"MENGEJAR CITA DAN CINTA"

"MENGEJAR CITA DAN CINTA"
"Pertama Kali Ngedate, Gugup Dong!"


__ADS_3

Tio bersiap-siap menjemput Rani. Hal yang selalu di tunggunya sejak lama. Sekarang Rani tampak sudah jauh lebih dewasa. Selain usianya yang bertambah, sudah bolehlah usaha dikit untuk Tio mendekati. Beberapa bagian tubuhnya juga mengalami perubahan. Bodynya tumbuh jauh lebih tinggi lagi. Mereka sudah seimbang sekarang, meskipun usia Tio terpaut sekitar empat atau lima tahun di bawahnya. Mungkin Rani lebih muda dua tahun dari Anita adik kandung Tio. Hanya perkiraan.


Sepanjang perjalanan tidak ada interaksi apapun. Kaku kayak kanebo kering kata orang sih. Padahal Tio sadar kondisi ini tidak membuat mereka nyaman. Pertemuan yang jauh daripada yang sudah di rencanakan, tiba-tiba lidah terasa kelu, pikiran terasa kosong, ide pun jadi buntu akhirnya kayak orang mati kutu. Begitupun yang terjadi kepada Rani. Terdiam menikmati rasa aneh yang diam-diam menyelimuti. Dia tahu itu namanya apa, hanya saja ragu untuk menyimpulkan.


"Cukup! ini kesempatanku untuk maju! aku harus berani lebih terbuka lagi sekarang, karna kebersamaan dengan Rani itu sulit" Tekad Tio kembali membulat!


Es mulai mencair di gelas tanpa dia mulai meminumnya.


Begitupun dengan Rani. Mereka berdua seakan sedang menunggu kalimat pembuka dari masing-masing.


Jika tidak ada yang mau mengalahkan rasa egois dari salah satunya, maka hubungan ini selamanya tidak akan jelas.


Tio terlalu penakut, namun dia juga tidak mau kehilangan moment ini.


Melihat dan memikirkan situasi nya, Tio tak mungkin sembarang bicara. Ada privasi yang harus dia jaga. Tio pun tidak ingin kalau hal itu nanti malah membuat malu Rani.


Mereka malah membicarakan hal lain di meja makan itu.


Ritual yang terjadi pada umumnya. Ketika sepasang remaja jalan ke mall, pasti juga akan masuk ke area bioskop!.


Begitupun dengan Tio dan Rani. Duduk berdampingan sedekat ini baru pertama kali untuk mereka.


Semua tahu, jika posisi duduk sedekat itu dengan orang yang kita punya rasa dengannya, seperti apa rasanya jantungmu?.


Untuk pertama kali!. Ada rasa senang dan ada rasa gugup di dalamnya. Pelan-pelan pengunjung mulai masuk satu persatu. Namun studio nampak tidak terlalu penuh.


Untuk mengurangi kekakuannya Tio berusaha mencairkan suasana. Tio berusaha ramah dan mencoba mengajak Rani bicara.


"Irit banget nih Rani ngomongnya! aku juga bingung gimana caranya agar obrolan ini tetap nyambung!" Otak Tio berpikir keras.


"Kamu kok serius amat nontonnya?" Tio sedikit mengusik ketenangan Rani saat dirinya tengah khusyuk menonton.


"Emang kenapa? kan emang mau nonton niatnya," Jawab Rani. Ada senyum tipis ketika Rani mengucap itu.


Rani kembali serius memandang layar cinema.


Bukan ke arah sana maksud Tio sesungguhnya membawa Rani ke sini. Salah pilih judul film juga mungkin, kenapa dirinya memilih film action. Akhirnya suasana yang hadir bukan nuansa romantis! Tapi sebaliknya.

__ADS_1


Tio berusaha membuat konsentrasi Rani hilang, dan berkali-kali mencoba mengalihkan, tapi sia-sia saja.


Rani tetap asyik dengan tontonannya.


"Hmmhhh,, rupanya Rani suka juga film action!".


"Ada apa kak?" Rani tiba-tiba bertanya balik di saat Tio nampak tidak menyimak film ini dan nampak terlihat tidak nyaman dengan keadaan.


"Enggak apa-apa kok, kamu suka film ini?"


"Ya,, sangat suka! pemerannya adalah bintang favoritku." Jawab Rani, kembali melempar senyum.


"Ohh,, pantes dia asyik sekali menontonnya, rupanya aku punya saingan di dalam bioskop ini!"


"Kenapa kak? kok bengong lagi? kalau kakak gak nyaman gak apa-apa deh kita pulang saja!" ajak Rani.


Rani juga merasa kalau Tio ternyata tidak nyaman berada di dalam bioskop itu. Rani mencoba berdiri, tiba-tiba penonton di jok belakang memberi kode jika mereka tidak boleh berisi!.


"Pssstt mbak tolong dong jangan berantem di sini! dan tolong kembali duduk! saya gak bisa leluasa liat layarnya gara-gara mbaknya berdiri nih!"


"Udah nonton aja sampai selesai! kakak suka kok filmnya!" ucap Tio berbisik ke telinga Rani. Baru kali ini Tio berani menyentuh tangan Rani, itupun karena terpaksa.


Rani kembali tenang, namun tidak lagi bisa fokus ke dalam cerita film itu.


"maksudku tadi kalau kakak gak suka filmnya gak apa-apa kita pulang aja kak, kita keluar dari studio ini," jelas Rani.


"Kakak suka kok film ini, malah film ini cocok buat laki-laki,"


"Terus kenapa kok kayaknya menurutku kakak gelisah terus selama di sini?"


"Bukan begitu, kakak cuma gak suka saja ada saingan kakak di sini!" Tio memalingkan wajah sebal.


"Saingan?? maksud kakak siapa? apa ada teman kakak juga lagi nonton di sini?" tanya Rani. Kali ini wajah Rani yang berusaha mencari-cari sosok yang di anggap saingan oleh Tio.


Melihat Rani yang nampak kebingungan, Tio berusaha menjelaskan kembali.


"Maksud kakak itu tuh, aktor favorit kamu,," jelas Tio kembali memasang muka sebalnya, meskipun aslinya ingin mentertawakan Rani yang sudah ke prank olehnya.

__ADS_1


"What??!" Rani menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tak di sangkanya Tio akan sereceh ini. Rani menutupi gelak tawanya agar tidak sampai mengganggu orang lain yang ada di sekitarnya.


Tio mencoba meraih tangan Rani, agar tak menutupi wajahnya lagi.


"jangan di tutupin! biarkan saja, kakak suka melihat kamu tertawa,, karna kamu itu kelihatan lebih cantik kalau lagi tertawa!" ucap Tio.


Ups! kalimat ini sesaat kemudian meredakan tawa Rani seketika! Entah harus merasa senang atau tidak? yang jelas kalimat-kalimat itu terasa aneh di telinga Rani. "apa Tio sedang merayuku?" Pikirnya.


Rani berusaha menjauhkan tangannya dari genggaman Tio. Semua itu bikin Rani merinding dan panas dingin. Tapi bukan karena dinginnya ac di dalam studio.


Mereka berdua bukan membicarakan tema film lagi.


Tio berusaha mulai bicara serius di sini.


Sedang Rani mengusap-ngusap pergelangan tangannya yang tadi di sentuh tio.


Sejenak mereka terdiam membenarkan posisi duduk.


Rani memilin-milin tali tas miliknya, hal itu cukup menandakan jika dirinya sedang gugup, sedangkan Tio berusaha mengumpulkan sisa kekuatan untuk segera menumpahkan unek-uneknya.


"Mmmhh,, kalau kakak boleh jujur... Sebenarnyaa... kakak menyukai kamu." Rani menoleh seketika memandang tajam ke arah Tio. kali ini giliran Tio yang memalingkan wajah gak jelasnya.


"Maksud kakak?"


"maksud kakak, kamu mau gak jadi pacarku?" sekali Tio menunduk malu, tak berani menatap balik pandangan Rani. hatinya luluh di saat itu. hanya mampu melemparkan rangkaian kata, tanpa peduli lagi akan akhir ceritanya. Karna hari ini penentuan, Tio bersiap menerima apapun keputusan Rani, termasuk bila Rani menumpahkan amarahnya saat itu.


Jika memang Rani menganggapnya tidak pantas, dan tidak tahu diri, karna telah berani mencoba mendekatinya. Tio sangat mengerti dengan posisinya, namun lebih baik Tio mengungkapkan seluruh isi hatinya daripada tidak sama sekali. Toh dirinya juga ingin tahu apa keputusan Rani kini.


Agar lepaslah beban yang selama ini selalu melekat dalam dirinya.


"Maaf kakak tidak bermaksud lancang! kakak hanya ingin melepaskan semua perasaan yang selama ini kakak tanggung sendiri. tanpa kamu tahu! kakak sudah memendam perasaan ini sejak lama,." Rio berusaha terus meyakinkan Rani jika dirinya bersungguh-sungguh.


Tidak ada reaksi apapun dari Rani, dia tetap diam, tidak mengatakan ya ataupun menolaknya. Keraguan dan ketakutan mulai menjalar. Pasti Rani memang tidak mungkin menerima kehadiran Tio masuk dalam hidupnya.


Semua karna diamnya Rani, yang membuat Tio semakin yakin jika Rani memang benar-benar tidak menyukainya, padahal Tio bertekad jika Rani menerimanya, Tio akan benar-benar serius membawa hubungan ini kelak sampai ke pernikahan.


karna Tio sendiri merasa sudah cukup usia, dan sudah punya pekerjaan. lain dari itu Tio juga punya penghasilan sampingan. meskipun dia belum membongkar isi tabungannya, namun cukuplah sepertinya untuk biaya hidup selama di awal pernikahan. kedepannya Tio akan berusaha mencari peluang bisnis lain seperti yang sudah-sudah dia kerjakan selama ini.

__ADS_1


__ADS_2