
Tio berjalan menyusuri koridor kantor. Seperti biasa, Lina sudah berdiri mematung menunggunya. Tio menghela nafas mengumpulkan kekuatan untuk berbesar hati mengucapkan kata permintaan maafnya.
Sementara itu Rani nampak lebih banyak menyembunyikan wajahnya.
"Lina, aku mau minta maaf sama kamu perihal tadi, mungkin aku agak kasar terhadapmu, aku merasa bersalah, aku tahu kamu tidak pantas di perlakukan seperti itu, aku tidak mengerti kenapa aku juga harus bersikap seperti itu sama kamu."
"Gak apa-apa kok! sudah biasa seperti itu, yang lain juga sama,," jawab Lina melempar senyum tipisnya pada Tio.
Sekilas Tio melihat mata Lina sedikit merah. Apa kah dirinya telah membuat gadis ini menangis? sungguh seribu pertanyaan ingin di tumpahkannya.
"Oh,, ok terimakasih kamu sudah mengantarkan minuman itu ke ruanganku," ucap Tio.
"Kenapa mata kamu merah?" Tanya Tio kembali.
Pertanyaan yang tidak Lina inginkan kenapa Tio ucapkan. Sungguh Lina sangat berusaha menyembunyikan ini dari Tio. Namun akhirnya gagal karna Tio akhirnya mencurigai warna matanya yang memerah akibat tangisannya tadi.
"Gak apa-apa kok! Aku kelilipan tadi waktu membuka pintu kitchen bagian atas!" Lina berusaha mengelak. Tio merasa ragu dengan pengakuan Lina. Ada sesuatu yang Lina berusaha sembunyikan, namun Tio tidak ingin mengungkitnya lebih dalam lagi. Mereka berdua berjalan menuju parkiran. Sore ini Lina kembali menjadi menumpang Tio. Dan Tio untuk kesekian kalinya harus mencari alasan, menghentikan motornya di tengah perjalanan, dan membiarkan Lina menyambung perjalanan dengan menumpang angkutan umum. Dari sini Lina mulai bisa menyimpulkan kalau Tio benar-benar tidak menyukainya lebih jauh lagi.
Tio juga tidak ingin memberikan harapan kosong terhadap Lina. Biarlah seperti ini, lebih baik mereka menjadi teman biasa, dan
Itu akan lebih baik daripada Tio harus berpura-pura menyukainya.
Seperti biasa sebelum sore benar-benar menyapa, Tio pun sekedar iseng mampir ke salah satu resto favorite di sekitar tempat itu. Matanya menatap salah satu mobil putih yang nampak terlihat tidak asing lagi.
Enggan pusing memikirkannya Tio pun segera meninggalkan parkiran itu, dan masuk ke dalam resto.
Secangkir kopi dan seporsi roti bakar terhidang di mejanya. Rugi juga mengingat kejadian tadi di kantornya. Kenapa dia harus menolak pemberian Lina. Padahal dia saat itu membutuhkannya. Tapi ya sudahlah, mungkin belum rejeki. Tio juga tidak mengerti kenapa emosinya tiba-tiba memuncak.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya saat pikirannya tengah memikirkan Lina.
"Apa kabar Tio?" serentak Tio menoleh,,
__ADS_1
Seseorang yang sangat baik hati sekarang sedang tertegun berdiri di sampingnya dengan senyum yang masih sama.
Ya dia Pak Dani!. Sedikit gugup Tio serentak menyalami Pak Dani dan menjawab pertanyaannya.
"Alhamdulillah baik pak!" Tio berdiri menghormati Pak Dani. Lalu mereka berdua sama-sama duduk saling berhadapan di satu meja.
"Wah keren kamu sekarang, oh iya,, katanya mau mampir? kamu sudah lupa sama tempat kamu kerja dan sama teman-temanmu dulu ya?
"Oh bukan begitu pak, saya belum ada waktu luang saja, jam kerja saya panjang, ini saja baru pulang," jawab Tio.
"Masa gak sempatnya sampai bertahun-tahun?" Ledek Pak Dani. Sesungguhnya Pak Dani hanya basa basi saja. Mana mungkin kedatangan Tio sangat di harapkan sama Pak Dani? emang siapa dirinya? Tio tetap merasa tahu diri.
Sesaat mereka hanyut dalam berbagai tema cerita. Begitu banyak hal yang Pak Dani dan Tio saling ceritakan. Mereka nampak akrab seakan tanpa jarak.
"Main lah ke rumah, sekarang bapak sudah jarang keluar kota lagi, Rio yang gantikan! Bapak sudah merasa sering capek! hehehee!"
"Iya pak, inshya alloh nanti saya ngapel! Oh maksud saya mampir," jawab Tio salah tingkah!
Wah kesempatan emas nih! Bisa sekalian mata-matain anak gadisnya dong! Pikir Tio. Otak nakalnya sedikit bermain. Nakal bukan dalam konteks negatif tapi ya!.
"Ya sudah, bapak duluan ya!"
"Oh iya, mangga pak!"
Pak Dani berjalan menjauh dari tempat itu. Tio memperhatikan kepergian Pak Dani dari tempat duduknya. Tidak di sangka kebaikan Pak Dani tidak berubah juga sampai hari ini. Dia masih memandang Tio sebagai manusia walaupun Tio hanya bagai butiran insan, dan sering merepotkannya dulu.
Mau bilang butiran debu terlalu ekstrim. Ya udah deh butiran insan saja hahaa!.
Ada setitik harapan di sana, ketika Tio melihat ketulusan wajah Pak Dani yang tak berubah terhadapnya.
Tio menyelesaikan suapan roti terakhirnya. Segera.
__ADS_1
Tio menyusun rencana untuk dua hari kedepan. Dan berencana akan benar-benar membuktikan undangan bertamu dari Pak Dani. Siapa tahu Pak Dani benar-benar tulus mengundangnya.
Setelah selesai melakukan pembayaran, Tiopun meninggalkan resto itu.
Kendaraannya kembali bergabung di jalan raya, menuju pulang ke kontrakannya.
Samar-samar dari kejauhan Tio melihat Rani tengah berdiri di tepi jalan raya.
"Wah kesempatan nih untuk menawarkan jasa antar kepadanya." Tio memperlambat laju motornya bersiap menepi. Tiba-tiba sebuah motor besar lebih dulu menyalip dirinya. Motor itu berhenti tepat di depan Rani. Seorang cowok ganteng, berpakaian rapi, motornya pun bukan sembarang motor gede. Tio tahu kisaran harga motor yang seperti itu harganya berapa.
Rani tersenyum ke arah cowok itu, membuat Tio diam-diam semakin mengeretakan gigi. setelah memakai helm, Rani pun naik ke atasnya dan duduk di belakang cowok itu. Mereka nampak serasi sekali, mungkin mereka seumuran.
Tampak kecemburuan yang besar dalam diri Tio. Perasaan itu rasanya tidak nyaman dan sangat mengganggunya.
Bukannya pulang nyebrang ke gang kontrakannya, Tio malah pelan-pelan mengikutinya dari belakang!.
Sepanjang perjalanan menguntit ini, perasaan Tio tidak karuan. Ingin marah, marah sama siapa! mau nangis juga penyebabnya apa? Pokoknya perasaanya kacau!.
Tidak berapa lama, motor Rani dan teman cowoknya nampak memasuki area parkir sebuah mall. Rani turun dan melepas helmnya. Mereka mulai memasuki mall begitupun dengan Tio.
Benar-benar ini yang namanya memata-matai!
Tio udah bagaikan seorang agen, mereka nampak masuk ke dalam bioskop, diam-diam Tiopun ke sana.
Entah apa yang ada di pikiran orang-orang ketika melihat tindak tanduknya yang aneh itu. Ya namanya juga sedang ngintip! Pasti sedikit banyak mengendap-ngendap di keramaian, takut ketahuan Rani.
Tio terus meniru dan mengikuti Rani. Bahkan ketika Rani dan teman cowoknya membeli tiket dan memesan sofdrink. Dia pun tidak mau kalah!.
Bernafsu sekali saat Tio mengunyah popcorn itu, seperti perasaan dirinya yang sedang ingin menggigit keras seseorang!.
Padahal dirinya baru saja memakan seporsi roti bakar dan segelas kopi di resto sebelumnya.
__ADS_1
Satu buah tiket bioskop sudah bersarang kantong kemejanya. Panas sekali rasanya suasana di dalam mall, bukan karna ac yang kurang dingin. Tapi karna perasaannya yang sedang konslet!.
Lama sekali menunggu jam tayang filmya, fix kemalaman di bioskop, padahal sebentar lagi mau maghrib. dan dirinya dalam keadaan belum mandi, karna baru pulang kerja.