
Tio sedang duduk menatap layar komputer di meja kerjanya. dengan sesekali menikmati manisnya kopi buatan Lina Office girl senior di kantornya. suasana sejuk memenuhi seluruh ruangannya. kemeja putih yang ia impikan kini telah benar-benar nyata.
ini bukan khayalan lagi, tapi sudah menjadi kenyataan. Tio memilih pindah kerja bukan karna pemilih dan melupakan kebaikan-kebaikan pak Dani. sungguh kebaikan keluarga pak Dani tak akan bisa Tio lupakan. terlebih lagi, anak perempuan pak Dani jelas-jelas telah menyandra hatinya. kemungkinan Tio akan kembali ke tempat usaha pak Dani masih sangat mungkin jika Tio benar-benar menginginkannya. karna pak Dani sendiri, sangat memberikan kesempatan kepada Tio, jika sewaktu-waktu dirinya ingin bekerja lagi dengan pak Dani. Tio hanya ingin mencari pengalaman dan mengembangkan potensi dirinya dalam hal lain. di usianya yang masih terlalu muda, Tio masih punya peluang dan kesempatan banyak untuk meraih cita-citanya.
"kok masih di sini?" tiba-tiba Lina menegur Tio yang masih asyik berbenah.
"ya, sebentar lagi pulang, ini sedang rapi-rapi kok!" jawab Tio.
"oh ya sudah!" setelah mengucapkan kalimat itu Lina pun pergi meninggalkan Tio di ruangannya.
Tio berjalan perlahan menyusuri koridor kantor. tak di sengajanya dirinya kembali di pertemukan dengan Lina.
"kok masih di sini?" tanya Tio.
"iya, aku sengaja nungguin kamu! aku mau numpang sama kamu boleh?" tanya Lina. menunggu Tio yang sejenak terdiam untuk berpikir.
"ya,,, boleh!" jawab Tio.
"ohh yes!!!" di belakang punggung Tio, Lina bertepuk kegirangan, tanpa Tio menyadarinya.
mereka berjalan kembali hingga parkiran, sebelum akhirnya menaiki kendaraan roda dua milik Tio.
Lina office girl yang cukup cantik, setahun sebelum Tio bekerja di tempat itu, dia lebih dulu menempatinya.
Lina gadis yang mandiri sebelum ini. namun entah apa sebabnya akhir-akhir ini kelakuan Lina lumayan aneh bagi Tio.
Tio merasa Lina terasa terlalu perhatian, dan seakan-akan selalu mencari peluang agar bisa mendekatinya.
"hmmm... mungkin hanya perasaanku saja."
__ADS_1
Kendaraan milik tio melesat cepat di jalan raya. sengaja Tio mengontrak rumah yang tidak terlalu jauh dari rumah Rani. kenapa? karna Tio tidak ingin ketinggalan kabar dari Rani. dengan tempatnya yang saling berdekatan, dengan mudah Tio dapat terus memata-matai kegiatan Rani. setelah melewati lampu merah terakhir Tio memberhentikan motornya. mereka berdua serentak turun.
"kenapa? kok berhenti?"
"ya, sampai di sini saja ya kamu numpangnya! aku ada perlu ke tempat lain!"' jelas Tio.
Lina sedikit merasa kecewa, namun apalah daya, dirinya hanya menumpang. itupun memang biasanya dia menumpang angkutan umum setiap pulang dan pergi ke tempat kerja.
Tio melanjutkan perjalanan setelah memastikan Lina sudah mendapatkan mobil angkot.
sebetulnya mereka satu arah. hanya saja Tio merasa tidak nyaman ketika dirinya membonceng Lina. terlebih lagi dirinya sedikit merasa khawatir jika sampai Rani melihatnya membonceng Lina. walaupun Tio tidak yakin Rani akan perduli atau tidak terhadap mereka ketika Rani melihatnya berboncengan nanti.
selepas angkot yang membawa Lina berlalu, Tiopun melanjutkan perjalanan kembali.
hari sudah mulai sore, Tio berpikir untuk sekalian mencari makan agar tidak bolak-balik lagi keluar. selain irit bensin, juga irit tenaga. setelah seharian bekerja, tentunya dia merasa cukup lelah dan ingin beristirahat dengan tenang. ada warung nasi langganan dulu yaitu warung bu Tina. sekalian mampir dan sedikit silaturahmi saja tidak ada salahnya. kebetulan juga ada bang Nana di sana ketika Tio tiba.
"baru pulang kerja?" tanya bang Nana.
bu Tina menawarkan minuman es teh ketika tahu Tio hadir di sana.
"mau minum apa? es teh mau?" tanya bu Tina.
"iya bu boleh, sekalian saja minta tolong bungkusin nasinya komplit sama lauknya ya bu!" pinta Tio.
bu Lina begitu cekatan memenuhi semua permintaan Tio.
"kenapa gak sekalian makan di warung saja? kan enak sudah lengkap minuman sama lauknya?" tanya bang Nana.
"gak apa-apa bang, masih cukup kenyang kok nasinya buat nanti di rumah aja!" jawab Tio.
__ADS_1
"oh iya bang, hari minggu saya libur, abang main-mainlah ke kontrakanku!"
"ya nanti kalau abang lagi lewat ke arah sana abang mampir! alhamdulillah abang ikut senang kamu sudah jauh berkembang, berkat tekad dan usaha kamu! kamu jauh lebih baik sekarang di banding ketika awal kamu datang!" bang Nana mengusap punggung Tio seakan penuh kasih sayang.
"iya makasih ya bang sudah bantu saya sejak saya baru datang, padahal abang gak kenal saya." ucap Tio, meraih tangan bang Nana dan menyalaminya.
bang Nana kembali menepuk-nepuk punggung Tio dan kembali berkata; "abang yakin kamu anak baik-baik, dan firasat abang gak salah! kamu memang benar-benar anak yang baik!" puji bang Nana.
Tio merasa tak enak hati mendengar pujian bang nana. hanya ucapan rasa terimakasih yang akhirnya di ucapkannya kepada bang Nana.
Setelah obrolan panjang mereka lalui, Tiopun berpamitan pulang.
sebuah kantong kresek kecil berisi nasi dan lauk pesanannya menggantung di cangkolan motornya. setidaknya sore itu dia sudah bisa menyambung silaturahmi dengan orang-orang yang pernah mensuportnya. dadanya terasa lapang meskipun dirinya belum bisa berbagi materi.
Tio melanjutkan perjalanan kembali ke kontrakannya.
Tio mengurangi kecepatan motornya ketika hampir melewati Toko Kharisma milik Pak Dani tempat bekerjanya dulu, dan kembali memacu motornya kembali ketika Tio tidak menemukan apa yang di carinya.
gang kontrakan Tio berada di sebrang Toko milik pak Dani.
sedikit usaha untuk perjuangannya agar bisa melihat Rani dari ujung gang kontrakannya ketika pagi hari tiba.
saat dirinya akan pergi kerja, di sebrang jalan Rani pun akan berdiri menunggu angkot menuju ke sekolahnya.
"gadis kaya namun tetap sederhana. kamu gadis impianku!"
Dengan begitu Tio bisa sedikit memainkan peran untuk sekedar menyapanya. andai jam kerjanya tidak bertabrakan dengan jadwal keberangkatan sekolah Rani, mungkin Tio tidak merasa keberatan menjadi jokinya setiap pagi, dan mengantar Rani ke sekolah dengan senang hati. namun ini masih dalam proses perjuangannya. belum ada kesempatan untuk santai buatnya. Tio masih harus terus bersabar dan bersabar serta menambah semangat usahanya.
dengan perasaan sedikit kecewa Tiopun memacu motornya ke dalam gang. kontrakannya tak seberapa jauh dari pintu masuk. nampak petak-petak kamar tertata rapi membentuk huruf U. di tengahnya di sediakan sedikit ruang terbuka, ada lapangan volley di hiasi pagar tanaman hijau sebatas pinggang. bangku-bangku kayu panjang, dan ada jaring-jaring di sekeliling lapangan untuk sekedar menahan pantulan bola yang melewati batas agar tidak mengenai jendela-jendela kaca rumah kontrakan.
__ADS_1
Tio memarkirkan motornya di halaman parkir khusus, pemilik kontrakan cukup memikirkan sisi keamanan tempat itu. parkiran motor sengaja di buat agak ke dalam dan di sertai pengaman CCTV.
Tio terduduk lunglai di tempat tidurnya, sedikit hembusan angin dari kipasnya cukup membuat dirinya merasa nyaman dan sedikit menghilangkan penatnya. sebelum akhirnya memutuskan untuk membersihkan dirinya di kamar mandi.