"MENGEJAR CITA DAN CINTA"

"MENGEJAR CITA DAN CINTA"
Episode 32 "janji temu"


__ADS_3

 Libur dan libur lagi,, di saat orang lain mendapatkan hari libur, berbeda dengan Rani.


Rani malah merasa tidak betah sendirian terus di rumah.


Mama seringkali ikut mengawasi toko ketika ayahnya sedang tidak di rumah.


Tidak ada yang bisa di ajaknya bercanda. Mungkin itulah mengapa kakaknya sangat jahil kepadanya.


Karna Rani lah pengisi waktu kosongnya ketika dia di rumah. Mungkin Rani juga seperti itu, andai mama memberinya lagi seorang adik.


 Pesanan tas juga sudah di tunda. Karna stocknya sudah habis. Mereka berencana akan melanjutkan dan memperbesar produknya saat lebaran usai.


Karna pembuatan tas itu di lakukan dengan manual, jadi memakan waktu yang cukup lama.


Tio tidak pernah datang lagi ke rumah kecuali kalau ada keperluan penting.


Fix rumah ini sepi.


 "Neng ada temennya tuh!" Bi minah nongol dari balik pintu rumah. Membuyarkan lamunannya.


Rani ingat semalam punya janji dengan seseorang.


Ranipun segera beranjak bangun.


Rani melihat Eca sedang duduk di beranda depan menghadap ke jalan.


 "Hai,, jadi juga mampir!" Sapa Rani.


 "Ya dong! Habis aku bingung mau ke mana, aku ingat semalam kita sudah bikin janji ketemuan heheee" jawab Eca.


 "Tunggu sebentar ya, aku ambilkan air minum dulu".


 "Oke!"


Rani berlalu meninggalkan beranda menuju dapur.


Ketika Rani sedang menyiapkan minuman, samar-samar Rani mendengar ada seseorang yang sedang berbicara. Sepertinya mereka akrab ya! Ada suara tawa di sana yang suaranya terdengar sampai ke dapur.


Rani meninggalkan baki yang berisi es sirup dingin.


Perlahan kakinya kembali melangkah menuju suara yang samar-samar di kenalinya itu.


Tertegun sejenak di pintu depan, ketika melihat ada seorang cowok cakep dengan seorang cewek cantik yang sedang tertawa akrab.


Sepertinya mereka saling mengenal satu sama lain.


Yaa,, Tio nampak sangat senang berbincang dengan Eca. Rani masih menyimak obrolan mereka, dan mereka pun tidak menyadari kehadiran Rani.


 "Sampai segitunya kak Tio! Akrab sekali dia sama Eca".


Namun Rani memilih kembali ke dapur, dan menambah isi baki dengan tea pot yang lebih besar dengan tambahan dua buah gelas kosong di atasnya. Strawberry selalu menjadi rasa pilihannya setiap kali temannya berkunjung ke rumah.


 "Ayo minum dulu!" Rani meletakan baki di atas meja tamu. Tio nampak terdiam mematung.


 Eca: "Iya makasih ya Ran!"


 Rani: "kalian sudah saling kenal?"


 Eca: "yaa doong! Kita satu desa kan di kampung!"


 Rani: "yang bener?"


 Eca: "ya,, aku juga terkejut tiba-tiba kak Tio nongol di sini! Ya kan kak?" Tio hanya mengangguk tanda iya.

__ADS_1


 Rani sebel, kenapa di depannya Tio tidak seperti tadi, ceria berbicara dengan Eca.


Sekarang tiba-tiba dia jadi pendiam! Setelah Rani berada di tengah mereka.


 "Dasar laki-laki!" Ingin rasanya meninggalkan mereka saja. Biar mereka puas ngobrol dan tertawa bersama.


Namun Rani juga perlu tahu tentang keterkaitan hubungan mereka berdua.


Tiba-tiba saja rasa jealous hadir melintas untuk pertama kalinya.


Itu berarti Rani harus bertahan di lingkaran ini. Dan membuang rasa bapernya jauh-jauh.


Lagipula antara Rani dan Tio tidak ada hubungan apapun, kenapa harus cemburu?.


Tapi entah mengapa jantungnya tidak bisa menerima kenyataan ini.


 "Ran, nanti sore kita mau jalan-jalan ke alun-alun kota, kamu mau ikut gak?" Tanya Eca.


Wow! Secepat itu? Secepat itu Eca mendapatkan Tio? Rani menjadi sedikit tidak tenang, ada rasa gugup untuk menjawab ajakan Eca. Haruskah dia ikut? Sedangkan Tio saja tidak bicara apapun kepadanya.


 "Apa kamu yakin mau pergi dengan kak Tio?"


 "Memang kenapa dengan kak Tio?"


 "Ya gak apa-apa sih! Hanya saja kan dia laki-laki, apa tidak jadi fitnah nanti, apa kata orang jika perempuan dan laki-laki jalan bareng tanpa status" Rani mencoba memberi sedikit alasan. Padahal mungkin tujuannya bukan ke arah situ.


Rani hanya tidak suka saja kalau Eca begitu gampangnya mengajak jalan seorang pria.


Padahal teman sekolahnya saja pernah juga kok ada yang keluar dengan mengajak teman cowoknya. Mungkin karna Rani terlalu lugu akan hal itu. Yang dia tahu adalah harus di temani mama, kakak, atau teman-teman sekolahnya. Satu-satunya laki-laki yang pernah memboncengnya secara khusus hanyalah Tio. Itupun urusannya berbeda.


 "Minum kakk!" Rani menawarkan sirup strawberry dingin kepada Tio. Gemas juga melihat Tio yang dari tadi kerjanya cuma diam. "Ada apa dengan orang ini??" Rani cukup sewot di buatnya.


 "Ngomong dong kakkk! Kakak kok tiba-tiba jadi pendiam?" Eca langsung menembak dengan tepat, ini keinginan Rani. Blashh! Tio nampak mendadak gugup memjawab pertanyaan Eca. Rani melirik ke arah mereka satu persatu sambil tersenyum puas.


  "Biasa Ran! Kayaknya dia gugup karna ada kamu deh! Biasanya dia gak gini loh!, Aku yakin kalian pasti ada apa-apanya!"


  Jelas Eca, sepertinya Eca kenal betul karakter Tio. Pantas mereka terlihat akrab!


  Tio terlihat agak gereget mendengar ucapan Eca. Terlihat dia memberi sedikit isyarat ke arah Eca agar Eca menghentikan lanturannya.


  "Kamu bisa aja Ca! Mungkin kalian yang ada apa-apanya! Hahahaaa!" Ucap Rani.


  Berusaha mencairkan suasana kembali.


  Rani menata hatinya kembali agar situasi ini tidak kaku untuk ketiganya. Eca bercerita kalau Tio adalah sahabat kakaknya di desa.


  Meskipun satu desa, namun rumah keduanya cukup jauh. Jadi Eca sedikit bercerita bagaimana cara mereka intens bertemu ketika itu. Dan ternyata mereka memang akrab.


 "Aku kan baru datang lagi ke sini, jadi aku gak tahu perubahan kota ini sekarang sudah bagaimana, jadi rencananya aku mau keliling-keliling ngajak kak Tio, anggap aja dia pemandu perjalananku heeheee!" Jelas Eca.


 "Gimana kamu jadi ikut gak? Sekalian lepas kangen juga,, kan kita baru ketemuu" sambung Eca.


Rani sulit menolak namun juga agak bingung untuk menerima tawaran itu. Namun juga Rani merasa kurang Rela jika Tio dan Rani hanya berdua perginya.


  "Aku pikir-pikr dulu ya! Takutnya di ajak mama keluar"


  "Oh ya udah, gak apa-apa sesempatnya kamu aja" Rani melempar senyum ke wajah Eca.


Rani: "Hmmm... jika pergi bertiga kira-kira naik apa ya?"


Wajahnya sedikit menoleh ke arah Tio yang nampak sok sibuk dengan ponselnya.


Ya ampuunn, cowok ini terlalu dingin, siapapun akan cepat bosan jika menjadi pacarnya.

__ADS_1


Pikir Rani. Mungkin aku biarkan saja mereka jalan berdua.


Lagi pula, walaupun aku menyukai ketampanannya, aku tidak suka dengan sikap acuhnya.


Aku pendiam, dia pendiam Kalau aku dan dia jadi pacaran, nanti yang ada malah suara jangkrik yang rame!.


Aku gak akan bertahan dengan cowok kayak gitu, mana ada perhatiannya.


Tepuk jidat rani di buatnya.


 "Kenapa Ran? Kenapa jidatnya?" Eca tiba-tiba memecahkan gelembung lamunan Rani.


 "Emang aku kenapa?".


 " Barusan kamu menepuk nepuk jidat kenapa?"


 "Oh gak apa-apa, mungkin nyamuk tadi ngegigit jadi aku tepuk deh! Heeee..."


Ouww! Alasan yang tak dapat Eca terima. Sekarang Eca yang makin curiga melihat tingkah keduanya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2