
"Ini surat undanganku,," Tio mengeluarkan sebuah amplop berwarna pink bermotif dengan detil yang indah, ada gambar pengantin dan dua huruf inisial di sana.
Tio meletakannya di atas meja kerjanya, bermaksud memberikannya kepada Lina.
Lina tidak segera mengambil amplop itu,, sekilas Lina malah memalingkan wajah, membuang muka. Jangan kan menerimanya, melihatnya saja sepertinya Lina enggan.
Air mata itu mulai memperlihatkan diri. Inilah situasi sulit bagi Tio. Pantang hatinya menyakiti orang, sekali lagi Tio merasa seakan menjadi orang yang sangat bersalah.
"Aku mohon tolong kamu jangan berlarut-larut,, aku ini bukan laki-laki istimewa,, aku terlalu tersanjung di perlakukan begini! aku tidak nyaman!" Terang Tio. Berkali-kali berusaha mengingatkan Lina, namun Lina sepertinya susah sekali melupakannya, dia terlalu baper.
Padahal ketika dirinya berbuat baik, biasa-biasa saja, sama baiknya seperti teman-teman yang lain. Tapi kenapa Lina harus membuat dirinya lebih di spesialkan?.
Masih ada toni, herman dan beberapa pemuda lain yang tidak kalah baiknya di banding dengan dirinya. Bahkan mereka sudah jauh lebih dulu saling mengenal.
"Ini undangan pertama yang aku sebar, kamu adalah orang pertama yang memilikinya." Jelas Tio. Sementara Lina tetap diam dan tetap membuang muka.
Tio menarik nafas panjang, apa salahnya menjadi dirinya sendiri? kenapa keputusannya harus membuat orang lain merasakan kecewa?.
Apalagi Linapun memang terlalu lambat mengungkap semua,,
"Tolong berbesar hatilah,, jangan terus-terusan membuatku merasa bersalah! tolong terima kenyataan jika kita bukan jodoh!" Kata-kata itu terdengar menyakitkan untuk Lina.
Di ambilnya undangan itu, dan Lina pun meninggalkan ruangan Tio. Suara pintu terdengar kencang, menandakan tidak di tutup dengan baik,, alias di banting!.
Lina menatap kartu undangan itu dengan tatapan iri,, sambil berpikir apakah dia harus menyimpannya atau segera menyingkirkannya. Mungkin tempat sampah adalah tempat yang paling baik untuk kartu itu.
"Tapiii... jika kartu itu di buang, bagaimana aku bisa datang?" akhirnya Lina memutuskan untuk menaruhnya di laci kitchen pantry.
Lina bersedih bukan karna tidak terima dengan takdir,, hanya saja perasaan yang hadir terlalu menyiksanya.
Itu juga bukan dengan keinginannya, dia tidak pernah meminta untuk mencintai Tio.
Namun anugerah itu datang dengan sendirinya, entah apa maksud tuhan mengirimkan rasa ini padanya.
"Dear Tio.,.
"Mencintai dan memilikimu bukan keinginanku, aku pun tidak mengerti kenapa tuhan menganugerahkan perasaan yang mencoba aku perjuangkan ini kepadaku!.
aku perempuan biasa, yang bisa sakit dan menangis jika aku tak mampu menanggungnya!
Aku bukan karang di laut, yang tetap kokoh berdiri meski kerap di terpa ombak.
Sayangnya aku belum beruntung memilikimu...
Jika suatu saat kau tidak bahagia dengan rumah tanggamu,, ku harap temuilah aku,,
__ADS_1
Aku mencoba bersabar untukmu....
Selamat menempuh hidup baru...
Send!
Pesan whats app melayang tanpa inisial nama di akhir.
Sayangnya ponsel tio sedang low,, dan belum sempat mengisinya.
Jadi pesan itu belum sempat di bukanya.
Tio tetap berusaha fokus pada pekerjaannya, meskipun rentetan daftar pengurusan pernikahan sudah menantinya. Dan idenya terombang-ambing dengan urusan rumah.
Namun demikian satu persatu sudah ada yang di selesaikannya.
Ternyata persiapan menikah tidak segampang membalikan telapak tangan. Butuh waktu khusus untuk menyelesaikan persiapan. Apalagi dirinya masih sibuk dengan urusan pekerjaannya, sementara semua urusan itu tidak bisa di wakilkan oleh orang lain.
Tio nampak kelelahan, menghadapi dan mengerjakan semua hanya bersama Rani, satu-satunya orang yang selalu bersedia menemaninya. Walaupun demi acara mereka berdua, tapi tidak seharusnya calon mempelai wanita ikut sibuk, harusnya Rani tinggal duduk manis saja. Namun betapa baiknya Rani yang tetap bersedia berlelah-lelah mengurus segalanya. Itu karna jam kerja Tio yang selalu full.
Ada segelas teh hangat di mejanya,, aroma itulah yang akhirnya membuat dirinya terbangun.
Rupanya Tio tertidur dengan tangan di atas meja.
Beruntungnya tidak ada cctv di ruangan itu.
Sepanjang hari ini cuaca sedang hujan terus. Di tambah dinginnya ac, pulaslah tidur Tio siang itu.
"Teh hangat itu, pasti Lina yang siapkan!"
gumam Tio.
Pas sekali,, minum teh hangat, di kala dinginnya perpaduan antara dingin hujan dan dingin ac, membantu menghangatkan badannya.
Tio bangun dari duduknya, menepi di dekat jendela kaca ruang kerjanya.
Nampak masih jelas keadaan di luar. jalanan basah, dan rintik-rintik gerimis masih terlihat turun. Aroma khas debu yang basah oleh airnya memenuhi seluruh rongga hidungnya, ketika dia dengan sengaja sedikit membuka daun jendelanya.
Pikiran isengnya agak mulai ngelantur, mengkhayalkan ketika dia sudah sah bersama Rani menjadi istrinya nanti.
Kebayang bahagianya manakala datang cuaca seperti ini, dirinya ketika di rumah di temani istrinya.
Skip! Skip! Skip! Berimajinasi saja sendiri selanjutnya ya readers,,
Mungkin dalam imajinasi kalian, kalian akan membayangkan Tio minum kopi panas bareng dalam satu cangkir yang sama, atau Tio dan Rani duduk di depan tivi dengan popcorn atau pilus seember hehehee! terserah.
__ADS_1
Lanjuttt,,,
Tiba-tiba Tio berteriak ketika merasa ada seekor cicak melompat ke arah pundaknya.
Dan semua lamunannya seketika itu juga pecah!.
Tio menggerutu sendiri memarahi si cicak, karna telah membuyarkan lamunan indahnya bersama Rani.
Tio kembali ke tempat duduknya, menyudahi khayalannya. Dia teringat ada beberapa berkas lagi yang belum dia lengkapi.
Padahal, sebentar lagi jam pulang.
Gara-gara ketiduran di meja kerja, pengerjaannya jadi delay.
Sudah pasti jurus ngebutpun di pilihnya.
Sesekali Tio pun meneguk teh hangat yang di duga buatan Lina itu.
Pekerjaan selesai dengan lancar, hingga jam pulangpun tiba. PR nya nyaris terbengkalai.
Gara-gara tertidur tadi.
Tiba-tiba saja Tio kepikiran, buat buru-buru pulang.
Menghilangkan rasa jenuhnya Tio pun memutuskan untuk keluar dari ruangannya. Pegal juga berlama-lama duduk di sana. Sekalian ke Toilet, agar kakinya sedikit bergerak.
Meskipun rasa malas menyentuh air sempat menghinggapinya, namun gak ada pilihan lain. Dari pada cuma diam di dalam ruangan yang sama dinginnya.
Dingin-dingin segar, ketika air itu mulai membasuh wajahnya
Selain sekedar cuci muka, sedikit merapikan pakaian biasa di lakukannya.
kesan rapi memang telah tersemat kepada dirinya. Rata-rata semua teman menganggapnya begitu.
Cuaca dingin menusuk,, untung saja kali ini dia sedia jaket, hanya sekedar untuk prepare saja awalnya, tapi ternyata cuaca hari ini benar-benar dingin. untunglah fillingnya kuat, jadi jaket itu cukup bermanfaat untuk sekedar menghangatkan tubuhnya ketika berkendara.
musim hujan memang mulai datang.
seminggu ini cuaca memang dominan mendung, meski kadang hujan tak jadi turun.
musim hujan enaknya tarik selimut, tidur siang, sedia makanan enak, penghasilan ngalir. hmmm,,, jadi halu!
Tio merapikan jaket dan helmnya, serapat mungkin menutupi badannya, sebelum akhirnya ngacir di perjalanan.
untuk Lina, sejak pertengkaran itu, dirinya selalu berusaha menghindari Tio. mereka hanya bertemu sesekali ketika di dalam kantor.
__ADS_1