga yang tidak terlalu mahal. Mungkin hanya separuh harga dari harga jual di kota.
Tio pun sengaja membelinya dari warga, bukan dari tangan para tengkulak hewan. Dengan harapan jika ada sisa uang nanti bisa menambah uang saku ibu di kampung. Yang pasti selama sebulan ini dia tidak mungkin bisa mengirimi ibu uang. Karna sisa gaji terakhir sudah full di terimanya berikut sedikit bonus dari bosnya.
Tio memberikan sisa uang lembaran merah beberapa lembar lagi. Jika uang itu di belikan sekedar untuk sembako, pasti masih akan lebih.
Ibu sangat terharu dan berterima kasih kepada Tio. Bersyukur sekali atas kerja keras Tio dan kepeduliannya terhadap keluarga. Ada juga keluarga di desa itu yang beberapa di antaranya memiliki anak seusia Tio. Tapi mereka malah banyak berpangku tangan, mengandalkan para orang tua untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jarang anak yang bisa di andalkan dan berbakti seperti Tio.
Namun karna keadaan di desa, orangtua juga tidak bisa menyalahkan anak sepenuhnya, memang situasi perekonomian di kampung yang masih seperti itu.
Ada keinginan Tio untuk bisa merubah tatanan kehidupan di desanya. Membina kehidupan para pemuda seusianya agar bisa berkarya dan menghasilkan pundi-pundi rupiah Namun terkendala biaya, semua hanya terpendam dalam angan semata.
Masih ada waktu setengah hari untuk bisa jalan-jalan mengelilingi kampung. Kebetulan ada beberapa teman dekat yang belum sempat di temuinya.
Tio berencana akan berkunjung ke rumah salah satunya, ya ke rumah rahmat menjadi pilihan pertamanya.
Di temani kedua adik lelakinya, zaka dan zaki berjalan beriringan.
__ADS_1
Sekali-sekali mereka terdengar melepaskan tawa, entah hal lucu apa yang membuatnya terpingkal-pingkal..
Entah kenapa sejak Tio kembali ke rumah, kedua adiknya seperti enggan berjauhan. Selalu mengikuti kemanapun Tio pergi.
Hingga sampailah mereka di ujung desa. Terdapat sebuah rumah yang cukup besar namun bukanlah rumah mewah. Hanya rumah setengah bata berpadukan bilik-bilik dari kayu. Halaman yang bersih dan rumah yang nampak apik terawat. Dengan halaman pemandangan sawah dan ladang yang menghampar luas milik para petani sekitar.
Indah bangett, siapapun yang datang ke sini pasti akan sangat betah berlama-lama di sini. Ada kumpulan pohon bambu yang walaupun tidak terlalu lebar tapi cukup membuat suasana teduh dan nyaman.
Belum lagi pohon-pohon yang besar berdiri kokoh di sekelilingnya. Ada pula pohon yang ketika mereka masih kecil, mereka sempat main di sana. Tempat favorite anak-anak melepas lelah selepas menggembala. Atau pun ketika ternak mereka asyik menikmati rumput, mereka akan mengawasinya dari bawah pohon besar itu.
Konon menurut para orang tua, tuanya pohon itu melebihi tuanya usia nenek Tio sendiri.
Tidak ada yang tahu pasti berapa usia pohonnya. Namun pohon itu adalah pohon yang paling akrab dengan warga. Batangnya yang kokoh tidak menampakkan usianya yang katanya sudah tua.
Mungkin dia turut menjadi saksi sebuah generasi yang hilang berganti. Menyaksikan seseorang tumbuh menjadi dewasa, menikah, mempunyai keturunan, dan cucu-cucu, menua dan kembali ke pangkuan illahi.
Daun-daun dan batang masih nampak segar dan hijaunya.
Banyak burung-burung membuat sarang di dahannya.
Sungguh suasana yang seimbang. Manusia, hewan, dan tumbuhan hidup berdampingan, saling memelihara dan menjaga.
Seorang pemuda setengah berlari sambil tersenyum dan berteriak memanggil namanya, cukup membuat Tio kaget, di tengah asyiknya lamunan Tio sedang berlayar membayangkan masa lalunya.
Ya Rahmat menghampiri dan menjabat tangan Tio dengan kencang.
"Ari maneh kamana wae teu aya kabar berita, ujug-ujug ngaleungit wae!".
(Kamu kemana saja, tiba-tiba menghilang tanpa ada kabar berita!).
"Kumaha kabarna? Senangnya cicing di kota? Ieu awak meni bongsor hahahahaa!".
(Bagaimana kabarnya? Bahagia ya tinggal di kota? badanmu sampai montok Hahahahaa!).
Tambah rahmat, belum sempat Tio membela diri dan membalas pertanyaan Rahmat, Rahmat sudah menarik tangannya dan mempersilahkannya masuk ke dalam rumah.
Namun tio lebih memilih duduk di teras saja. Pemandangan di luar lebih menyenangkan rasanya.
Bosan selama di kota banyak duduk menghabiskan waktu di dalam gudang terus, paling bagus ya lihat pemandangan jalan raya yang panjang. Itupun dengan suasananya yang lebih banyak gerahh.
__ADS_1
Ya setidaknya ketika pulang ini Tio bisa menikmati sepenuhnya suasana yang selama ini di rindukannya.
Perasaan yang aneh,, ketika dirinya masih di kampung, ingin hijrah ke kota demi memperbaiki taraf hidup keluarga. Setelah di kota, selalu merasa rindu dengan suasana kampung.
Mungkin suatu saat ketika dirinya sudah mampu memiliki kendaraan, akan lebih sering mengunjungi ibunya di sini.
Hmmm,, impian baru Tio kembali mulai melambung.
__ADS_1