
Rani tidak berhenti memperhatikan orang-orang yang keluar masuk dari gudang. Sudah beberapa hari dia tidak bertemu dengan Tio.
Kado yang sudah di siapkan pun masih dalam tangannya.
Entah mengapa Tio menjadi sulit di temui.
Pada dasarnya Rani juga gadis pemalu. Mana mungkin dirinya yang datang menemui laki-laki lebih dulu. Sedangkan sembilan puluh persen pegawai ayahnya mayoritas laki-laki. Namun keparnoannya juga kadang muncul. Takut hapenya tiba-tiba meledak karna suhu di dalam kotak. Kemarin dia terlalu rapat menutupnya dengan lakban.
By the way bener gak sih kalau dalam ruang kedap udara hape berisi batrey bisa meledak? Mungkin kita harus kembali search ke pak google buat nanya ya, seperti kemarin. Heheheee...
Hmmm... belum nemu video hasil riset dari masalah ini sih. PR lagi buat penulis.
Karna yang di cari tak kunjung terlihat, Rani berinisiatif akan menitipkannya langsung kepada teman kerja Tio.
Perlahan-lahan Rani memberanikan diri melangkahkan kakinya. Sangat berharap kalau kotak kadonya tidak sampai di titipkan kepada orang lain.
Namun harapan itu sirna manakala Rani tidak menemukan tanda-tanda kehadiran Tio.
Mang Dadang: "ya ada apa neng?"
Rani: "ini mang, saya mau nitip kotak buat kak Tio! Kak Tionya kemana ya pak? Kok gak pernah kelihatan?"
Mang Dadang: "ooh Tionya lagi kirim barang neng! Jauh tempatnya, lagi sibuk neng! Dia yang ngirim-ngirim barang sekarang, karna sopir biasanya lagi mudik!"
Mang Dadang: "titip bapak aja gak apa-apa, nanti bapak kasihkan kalau Tionya sudah pulang!" Tawar mang dadang.
Rani sejenak berpikir, sebelum akhirnya menerima juga tawaran mang Dadang.
Rani: "ya udah pak saya titip bapak ya! Tapi tolong jangan di buka sama bapak,, biar kak Tio aja!" Rani tersenyum lega.
Di akhiri dengan ucapan terimakasih, Ranipun meninggalkan tempat itu.
Mang Dadang memandangi kotak titipan Rani. Sejujurnya mang Dadang merasa sangat ingin tahu isinya apa. Tapiii... Kotak itu milik orang lain. Tentu tidak sopan membongkar barang rahasia orang lain. Apalagi orang yang menitipkan memberi kepercayaan penuh kepadanya. Tapi kotak itu terlihat sangat menarik, mang Dadang merasa penasaran sekali dengan isinya. Kotak sepatu berbalut lakban yang begitu tebal,, apakah isinya sangat penting??.
__ADS_1
Lama pak Dadang memandanginya. Karena rasa keponya yang tinggi, mang Dadang pun akhirnya berinisiatif ingin membukanya secara diam-diam. Akhirnya mang Dadang pergi diam-diam ke belakang gudang.
Hmmm aroma di belakang gudang agak kurang sedap! Maklumlah ada comberan air yang lumayan lebar. Pembuangan dari kamar mandi gudang. Ada beberapa ikan lele dumbo di dalamnya yang sengaja di pelihara, mungkin agar jentik nyamuk bisa berkurang karna lele memangsanya. "Di mana lagi tempat sepi kalau bukan di sini?"
Mang Dadangpun mengendap-endap lalu jongkok di tanah.
Perlahan lapis demi lapis lakban yang menempel pada kotak kardusnya di lepas. Betapa lengket dan kerasnya! Mang Dadang perlu sedikit perjuangan untuk merobeknya, terlebih lagi dia tidak membawa gunting atau pisau cutter sebagai alat bantu.
Beberapa temannya yang lain sibuk mencari-cari keberadaan mang Dadang. Karna suasana toko sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan barang-barang pesanan pembeli.
Pak Yayan secara tidak sengaja melihat tingkah aneh mang Dadang yang sembunyi-sembunyi memegang kotak titipan dari Rani. Pak Yayan pun tidak mengetahui saat Rani menitipkannya, begitu juga dengan teman-teman yang lain.
Pak Yayan berbisik kepada Dodo.
Pak Yayan: "Do!" Dodo menoleh ke arah pak Yayan.
Dodo: " ada apa? Kenapa bisik-bisik"
Pak Yayan dan Dodo saling berpandangan, merasa heran dengan apa yang di lakukan mang Dadang.
Kenapa mang dadang mengacak-ngacak koran yang berbalut lakban begitu banyak? Namun mereka tidak berani mengganggunya. Mereka mendiamkan dan menonton saja aksi mang Dadang dari jarak yang tidak begitu jauh dari mereka. Di ujung gudang Maman juga secara tidak sengaja melihat pak Yayan dan Dodo sedang mengendap-ngendap mengintip Mang Dadang.
"Hadeuuuhh pantesan ini orang-orang pada ngilang dari gudang! Rupanya pada nonton lenong di sini! Awas lu gua kagetin!" Maman pun ikut mengendap-ngendap bersiap hendak membuat kejutan buat mereka berdua.
Balik ke mang Dadang yang perlahan mulai berhasil mebuka lembar demi lembar bungkusan koran. Rani memang sengaja membungkus hape itu dengan berlapis-lapis koran bekas! Hanya iseng saja awalnya.
Mang Dadangpun makin bertambah penasaran. Ketika di dalam bungkusan terdapat benda bulat panjang seperti tali. Sisa sedikit lagi, mungkin dua kali robekan terakhir sebelum finish.
Mang Dadang meluruskan kakinya karna merasa pegal, dia pun segera berdiri. Sambil dengan gemasnya merobek bungkus kertas koran terakhir yang tak kunjung selesai, dan tiba-tiba membuatnya spontan berteriak membanting sisa bungkusan ke tanah, kemudian bermaksud hendak lari menjauh dari tempat itu. Namun sayangnya...
"Byur!!!" Di hentakan kaki kedua kalinya mang Dadang terpeleset ke dalam comberan.
Tentu saja orang-orang di belakangnya kompak mentertawakannya. Tidak sangka mang Dadang terciduk teman-temannya juga. Walau pada akhirnya mereka berusaha mengeluarkannya dari dalam comberan, membantunya naik ke pinggir. Meskipun tidak dalam tapi comberannya sangat licin dan berlumut, selain itu aroma wanginya pun sungguh menyengat hahaha!
__ADS_1
Mang Dadangpun syok berat. Untung saja jantungnya sehat.
Tubuhnya kotor di penuhi lumpur dan lumut.
Pak Yayan dan Dodo pun sempat kaget kenapa Maman bisa ikut tertawa bersama mereka, sedangkan mereka tidak memberitahukan orang lain tentang hal konyol ini.
Maman menjelaskan kalau dia secara tidak sengaja melihat mereka berdua sedang mengendap-ngendap. Makanya Maman menguntit juga dari belakang.
Mang Dadang terduduk di tepi comberan. Mengumpulkan kembali lelembutannya.
Sedangkan Dodo mengambil bungkusan koran yang masih menggumpal, ada ekor yang masih menggantung di bungkusan itu, separuhnya lagi masih terbungkus oleh koran. Maman tertawa terpingkal-pingkal mana kala tahu bahwa yang membuat mang Dadang ketakutan adalah ular-ularan karet yang ada di dalam bungkusan koran itu. Maman mengambilnya dan melemparkan kembali ular-ularan karet itu kepada Dodo. Dodo tertawa dan menangkapnya, lalu melemparkan kembali ke arah mang Dadang. Mang Dadang tidak bisa berkutik untuk membalasnya.
Mereka tertawa bersama atas kejadian itu.
Masih ada lagi benda kotak yang terbungkus rapi oleh koranitu. Namun mereka tidak mau membukanya sebelum mengintrogasi mang Dadang dulu. Untuk menceritakan kronologi kejadiannya.
Kertas koran bekas berserakan di tanah sebelum akhirnya habis di bakar karna sampahnya yang lumayan banyak.
__ADS_1