"MENGEJAR CITA DAN CINTA"

"MENGEJAR CITA DAN CINTA"
Episode 9 "MULAI RINDU PULKAM"


__ADS_3

Sudah sepuluh bulan di kota B.


Tio mulai berencana ingin mudik. Setidaknya untuk beberapa hari saja mengambil libur.


Sepuluh bulan baginya sudah terlalu lama rasanya, tinggal di kota B jauh dengan keluarga. Kali ini Tio ingin menyempatkan diri pulang ke kampung halaman untuk bertemu ibu dan adik-adiknya.


"Toko sedang ramai-ramainya, apa aku bisa mendapat ijin pulang?" Keraguan akan permohonan yang belum tentu di kabulkan sedikit mengganggunya.


Sebenarnya sih boleh-boleh saja kapanpun pulang kampung. Tapi tio terlalu takut dalam perjalanan ini, takut dan enggan merasakan mabuk dalam perjalanannya.


Enggan merasakan kejenuhan dalam kendaraannya. Maklumlah tak pernah keluar jauh dari kandang.


Sehelai kardus bekas di kibas-kibaskannya ke arah tubuh dan wajahnya.


Entah kenapa hari ini udara terasa begitu hangat, hingga membuatnya berkeringat banyak melebihi biasanya.


Niatnya untuk meminta ijin benar-benar di pikirkan matang-matang.


Mungkin selepas pulang nanti dia akan membicarakannya dengan boss.


Berharap semoga saja boss mengijinkan.


Waktu terasa berjalan amat melambat. Sudah tidak sabar rasanya ingin mengatakan  keinginannya untuk mudik ke desa.


Walaupun dengan berat hati pak Dani akhirnya memberikan lampu hijau atas keinginan Tio.


Tiopun begitu merasa sangat lega.

__ADS_1


Apa yang di khawatirkan semula kini sudah tidak lagi.


"Sebenarnya saya keberatan memberi ijin kamu mudik! Karna toko kita sedang ramai-ramainya pembeli, dan saya cukup mengandalkan tenaga kamu untuk melayani konsumen! Tapi apa boleh buat, kamu juga sudah cukup lama di sini, saya tidak bisa menghalangi kamu untuk pulang kampung dan bertemu keluargamu!" Ucap pak Dani.


Sebuah amplop berwarna coklat di keluarkannya dari dalam laci meja. Rupanya pak Dani sudah mempersiapkan amplop itu sejak siang tadi.


Karna niat untuk pulang kampung memang sudah Tio sampaikan dua hari yang lalu.


Dan kali ini, Tio memang benar-benar ingin memastikan bahwa dia akan pulang esok harinya.


 Tio: "saya minta maaf sekali lagi pak! Saya hanya ingin melepas rindu saja dengan keluarga di kampung! Saya akan usahakan untuk tidak terlalu lama di sana, saya juga membutuhkan pekerjaan ini untuk menutupi biaya hidup keluarga di desa!" Jelas Tio.


 Pak Dani: ya sudah tidak apa-apa, itu sudah hak kamu mendapatkan libur! Toh selama ini kamu sudah bekerja cukup baik di sini! Ini saya kasih gaji bulanan kamu, dan sedikit bonus atas kedisiplinan dan kerajinan kamu selama bekerja! Tolong jangan lihat nilainya, mungkin ini akan sedikit berguna untuk menambah bekal dalam perjalananmu!".


Sebuah amplop coklat mendarat di tangan Tio. Tio ingin sekali rasanya membuka amplop saat itu juga. Namun karna tidak merasa enak hati, di urungkannya niat tersebut. Masih ada rasa malu di hatinya untuk melakukan itu.


Akhirnya rusli memutuskan pindah tempat kerja. Dan kemudian bekerja dengan pak Dani sampai sekarang.


Hari semakin sore, ketika Tio memutuskan untuk menelpon wahid teman sekampungnya. Sebelum pulang Tio ingin berpamitan dulu. Mana tahu ada hal yang nanti penting untuk di bicarakan.


Biasanya, kalau ada teman sekampung pulang mereka selalu saling menitipkan uang untuk keluarga di desa. Karna hal itu di anggap prosesnya paling mudah dan gampang, juga tidak kena biaya apapun. Meski begitu orang yang pengertian akan tetap memberi tips walaupun tak seberapa,  Sebagai pengganti ongkos si kurir. Tidak memberi tips pun bukan masalah, karna tujuan merka hanya sedikit saling membantu satu sama lain saja. Karna biasanya yang menitipkan uang akan menunda pulang dalam tempo waktu yang cukup lama.


 Ya! ini seperti tradisi. Tidak terpengaruh jaman. Karna umumnya di desa masih jarang yang memiliki rekening bank. Apalagi kalau hanya sekedar untuk menumpang transfer. Karna biasanya tidak pernah ada saldo yang tersisa di buku tabungan. Ketika di kirim uang dari kota, maka uangnya akan segera di tarik. Uang kiriman yang tak seberapa itu pun biasanya hanya untuk menutup hutang-hutang di warung ketika para suaminya terlambat memberi. Orang bilang ibarat gali lubang tutup lubang.


Makanya tidak sedikit pula orang yang benar-benar terhimpit ekonominya, terpaksa jadi tenaga kerja ke luar negri (TKW) ada yang berhasil dan ada yang tidak! Karna bagaimana pun tergantung rejekinya. Entah lah apa karna kurang mahir keterampilannya, entah kendala bahasa atau bagaimana. Sehingga kadang ada yang suka mendapat perlakuan yang tidak mengenakan di luar sana. Namun Tio tidak pernah merasa tertarik. Pergi ke sana harus bermental kuat. Tio khawatir tidak bisa melewatinya. Kerja di dalam negri saja keinginan pulang sering di alaminya. Apalagi jika jauh ke luar negri. Tak sanggup Tio membayangkan semua itu jika dirinya benar-benar meninggalkan keluarganya dengan menjadi TKW.


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2