
"Kamu boleh menjawabnya nanti, kalau gak bisa jawab hari ini!" ucap Tio penuh harap. Setidaknya masih ada kesempatan untuk Tio berinteraksi dengannya selama Rani belum memberikan keputusan finalnya.
"Yah sudah lupakan saja! ayo kita lanjutkan menontonnya!" Kembali Tio menyambung kalimat, ketika tidak mendapatkan hasil apapun dari semua ungkapan isi hatinya yang telah dia tumpahkan. Apalagi Rani nampak tidak bergeming sedikitpun. Hanya Tatapan yang bikin ngeri Tio saja yang Rani lakukan, hingga Tio tak mampu membalas menatapnya dengan lebih lama.
Namun Tio juga tidak ingin menyesali ucapan yang telah dia tumpahkan kepada Rani. Karna kesempatan ini entah akan datang lagi atau tidak!
Film ini menjadi cerita yang tidak seru lagi.
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk keluar dari dalam studio lebih awal.
Tio di buatnya semakin bingung dengan sikap Rani yang kemudian mendadak tidak banyak bicara.
Rani berjalan menuju toilet wanita.
Suasana hatinya yang tidak menentu, sepanjang waktu bersama Tio membuatnya tambah tidak karuan. Di dalam toilet Rani mencoba melepaskan semua perasaan yang tadi di sembunyikannya rapat-rapat!
Cermin toilet menjadi saksi ketika Rani tiba-tiba tertawa seakan merasa gembira. Rani meloncat-loncat, sedikit melakukan tarian ala balerina. Memamerkan senyum manisnya kepada cermin, meskipun dia tidak bertanya tentang wajah siapakah yang paling cantik di dunia ini? Seperti cerita-cerita dongeng yang pernah di dengarnya tentang cermin yang bisa bicara.
Berada lama di dalam toilet bukan untuk buang air besar, kecil ataupun sekedar melepas gas karbon miliknya.
Namun hanya untuk melepaskan ekspresi yang sejak tadi di tahannya. Ingin sekali dirinya berkata iya di saat itu juga. Namun Rani juga sama nervousnya, dan merasa gengsi jika harus secepat itu menjawab dan menerima pernyataan Tio.
Baguslah kalau tadi dia lebih memilih membungkam mulutnya sendiri.
Setidaknya harga dirinya tidak begitu jatuh begitu saja. Meskipun sesungguhnya Rani pun sudah ngefans kepada Tio sejak dari lama.
Perasaan Tio malah semakin resah. apalagi ketika Rani begitu lama di dalam Toilet.
Akhirnya Tio pun mengikuti jejak Rani, bersembunyi dalam toilet!.
Rasa hatinya menjadi tidak tenang dan penuh dengan ketakutan. Suasana menjadi tegang seketika itu namun Tio tetap berusaha tenang, dan santai meskipun sulit sekali rasanya menyembunyikan ekspresi wajah galaunya.
Tidak lama Tio pun keluar dari toilet pria. dan secara tak sengaja bertemu Rani di depan pintu toilet, karna posisi toilet wanita dan pria letaknya bersebelahan.
Mereka saling bertatapan lama,, namun tiba-tiba Rani melepas tawa begitu kencangnya, membuat Tio merasa sedikit kebingungan dengan tingkah Rani yang mendadak berubah mood.
Tio menduga kalau-kalau Rani kesurupan di toilet tadi!. Belum lagi Tio melempar pertanyaan, Rani malah mempercepat langkahnya seolah hendak berlari. Tio berusaha mengejar Rani yang begitu saja meninggalkannya di depan pintu toilet!.
__ADS_1
"Hei,, tungguu!" meskipun Tio sudah meminta Rani agar tidak meninggalkannya, tapi Rani tidak menghentikan langkah kakinya. Tio berusaha mengejar Rani yang berlari kecil perlahan mulai meninggalkan lobby mall.
Suasana lampu kota, menghiasi indahnya malam. Pengembang membuat taman kecil yang cukup indah berhiaskan lampu warna warni yang lucu-lucu. Ada beberapa kelompok orang yang sengaja hanya duduk-duduk di taman itu.
Rani menghentikan langkahnya kemudian duduk di sebuah bangku yang cukup panjang, di ikuti Tio yang kemudian duduk pula di sebelahnya.
Tio melihat ke arah Rani yang masih tertawa terus. Sesekali Rani tampak menutupi wajahnya dengan telapak tangan, sesaat kemudian dia pun memegang kepalanya sendiri. Tio di buat bingung, namun tetap diam memperhatikan dengan penuh rasa penasaran. Hingga pada akhirnya Tio mencoba menanyakan perihal kelucuan yang sedang Rani rasakan itu.
"Ada apa sih neng? Kamu gak apa-apakan?" Tio mencoba mendaratkan telapak tangan kanannya ke arah punggung Rani. Tapi sayang Rani menangkisnya.
"Mmmh... Enggak!" Jawab Rani singkat.
"Terus apa alasan kamu hingga tertawa seperti itu? serem tau! keluar dari wc tiba-tiba berkelakuan aneh! kamu sadarkan dek?" Tio mencoba mengorek keterangan dari Rani.
"Serem mana sama mata aku yang melototin kakak waktu di dalam bioskop?" kali ini Rani terlihat lebih santai. Senyumnya nampak lebih lepas.
"Hmmm... gak serem sih,, biarpun kamu melototin atau marahin kakak, kamu tetep cantik kok! sumpah!"
"Kakak mau tahu kenapa tadi aku ketawa-tawa pas keluar dari toilet?"
"Hmmm... aku mau tanya kaka dulu ya! tolong kakak jawab jujur," Rani membalikan badannya ke arah Tio, hingga posisi keduanya saling berhadapan.
Kembali Rani menatap tajam ke arah Tio, itu artinya dia sedang serius dan Tio berusaha untuk mengerti dan menunggu apa yang akan Rani katakan dari bibirnya.
"Aku mau tanya, apaaa... kakak serius ingin jadi pacarku?" tanya Rani. Suasana kembali menegang.
"Ya,,, demi apapun kakak serius, sangat serius! jadiii... jawaban adek gimanaa? tolong kakak mohon, kasih kakak kesempatan untuk bisa mencintai kamu lebih lagi." Suasana hening dari keramaian manusia, hanya alunan melody yang sayup terdengar, itupun tidak terlalu keras. Suasana romantis cukup mewarnai malam itu.
Kali ini mata Tio lebih berani menatap balik mata Rani. Penuh harap agar dirinya bisa mendapat sedikit tempat di dalam hati Rani.
Semangat Tio kembali terbangun ketika Rani mulai membicarakan hal itu lagi.
Mereka kembali terdiam,, beradu pandang, berusaha saling meyakinkan hati masing-masing, terutama untuk Tio.
"Akuu..." Rani tidak melanjutkan kalimatnya. Hingga Tio menanti lama agar Rani segera melengkapi kalimatnya.
"Gimana? apa kamu mau menjadi pacarku?"
__ADS_1
Tio menggoyang-goyangkan telapak tangan Rani. Untuk berbuat lebih lagi Tio tidak berani. Karna bisa jadi jika Tio memeluk atau menyentuh bagian tubuh Rani, itu termasuk pelecehan. Sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan, hanya itulah yang bisa Tio lakukan. Meskipun Tio sadar, keinginan setiap lelaki hampir sama terhadap seseorang yang di cintai atau di sukainya.
Tatapan mata Tio seolah berkata; "ayo katakanlah segera!" Ketika menanti jawaban dari mulut Rani.
Tio kembali memohon,, mencoba memegang telapak tangan Rani, dengan gelisah menunggu.
"Akuu,,,mmhhh..."
"Katakanlah..."
"Aku mau mencoba menjadi pacar kakak!"
Byar! akhirnya pecah telor! Spontan Tio berteriak dan meloncat kegirangan. Rani menutup wajahnya kembali dengan telapak tangannya.
Perasaan malu masih menyelimutinya. Entah kenapa, tiba-tiba mulutnya begitu lancar mengucapkan kalimat pernyataan itu.
Untuk kesekian kalinya Tio berusaha menjauhkan tangan Rani dari wajahnya.
Sejumput bunga di petiknya dari taman itu, walaupun ada papan peringatan di larang menginjak rumput dan memetik bunga apapun, namun spontan saja Tio meraihnya dan memetiknya dengan cepat, lalu memberikannya pada Rani.
dengan penuh rasa malu, akhirnya Rani menerima kuntum bunga pemberian dari Tio. Memang bukan bunga rose merah seperti kebanyakan orang kasih kepada calon pacarnya, namun Rani sangat menghargainya.
Entah itu bunga jenis apa, karna kelihatannya cantik, Tiopun memetiknya.
Bunga yang cantik secantik gadis yang ada di hadapannya kini.
"Tadi ngetawain apa?" desak Tio masih saja penasaran.
"Ituuu... itu tuh sebenernya aku udah pengen banget ketawa sejak dari dalam bioskop tadi! cuma aku tahan aja! hehehe..."
"Kakak tau gak? sebenarnya aku ke wc bukan buat buang air, tapi itu buat numpang ketawa doang! karna aku udah gak tahan lagi! hahaha!"
"Oohhh,, gitu yaa? dasar anak nakal, pintar ya ngerjain kakak! pantesan pas keluar dari wc kayak orang kesurupan, ketawa terus, bikin kakak parno kamu"
"ya udah ma'aaaf!"
"ya udaahh di maafiinn!" ledek Tio. menirukan ucapan Rani.
__ADS_1