
Suara ringtone poliponik ponsel sedikit menggelitik dadanya, karna dering dan getar di saku bajunya sengaja di on kan. Agar jika ada sambungan telpon dari luar bisa segera segera di ketahuinya, apalagi suasana di lingkungan tempatnya kerja, kadang sangat berisik hingga kerap membuat suara panggilan ponsel tidak terdengar dan terabaikan. Tahu-tahu ada beberapa notif panggilan masuk saja pada saat di bukanya. Meskipun memegang ponsel tapi Tio cukup komitmen untuk tidak menggunakannya di saat jam kerja.
"Assalamualaikum jang!, Sehat jang?" (Ujang atau jang itu bahasa sunda yang bisa di artikan nak dalam bahasa indonesianya)
Terdengar suara wanita setengah tua berbicara dari ponselnya. "Rupanya ibu"
Tio: "alhamdulillah bu sehat! Gimana adik-adik bu? Apa mereka sehat juga?" Jaringan telpon hari ini lumayan lancar.
Ibu: "alhamdulillah sehat jang! Ibu telpon karna kemarin-kemarin ibu kepikiran terus kamu, ibu khawatir kamu kenapa-kenapa!"
Segitu tajamnya insting seorang ibu. Walaupun ketika musibah kemarin menimpa Tio, ibunya sengaja tidak di kabarinya, namun perasaan ikatan bathin yang begitu kuat antara ibu dan anak, membuat kegelisahan itu turut di rasakan ibunya. Namun kali ini Tio menyembunyikannya. Tio takut jika ibunya mengetahui malah akan membuat resah pikirannya.
__ADS_1
Tio: "sudah bu jangan mikir macam-macam, Tio baik-baik saja di sini! Ibu doakan saja Tio di sini supaya sehat terus dan banyak rejeki!"
Tio memastikan kalau dirinya baik-baik saja, agar hati ibunya merasa tenang.
Ibu: "ya jang, selalu ibu doakan kamu, supaya sehat terus, kerjaanmu lancaar, ibu gak mau kamu sakit! Siapa yang mau kerokin kamu kalau kamu nanti sakit?"
Tio: "alhamdulillah bu! Berkat doa ibu, kerjaan Tio lancar, badan Tio sehaaatt... jangan khawatirkan Tio di sini bu! Di sini inshya alloh semua tercukupi! Ibu urus kebutuhan adik-adik saja, jangan pikirkan Tio terus! Oh iya... Kiriman terakhir sepuluh hari yang lalu apa ibu sudah menerimanya?"
Tio ingat, sebelum insiden kemarin menimpanya, dia sempat menitipkan uang kepada tetangganya, untuk di berikan kepada ibunya di kampung.
Itulah orangtua, selalu berpikir ke masa depan. Selalu memikirkan anak-anaknya, dan mengesampingkan kebahagiaannya. Uang kiriman bukan di pakai untuk sekedar mengisi perut saja, tapi harus menjadi sesuatu. Ya itulah salah satu cara orang desa menabung. Jarang ada yang menabung ke bank. Mereka lebih suka memperluas aset seperti memperluas sawah, ladang dengan membeli atau menggadai dari tetangga untuk di garap, memelihara ternak, dan sejenisnya. Mereka terlihat hidup sederhana. Tapi semiskin-miskinnya orang desa rata-rata memiliki lahan garapan.
__ADS_1
Mungkin untuk keluarga Tio belum terlalu beruntung. Semua sawah yang dulu sempat di milikinya telah habis di gunakan untuk biaya hidup sehari-hari saja. Salah seorang tetangganya membeli dengan mencicilnya. Benar-benar hanya untuk biaya hidup keluarganya setelah ayah kandung, dan ayah tiri mereka tiba-tiba raib! Meninggalkan beban yang dia harus turut memikulnya.
Untuk pria-pria itu! Apakah mereka tidak merasa sedikitpun kangen kepada darah dagingnya sendiri? Tidak adakah rasa ingin bertemu, dan memberi secercah kasih sayang dan tanggung jawab?
Terkadang Tio merasa kalau mereka telah di buang. Ketika kebencian sedang menghasut dirinya, rasanya tak ada rasa ingin kembali bertemu dengan mereka! Para lelaki yang seharusnya menjadi imam dan panutannya, guru dan pembimbingnya di dunia ini. Tapi apalah untungnya, kebencian tidak akan menutupi semua masalah. Tio hanya pasrah dan berdoa semoga kelak ayah-ayah mereka mau menemuinya dan adik-adiknya kembali.
"Halo! Halo!" Terdengar suara ibu dari ponsel membuyarkan lamunannya yang sekilas terbayang lagi.
Tio: " iya ibu!"
Ibu: "ya sudah dulu ya! Ibu masih banyak kerjaan, lagi pula hapenya mau di pakai wawan! Kamu hati-hati ya kerjanya, jaga kesehatan!" Belum lagi Tio tuntas menjawab, telpon sudah terputus.
__ADS_1