"MENGEJAR CITA DAN CINTA"

"MENGEJAR CITA DAN CINTA"
"Situasi Penuh Drama"


__ADS_3

"Bruk!!" Tio membanting pintu keras-keras.


Jam dinding menunjukan pukul setengah sepuluh malam.


Hari ini jam istirahatnya sudah terenggut hanya untuk mengikuti kata hatinya saja.


Wajah lelah nampak dari raut wajahnya.


Seharian belum mandi, meskipun rasanya gerah, tapi kali ini ia enggan membersihkan badannya buru-buru.


Kerugian yang sangat besar buatnya, dua waktu berharganya sampai terlewatkan! Ashar dan maghrib.


Kali ini pun masih bisa melakukan shalat isya. Namun ketika perasaan kacau ini bertengger! kenapa rasanya malas buat ngapa-ngapain.


Tio masih merasa kecewa dwngan dirinya sendiri. Mengapa saat di Bioskop tadi dirinya harus nampak bodoh! Membeli tiket yang studionya tidak sama dengan tempat Rani dan cowoknya menonton!


"Aku memang cowok udik Rani! Memesan tiket bioskop saja aku bisa salah?? Bodoh bukan?" Satu-satunya penyeaalan yang di habiskannya di malam itu.


Sudah berlelah-lelah menguntit Rani, sedikit lagi berhasil. namun karna dirinya kurang teliti, akhirnya mereka menonton di dalam studio yang berbeda.


Tio sangat penasaran dengan apa yang mereka lakukan di dalam bioskop tadi.


Pikirannya berkelana kemana-mana.


Sebagai seorang pria, apa yang akan di lakukannya mungkin kurang lebih sama.


Walaupun Tio sendiri belum pernah secara sah memiliki pacar. Namun dia tahu rasanya bagaimana memiliki seorang teman rasa pacar!. Beruntung lah para gadis yang mengenalnya, karna Tio bukan termasuk pemuda nakal.


"Baiklah! jika aku tidak bisa mendapatkanmu sekarang, ku kira tidak ada salahnya jika aku menikungmu di sepertiga malam seperti orang-orang!" Tio berusaha menenangkan diri dan menghibur dirinya sendiri.


Perasaan galau ini sungguh bisa merusak konsentrasi di tempat kerja besoknya.


Tio bangun dari duduknya, dan segera membersihkan diri di kamar mandi. Segarnya air meresap ke seluruh pori-pori kulitnya. Cepat-cepat dia mengambil wudhu dan melakukan shalat isya.


Tio bersungguh-sungguh meminta agar dirinya berjodoh dengan Rani.


Selepas berdoa, Tio berniat untuk menelpon Rani sebentar saja. Namun kali ini dia harus punya alasan apa lagi?.


Sedikit ragu namun akhirnya Tio memberanikan diri untuk menelponnya.


Penuh harap Rani mengangkat telpon itu.


10 detik, lima belas detik! Tidak ada yang mengangkat telpon itu. Tio mematikan telponnya. "Apa Rani belum pulang?" hatinya di selimuti rasa penasaran.

__ADS_1


Tio kembali menelpon ulang Rani. Sekali, dua kali, tiga kali! Kali ini Tio membiarkan telpon itu berdering lama, dan tidak berniat untuk memutus telpon sama sekali.


Seseorang terdengar mengucap hallo dari sebrang sana.


"Hallooo,,, assalamualaikuumm... ini siapa ya?"


"Oh iya halloo,, waalaikum salam bu, maaf mengganggu,, Rani ada bu?" Tio tidak menyebutkan namanya, malah balik menanyakan Rani.


"Ohh Rani lagi mandi,, telpon lagi aja sepuluh menit lagi yaa!"


"Oh iya terimakasih ya bu,"


"Ya sama-sama!"


Telponpun terputus! Haduh kenapa yang angkat malah mamanya? sumpah malu banget!.


Tio meletakan kembali hapenya di atas meja.


"Sepuluh menit lagi! Gak apa aku tunggu! Sepuluh menit mah kecil ah, aku sudah sabar bertahun-tahun nunggu dia!" gerutu Tio.


Perutnya terasa kencang kini! Mungkin Tio tidak perlu lagi untuk membeli makan malam, dia ingat selama menguntit tadi, Rani banyak nongkrong di tempat makan. Terpaksa Tio pun harus memesan makanan juga meskipun sedikit-sedikit. Akhirnya diapun kenyang sendiri.


Selama menguntit, dia pun terpaksa harus jadi penonton keakraban mereka.


Karna cinta ini, hatinya menjadi sakit, tiba-tiba membenci orang yang seharusnya tidak dia benci. Sungguh itu aura yang buruk.


Tio semakin terbawa emosi dan perasaan. Gara-gara memendam perasaan terlalu lama.


Tio sadar ini tidak boleh di biarkan terlalu lama lagi, dia harus segera menumpahkan keinginan yang selama ini di pendamnya.


Atau dia akan menjadi lebih gila lagi.


Dengan sabar Tio menunggu sepuluh menit itu berlalu.


Tiba-tiba dering hapenya berbunyi, di menit ke sembilan. Lebih cepat satu menit dari niatnya menghubungi.


Tio segera mengangkat telpon itu dan memastikan kalau itu adalah telpon dari Rani.


"Halloo,,, assalamualaikuumm..." terdengar ucapan salam dari sana, suara yang selama ini di tunggunya.


"Waalaikum salam,, Ran..." Tio mencoba tenang.


"Tadi kakak telpon ya?" Tanya Rani.

__ADS_1


"Yaa,, tadi mamanya Rani yang angkat!"


"Ada apa ya kak? apa pesanan tasnya sudah ready?"


"Oh belum, mungkin tiga harian lagi!" Jawab Tio. Lalu Tio kembali menyambung obrolan dan mencoba sedikit berusaha mengorek keterangan dari rani.


"Gaak,, tadi kakak main ke mall,, kayaknya kakak tadi lihat cewek mirip kamu di sana! apa memang itu kamu?" Drama lagi, terpaksa Tio mencari modus pembicaraan.


"Oh,, iya kak, tadi aku memang jalan ke mall,, iseng-iseng aja sih sama temen!" jelas Rani.


"Kamu sama siapa? Pacar ya??" Tembak Tio.


"Ohh... Ituuu... teman aku kak,, temen sekolah dulu, baru ketemu lagi!" Terang Rani. Tio sedikit merasa lega ketika Rani mengatakan kalau cowok yang tadi jalan ke mall bersamanya hanya teman lamanya.


"Hmmm tadi kakak jalan sama siapa emang?" tanya Rani balik. Rani juga merasa penasaran, dengan siapa tadi Tio jalan ke mall, sayang sekali dia tidak bertemu dengannya tadi.


Tio sedikit kebingungan untuk mencari alasan.


"Ooh,, itu kakak tadi lagi nganter teman jugaa,, teman kerja heheee,,," jawab Tio berbohong.


"Oohh gitu ya kak! Temennyaa,,, cewek yaaa??" selidik Rani. Rani juga sama keponya seperti Tio terhadap dirinya.


"Mmhhh iya sih cewekk! hehehee,, kenapa? kamu mau kalau di ajak nemenin dia?"


"Enggak kak, enggak enak, takut gangguin!"


"Eh,, kapan-kapan kamu mau gak di ajak ke mall sama kakak? hehehee!" Tio mencoba memberi tawaran terhadap Rani.


"Bolehh kalau tidak ada yang merasa terganggu sihh! Kapan ituu?" Tanya Rani.


"Nanti kakak kabari ya! Kalau bisa pas malam minggu, soalnya hari minggu kakak libur."


"Oke kak!" jawab rani singkat.


Rani tak dapat memungkiri betapa senang hatinya mendapat tawaran itu. Rani sudah menunggunya sekian lama, tapi Tio seolah tidak pernah merespon dirinya. Dia ingat isi chat Eca. Eca bilang kalau Tio sudah dari dulu menyukainya. hanya saja Tio menyembunyikannya terus karna status dirinya. Tio khawatir jika dirinya di suruh berkaca pada keadaan. Tio tidak siap menerima hinaan dari orang yang di cintainya.


Posisi Rani; "Apa aku terlihat materialistis? kenapa dia berpikiran seperti itu?" betapa ruginya kamu kak! sudah menyia-nyiakan waktu begitu lama, dan membuat dirimu sendiri merasa tersiksa!"


Posisi Tio; "Kenapa kamu tidak pernah merespon aku jika kamu juga menyukaiku Rani! kita sama-sama bersandiwara dengan keadaan! aku tidak akan tahu jika Eca tidak membocorkan rahasia tentang perasaanmu terhadapku."


Situasi di dunia nyata; mereka berbicara berputar-putar, tentang chat terakhir dari Eca, namun masing-masing tetap menyembunyikan part pribadinya yang di ungkapkan Eca.


Entah sampai kapan drama ini akan berakhir!

__ADS_1


__ADS_2