"MENGEJAR CITA DAN CINTA"

"MENGEJAR CITA DAN CINTA"
Episode 15 "MULAI MENCARI IDE USAHA BARU"


__ADS_3

Tio: "Gimana mat, usaha apa yang kamu sedang tekuni sekarang?"


(Kita langsung terjemahkan saja percakapan mereka ke dalam bahasa indonesia ya all)


Rahmat: "ya gimana lagi, masih seputar usaha tani dan ternak saja sampai saat ini! Kenapa memangnya? Apa kamu punya rencana bagus?".


Tio: "belum sih, tapi bagaimana kalau kita mulai mencari kegiatan untuk memutar roda ekonomi di desa kita??".


Rahmat: "caranya?"


Tio: "aku sih gak tahu ini akan berhasil atau tidak, tapi mungkin kita harus mencobanya! Siapa tahu bisa berhasil!".


Tio mengambil gelas teh hangat dan meneguknya. Sesekali pandangannya tertuju kepada kedua adiknya yang tengah asyik bermain di halaman rumah Rahmat.


Mereka tengah asyik berburu serangga.


Di kampung sudah biasa anak-anak memainkan serangga. Dan mereka juga sudah teredukasi, tahu mana serangga yang berbahaya dan mana yang tidak.


Tiopun melanjutkan pembicaraan.


Tio: "gimana kalau kita menjual sendiri hasil pertanian kampung kita ke kota? Aku tahu di kota harga jualnya jauh lebih mahal, bisa dua kali lipatnya, bahkan kadang lebih!" Jelas Tio.


Rahmat nampak serius menyimak dan cukup mempertimbangkan ajakan Tio.


"Sebagai langkah awal, ku kira kamu harus memiliki ini!" Tio mengeluarkan sebuah ponsel jadul miliknya.


Rahmat tahu dan mengerti itu adalah ponsel. Namun di desa memiliki ponsel di anggap bukanlah sesuatu yang wajib di miliki.


Mereka juga rata-rata tidak merasa begitu tertarik untuk memilikinya. Selain daripada tivi, radio atau sepeda.


 Percakapan terjadi begitu lama, panjang dan lebar


Walaupun pertemuan mereka singkat, namun nampaknya isi pembicaraan ini bukan percakapan biasa.


Ada sejumlah planing di sana yang mereka coba akan terapkan. Tio dan Rahmat pun mulai berbagi tugas. Mereka berencana menjalankan misinya satu atau dua bulan kedepan.


Rupanya mereka bermaksud bekerja sama berwirausaha mandiri.


Mereka bertujuan akan menjualkan hasil bumi para petani desa, kemudian menjualnya di kota. Seperti yang Tio ceritakan.


 Di kota kebutuhan akan bahan pangan sangat tinggi. Namun di kota sudah tidak ada lahan untuk bercocok tanam. Mereka membelinya dari pasar-pasar terdekat yang menyediakan kebutuhan pokok setiap harinya.


Mungkin Rahmat bisa menjadi pengepulnya di desa. Karna Rahmat ekonominya cukup lumayan, lahan taninya juga cukup luas. Jika dia tidak keberatan, bisa saja dia mengeluarkan sedikit modal untuk biaya angkut hasil tani dan sewa tempat usaha dalam tempo satu atau dua bulan ke depan.


Tio sendiri bermaksud membantu mencarikan tempat untuk mereka berjualan nanti. Karna Tio yang tahu seluk beluk keadaan kota B saat ini.


Dengan begitu, para petani bisa mendapat kemudahan menjual hasil tani mereka kelak. Semua umbi, pisang-pisangan, mangga bahkan beras dan daging sangat mungkin bisa berhasil di jual di kota. Selain itu Tio berharap jika para petani di desa ke depannya akan hidup sejahtera meskipun dari hasil bercocok tanam. Sayang masih harus menunggu dua bulan kedepan untuk merealisasikannya. Dengan harapan ketika rencana itu berjalan Tio bisa menambah modal untuk biaya operasional.


Selama dua bulan ke depan pula Rahmat mendapat tugas untuk melaporkan apa saja yang sedang di panen petani saat itu, untuk mereka pasarkan di kota.

__ADS_1


 Hari semakin sore, rasanya Tio belum ingin mengakhiri obrolan ini. Namun kasihan juga adik-adiknya jika harus terus menunggunya terlalu lama lagi. Tio pun segera pamit.


Ketika itu matanya tidak sengaja menoleh ke arah tiang rumah. Ada sesuatu yang menggantung di sana mengganggu matanya. Sebuat tas rajut hasil bikinan sendiri kata Rahmat. Ibu dan adik perempuannya suka merajut. Nenek dari ibunya yang mengajarkannya dulu.


Otak bisnis Tio kembali bermain. Di perhatikan detail tas rajut itu dengan seksama. Sangat rapi dan teliti. Perpaduan warnanya pun bagus dan tidak norak.


Melihat kelakuan Tio yang setertarik itu melihatnya, Rahmat pun tersenyum dan menyuruhnya untuk membawanya pulang. Artinya Rahmat memberikan tas rajut itu untuk Tio. Yang Rahmat tau, Tio punya adik perempuan. Mungkin tas itu bisa untuk adiknya nanti.


 Rahmat: "ya sudah bawa saja kalau kamu suka hahahaaa! Itu kan tas cewek! Aku curiga nih! Hahahahaa!"


 Tio: "hus jangan bicara sembarangan, kamu cuma belum tahu saja isi pikiranku! Ini aku lagi pikirkan ide usaha lainnya! Hahahaa!"


 Rahmat: "oh ya sudah buat kamu saja, jangan lupa ide bisnisnya di matengin ya, nanti kabari aku setelah di kota dapat lokasi strategis untuk berdagang!"


"Aku pegang ya omongan kamu! Semoga sukses kawan!" Rahmat kembali melanjutkan kalimat yang sempat di jedanya.


Merekapun bersalaman, tak lama kemudian Tio pun meninggalkan tempat itu bersama kedua adiknya.


Suasana sore sepanjang perjalanan pulang. Matahari sebentar lagi terbenam, akan datang malam, kemudian esok paginya Tio akan kembali ke kota lagi.


Tio memutuskan akan membawa pulang tas rajut itu ke kota. Mungkin dia akan memberikannya kepada Rani anak gadis pak Dani yang masih duduk di bangku SMP sebagai oleh-oleh dari kampung, selain umbi yang kemarin habis di panennya bersama kedua adiknya.


 Anita sebentar lagi akan lulus SMA. Dia mulai merengek agar di ijinkan untuk tinggal dan bekerja di kota.


Namun Tio masih ingin adiknya itu melanjutkan untuk mengambil kuliah saja.


Tio masih merasa sanggup untuk di repotkan oleh mereka. Tio menyarankan agar Anita menjadi guru saja. Selain dia bisa selalu menemani ibunya di desa, Anita juga tidak perlu jauh-jauh merantau untuk mencari uang. Belum lagi di usianya yang sekarang, mungkin tidak lama lagi akan ada pria yang mau memperistrinya. Biasanya di desa menikah muda itu sudah biasa. Itu bukan hal yang menurut merekan aneh.


Apapun pilihannya nanti Tio berharap mereka kelak akan jadi manusia-manusia yang bermanfaat. Terutama untuk lingkungan tempat di mana mereka tinggal.


 Makan malam sudah ibu siapkan.


Tio mulai mempersiapkan apa yang akan di bawanya besok. Tio takut jika mendadak menyiapkan semua itu besok, akan memakan waktu yang lumayan lama. Sedangkan dia membawa semuanya sendiri. Kali inipun Tio tidak membawa baju terlalu banyak. Hanya sejumlah seperti yang di bawanya dulu, ketika di awal merantau, itu ternyata sudah cukup. Lagi pula baju-baju itu hanya di pakai untuk kerja di toko saja.


Tidak ada diskusi lagi antara ibu dan dirinya malam itu. Karna di malam-malam sebelumnya mereka sudah bertukar cerita sampai z.


Tio kembali menghempaskan rasa kantuknya. Tidur cepat akan lebih baik agar besok pagi badannya bisa lebih bugar lagi.


Mabuk kendaraan adalah hal yang sangat ingin di hindarinya.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2