"MENGEJAR CITA DAN CINTA"

"MENGEJAR CITA DAN CINTA"
Episode 22 "kumat kepedeannya"


__ADS_3

Tio tertawa terbahak-bahak mendengar pengaduan dari teman-temannya. Mang Dadang berulang kali meminta maaf. Tentu saja Tiopun dengan senang hati memaafkan.


Hanya saja Tio sangat menyayangkan kenapa harus ada insiden sekonyol ini yang di alami mang Dadang.


Tidak masalah buat Tio walaupun titipan dari Rani di buka mereka, kenapa harus pakai acara sembunyi-sembunyi.


Toh tidak ada hal special yang terjadi pada mereka berdua.


Dodo memberikan sisa dus dan kotak yang masih berbalut itu kepada Tio.


 Dodo: "pegang yang bener, jangan sampai di colong orang lagi! Hahahahaaa!" Ledek Dodo.


Mang Dadang memalingkan wajahnya, malu rasanya mengingat hal yang baru tadi siang terjadi.


Tio mengambil kotak kado itu, memperhatikan dengan seksama, rasa penasaran yang besar menumpuk dalam benaknya. Tio membawa kotak itu menjauh dari teman-temannya. Akan terlalu riuh nantinya kalau kotak itu di buka di depan mereka. Akan ada banyak pertanyaan yang bakal di dapatnya. Sedangkan saat ini dirinya sedang kelelahan karna seharian full bekerja. Akan repot nantinya mendapat cecaran pertanyaan yang bertubi-tubi dari teman-temannya. Butuh energi yang cukup untuk sekedar menjawabnya. Belum lagi Tio belum faham akan semua ini.


Diam-diam Tio meninggalkan tempat itu, tidak pula membukanya di teras rumah. Mungkin Tio akan lebih tenang berada di tempat yang sedikit lebih sepi. Flamboyan itu menjadi targetnya kemudian.


Terduduk di tanah menekuk kaki dengan sejuta rasa GE-ERnya.


Terasa sangat manis apa yang di dapatnya malam itu. Mengalahkan rasa lelahnya setelah seharian bekerja keras.


Seakan menikmati rasa aneh itu, Tio tidak ingin segera membukanya. Kotak kado yang sudah tercabik-cabik karena ulah mang Dadang itu hanya di pandanginya saja.


Berjuta pertanyaan kembali lagi hadir. Bertanya pada dirinya sendiri dan mendapatkan jawabannya pun dengan versi dirinya sendiri.


Terlalu tinggi khayalannya tentang Rani. Apa yang sedang di rasakannya seolah mendapat sambutan hangat dari Rani.

__ADS_1


Tio tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Mungkin saat ini dia memang sedang gila. Gila memikirkan Rani yang sedang berkelana di dalam khayalannya. Separah itu pemikiran Tio saat ini.


Tiba-tiba merasa kangen melihat senyum si nona manis itu.


Tio menutup kembali kotak kado yang belum sempat di bukanya. Pelan-pelan bangkit berdiri. Baru jam delapan malam saat itu, ketika dia melihat jam di ponsel jadulnya. Tio melangkahkan kaki perlahan, matanya tertuju ke sebuah rumah besar di ujung jalan. Tampak lampu masih menyala terang. Matanya sibuk menyisir keadaan menyusuri setiap sudut ruangan. Pandangannya terhenti di sebuah balkon.


Ada seorang gadis tengah duduk-duduk santai di sana. Sedang memainkan sebuah pinsil dan beberapa buah buku bertumpuk di meja itu. Sesekali diapun melihat ke arah ponselnya yang masih menyala.


Dialah Rani... Yang sedang tidak ingin peduli akan keadaan sekitar, dan terlalu fokus dengan PRnya. Sekali-sekali Rani menggoyang-goyangkan pinsil di jarinya. Sekali-kali dia pun menempelkan pinsil ke pipi kanan bawahnya. Tanda dia sedang berpikir keras.


 Tio masih tertegun mematung di kegelapan. Tio sadar, tidak sepantasnya dia melakukan ini. Tapi dorongan hatinya begitu kuat. Sayangnya sosok Rani nampak tidak begitu jelas terlihat dari jarak jauh.


 Tak apalah, setidaknya jantungnya tidak terlalu rusuh lagi. Tio sedikit merasa tenang sekarang. Malu takut di perhatikan orang, Tiopun kembali ke posisi semula. Pohon flamboyan lagi.


Teringat akan kotak yang sejak tadi di bawanya. Perlahan Tiopun membukanya. Ada hal lain yang membuat Tio lebih terperangah lagi. Sebuah ponsel android, yang kebanyakan orang menginginkannya. Memang Tio tahu itu bukan ponsel baru, tapi tampilannya masih jauh dari sekedar layak, alias masih bagus banget di matanya. Teringat dengan cerita mang Dadang, terbayang ketika Rani telah rela membuang-buang waktu dengan bersusah-susah melakukan kejutan seperti itu.


"Siapa aku? Apa Rani menganggap aku special pula? Sama seperti aku yang menganggap Rani special!" Terlalu jauh isi otak Tio berkelana ulang untuk kesekian kalinya.


Lewat hape bututnya Tio berusaha mengirimkan pesan singkat ucapan terimakasih atas surprise kado yang di buat Rani dan sedikit pranknya. Tio tidak bercerita kalau sebenarnya mang Dadanglah yang sudah menjadi korban pranknya. Sedangkan Tio tidak tahu menahu karna baru saja pulang. mungkin lebih baik dia tidak mengatakan yang sebenarnya, takut membuatnya kecewa.


Beberapa hari ini memang Tio sangat sibuk sekali. Mengantar barang sekaligus menjadi tukang panggulnya. Semua di lakukan karna sopir andalan pak Dani belum kembali dari mudiknya.


Tio membaringkan tubuhnya di tanah, sekalian saja dengan baju yang terlanjur kotor di badan, karna belum sempat mandi sepulang kerja.


Hape android yang baru di dapatnya di pandanginya berulang-ulang. Ada tombol yang iseng-iseng di tekannya. Rupanya masih menyala. Masih ada sekitar lima belas persen sisa batrey ketika Tio mengeceknya.


"Gila! Gila! Gilaaa!" Hari ini hatinya terlampau bahagia. Semua yang terjadi seakan-akan bagai mimpi dan membuatnya agak sulit untuk percaya. Alasan klise ketika kita mengetest kebenaran antara merasa ini seperti mimpi namun ternyata nyata dengan mencubit kulit sendiri, atau menepuk pipi sendiri sampai terasa sakitnya.

__ADS_1


 Dan memang itu nyatanya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2