
Jam sembilan malam teng, televisi masih menyala, beberapa gelas minum masih ada yang belum habis isinya. Ada beberapa orang temannya yang sudah bersiap tidur.
Tio masih menikmati sejuknya udara malam di teras rumah.
Terdengar hapenya mengeluarkan suara khas nada dering poliponik versi lama. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenalnya, meski dengan rasa penasaran dan bertanya-tanya Tio pun mengangkat telponnya. Tebakannya hanya lah telpon dari kampung kalau bukan dari Rahmat, paling-paling dari ibunya. Tapi untuk apa menelponnya malam-malam begini? Di desa jam segini seharusnya sudah bersiap tidur. Suasanapun akan sepi, jangan-jangan ada apa-apa! Tio segera mengangkat telponnya.
Terdengar suara perempuan dari telpon itu, tapi itu bukan suara ibu atau suara Anita, namun suara itu di kenalnya. Tapi siapa yaa??
"Kak makasih tasnya! Teman -teman aku pada suka! Katanya bagus dan unik! Kalau masih ada, minta tolong titip ya kak! Aku pesan lima biji lagi, temen aku maksa banget nih! Malahan dia minta yang ini! Tapi aku gak kasih!"
Duhh! dari suara lembut itu tentu saja Tio langsung tahu siapa pemilik suara di telpon itu yang tengah menyapa dirinya.
Itu Rani! Ya kaget pastinya dong! Tiba-Tiba di telpon si bunga mekar.
Gugup bin nervous Tio pun tidak bisa membantah Rani. Lidahnya tiba-tiba kelu, konsentrasinya hilang. Yang keluar hanya kata iya! Iya! Oke! Hmmm... There is something wrong!
Telpon di tutup dan di akhiri dengan kata terimakasih dari Rani, tanpa Tio sempat menjawab lebih banyak lagi.
Perasaan aneh ini cukup mengganggunya.
Dadanya tiba-tiba berdetak kencang. Sesuatu yang belum pernah di rasakannya sebelum ini.
Hatinya jadi resah tanpa alasan.
Tio menarik napas dalam-dalam, mungkin saat ini dirinya butuh sedikit isi tabung oksigen murni! Ya tuhann... Ada apakah ini??.
CINTA,,, tidak mungkin itu cinta, Rani hanya anak gadis yang masih di bawah umur. Walaupun masih di anggap cukup pantas dalam segi usia jika di sandingkan.
__ADS_1
Selisih empat tahun saja usia mereka. Kurang lebih seperti adik dan kakak tentunya.
"Hmmm apa sih Tiooo... Kamu itu bukan siapa-siapaa? Jangan bermimpi terlalu tinggi! Dia itu anak majikan dan kamu hanya pegawainya saja! Itupun cuma tukang kuli panggulnya! Lagipula dia masih kecil belum pantas untuk di pacari! Bangun banguuunnn Tio!"
Tio menampar-nampar pipinya sendiri. Sakit juga rasanya setelah khayalan itu lenyap dan tamparan itu berakhir.
Tio mengirim pesan sms ke kampung, seperti biasa mang wawan seolah seperti tukang pos di kampung. Setiap telpon ke ibunya, pasti via hape mang wawan. Pun sebaliknya, ketika ibu akan menelpon Tio, mang wawan juga hapenya yang di pinjam.
Untuk mengganti ruginya mereka hanya membayar uang ganti pulsa saja, itupun kadang numpang dulu dan baru di bayar beberapa hari setelahnya. Yang penting komunikasi berjalan lancar. Semua tahu mang wawan itu orangnya baik, tidak cuma kepada keluarga Tio, kepada yang lainpun sama.
Dalam peaannya, Tio meminta agar Rahmat besok bisa menghubunginya by phone. Hanya itu saja isi pesannya. Kata penting di akhir sms di sertai tanda seru. Pasti mang wawan akan faham meskipun tidak di balas balik, pesan itu sudah pasti terkirim.
Sebenarnya Tio harusnya merasa senang bukan karna mendapatkan telpon dari Rani, melainkan dari barang yang di pesan Rani. Tapi entah mengapa perasaan itu menjadi terbalik? Satu umpan dua ikan di dapat. Malah membuatnya bingung sendiri.
Canggung iya ketika mereka kebetulan tidak sengaja berpapasan.
Sebenarnya tas itu untuk uji minat pasar.
Jika ada peminatnya, maka Tio berencana akan memperbanyak produknya. Dan memasarkannya di sini. Dan orderan dari teman-teman rani itu sudah menjadi bukti, bahwa tas rajutnya bisa laku dan di minati.
Padahal Rani sendiri anak orang berduit. Tapi dia bisa menyukai barang seperti itu.
Seminggu berlalu setelah kejadian itu.
Masih harus menunggu besok untuk mendapatkan tas rajut pesanan teman-teman Rani. Kebetulan Wahid pas mudik juga. Jadi Tio meminta Rahmat agar menitipkannya pada Wahid untuk di bawanya ke kota B. Biar Wahid yang mengantarkannya nanti, jika Wahid tak sempat, maka Tio berencana akan mengambil sendiri barangnya ke kontrakan wahid. Itulah rencana Tio selanjutnya.
Panggilan masuk lagi, dari nomor Rani.
__ADS_1
Tio memilih untuk tidak mengangkatnya.
Dia tidak mau merusak perasaannya lebih dalam lagi. Perasaan aneh itu suka muncul tiba-tiba. Tidak kenal waktu dan tempat.
Dari pada tidak bisa tidur semalaman lebih baik tidak bicara dengan Rani saja dulu untuk malam ini.
Memilih ketenangan hatinya Tio menyegerakan untuk pergi tidur. Hamparan manusia-manusia lelah telah berjejer pulas di hadapannya. Membiarkan tivi yang masih menyala tanpa di tonton. Pemborosan listrik, kebiasaan jelek yang harus di hilangkan.
Tio mencabut colokan kabel tivi dan dispenser. Toh sudah malam ini, siapa yang mau bikin kopi lagi pikirnya.
Baru saja terduduk tiba-tiba hape berbunyi lagi. Wahh,, si nona manis ternyata belum bisa tidur.
Tio tetap membiarkan hape tetap menyala dan mati dengan sendirinya.
Ketika Tio akan berbaring hape kembali berbunyi, bahkan nada deringnya lebih lama dari yang tadi.
Mang dadang terbangun dan menyarankan agar Tio segera mengangkat telponnya, agar tidak berisik lagi dan berhenti mengganggu tidur yang lain dengan suara hape jadulnya yang cukup keras.
"Kenapa tidak di angkat telponnya? Mungkin ibumu lagi ada perlu! Angkat saja, dari pada berisik terus mengganggu yang lain, kasihan mereka butuh istirahat yang cukup!"
Ucap mang dadang.
Bukannya mengangkat telponnya, Tio malah mematikan hapenya, berusaha memejamkan mata serapat mungkin dan berusaha tidak memikirkan si nona manis itu.
Sungguh usaha yang cukup keras agar bisa tertidur pulas di malam itu, sampai terbangun di pagi harinya nanti.
__ADS_1