
Baru saja tiba di halaman kostnya, tiba-tiba ponselnya bergetar. Tio segera mengintip nama kontak yang sedang mencoba menghubunginya. Logat sunda mulai mewarnai dialog mereka.
"Rahmat! buat apa dia telpon malam-malam begini?" karna takut ada urusan penting, atau darurat, Tio segera mengangkatnya.
Tio; "Hallo! Apa kabar Mat? aya naon peuting-peuting telpon?"
("Hallo! Apa kabar Mat! ada apa telpon malam-malam?")
Rahmat; "Muhun, punten nya ngaganggu! Urang rek menta ijin ka maneh!" (Iya maaf ya menganggu! saya mau minta izin sama kamu!")
Tio; "Ijin naon mat? asa ku aneh hehehee,"
("Izin apa Mat? kok terasa aneh ya hehehe.")
Rahmat; "Ituuhh, dah kumaha ieu mimitian ngomongna?" ("Aduh! darimana memulai pembicaraanya ya?")
Tio; "Nya tong bingung, langsung wae gaskeun!" ("Jangan bingung-bingung! langsung saja!")
Rahmat; "Tapi maneh ulah ngambeknya,,," ("Tapi kamu jangan marah ya,,,")
Tio; "Moal sok mangga, malah panasaran ari kieu mah komo!" ("Enggak, ayo, malah penasaran kalau kayak gini mah!")
Rahmat; "Kieu, mun maneh ngarestuan, inshya alloh, minggu hareup urang bade ka imah!" ("Gini,, kalau kamu kasih restu, inshya alloh minggu depan aku mau ke rumah!")
Tio; "Nya mangga wae dek ka imah mah! maenya kudu telponan heula hahaha!" ("Ya silahkan, kalau mau ke rumah! masa harus telponan dulu sih!")
Rahmat; "Duh kupingkeun heula Tio,, urang teh ka imah lain sekedar dek ulin! tapi urang boga niat hade, bade ngalamar Anita! kira-kira sebagai lanceuk atawa kakakna maneh ngarestuan urang jeung Anita henteu?"
("Begini Tio, dengarkan dulu! saya ke rumah bukan sekedar mau main! tapi saya ada niat bagus, mau melamar adik kamu Anita! kira-kira kamu sebagai kakaknya merestui tidak?")
Wah! tengah malam di telpon dapat kabar bahagia. Udah hatinya lagi happy di tambah lagi kejutan dari kampung! Jadi double bahagianya deh.
Rahmat; "Hallooo,, Tioo kakakkuuu kumahaa? urang di terima moal jadi ipar? hahahahaa!" ("Hallo Tio kakakkuu, gimana nih? saya di terima tidak jadi adik iparmu?")
Tio; "Oh! eh enya Mat! atoh pisan urang mun Anita di peristri ku maneh, urang percaya ka maneh sohibkuuu,, alhamdulillaahhh."
("Oh iya Mat! Aku bahagia kalau Anita di peristri sama kamu. aku sangat percaya padamu temanku! alhamdulillah")
Rahmat; "Ya allohh nuhun kakak iparkuu! jadi love-love sama kamuu,, terus gimana? kamu bisa pulang dulu tidak?" ("Ya alloh, terimakasih kakak iparkuu, jadi love-love sama kamu, kamu bisa pulang dulu gak?")
Tio; "Ya nanti izin dulu lah sehari mah, kamu lamaran datangnya bisa gak pas hari libur?"
__ADS_1
Rahmat; "Teuing atuh, kumaha cek kolot wae! Pokokna sekitar seminggu deui lah! Ke di telpon deui mun tos pasri hari'na!"
Tio; "Nya mangga, nuhun euyy! Masya allohh calon adik ipar! asli kaget euy! emang maneh iraha pacarana jeung anita? datang-datang telpon rek ngalamar wae,,, hehehehe,,, bisaan!"
Rahmat; "Ah kepo maneh mah! jiga nu can pernah ngalaman wae bogoh ka awewe wae heuheuheuuu!" ("Kepo kamu, kayak yang belum pernah mengalami jatuh cinta aja!")
Tio; "Ish! ulah songong! bisi restuna di cabut deui, kajeun?" ("Ish jangan songong! nanti restunya di cabut lagi biarin?")
Rahmat; "Ampuuunn akangg,, hampura atuh, ulah nepi ka di cabut! teu gaduh deui calon sejen euy! tos mentok ka neng Anita wae!"
("Ampun kakak! maafin dong! jangan di cabut lagi izinnya, soalnya gak punya calon istri lainnya, udah menrok sama Anita!")
Tio; "Heureuy atuh Mat! hehehee!"
("Bercanda Mat!")
Kebiasaan bercanda mereka tetap terbawa sampai hari ini. Tio memberikan restu seperti keinginan Rahmat. Mereka mengobrol dan bercerita banyak sepanjang malam. Sesekali mereka menyelipkan cerita lucu di dalamnya. Sampai mata Tio terkantuk-kantuk.
Tio bersyukur ketika Rahmat mau melamar Anita sebagai istrinya. Karna Tio tahu Rahmat lelaki yang baik, cocok untuk Anita adiknya. Selain itu usaha yang mereka rintis dulu sebagai suplayer buah dan sayur serta hasil bumi lainnya ternyata masih kokoh berdiri sampai hari ini. Meski Rahmat melanjutkan usaha itu seorang diri, hingga akhirnya kini mempunyai beberapa karyawan. Intinya Rahmat sudah lebih mapan sekarang. Tio tidak merasa khawatir kalau Anita akan merasa kekurangan.
Tiopun bangga jika ide yang dulu di terapkannya masih berkembamg hingga sekarang.
Karna terlampau lelahnya melakukan banyak aktifitas di hari ini. Hingga rasa kantuknya begitu menjadi-jadi.
Kipas di biarkannya tetap menyala, hingga Tio bangun di keesokan harinya.
Rasanya Tio telah menerima telpon dari Rahmat di dalam mimpinya.
Sayangnya ketika Tio mengecek panggilan masuk ternyata memang ada nama Rahmat di sana.
Dalam keadaan antara tidur dan melek ketika Rahmat menelpon dirinya.
Jadinya berasa bagai dalam mimpi saja.
Tio merasa lega akhirnya Anita mendapatkan jodoh lelaki yang baik dan mapan untuk ukuran orang desa.
Tio melanjutkan Ritual bangun paginya dengan mandi dan sarapan pagi.
Aroma tubuh yang gak jelas baunya kini wangi kembali. Hari ini tidak ada alasan untuknya malas bekerja, meskipun semalam agak kurang tidur. Namun Tio merasa punya tanggung jawab terhadap pekerjaannya.
Tio bangun dan berangkat dengan santai menuju kantornya.
__ADS_1
Walaupun lelah toh semalam banyak berita besar di dapatnya. Tio menunggangi kuda besinya dengan ekspresi puas dan bahagia.
menyusuri jalanan menuju tempat kantornya
pagi ini begitu tenang, kemana princces Lina yang biasa mengusiknya di saat berangkat dan pulang kerja?
hari ini dia tidak ada kabar! mungkin dia sudah naik angkot duluan.
"oh syukurlah jika mulai hari ini dia berhenti mengusikku, kalau bisa selamanya saja.
aku memang tidak nyaman dengannya. harusnya kita hanya berteman baik!".
Udara pagi selalu segar untuk di nikmati.
Tio begitu menikmati perjalanan menuju ke kantor dengan roda duanya.
masih terbawa suasana semalam ketika dia bersama Rani jalan bareng!.
senyum bahagia tersungging dengan sendirinya manakala teringat kejadian-kejadian semalam.
Akhirnya tanpa di duga sebelumnya, Rani mau menerima dirinya, memberikan kesempatan kepadanya untuk benar-benar membuktikan jika dia memang sangat menyukai Rani.
Terasa konyol namun berkesan! bagai anak usia belasan yang menyatakan perasaan sereceh itu!
Pantas saja banyak pria yang tidak pernah mengungkapkan isi hatinya. Ternyata tidak mudah mengatakan perasaan yang selama ini bersembunyi di balik dada itu.
Banyak orang memilih memakai perantara.
Namun bagi Tio, lebih baik mengucapkan dengan mulutnya sendiri, dan mendengarkan keputusan dengan kupingnya sendiri juga, agar semua lebih terasa maknanya.
tak terasa, meski di barengi dengan lamunannya. akhirnya tiba juga di tempat parkir perusahaannya. Dirinya nyaris telat datang!.
Ternyata di sana Tio juga tidak menemukan Lina.
begitupun di tempat Lina biasa menunggu dirinya, Tio tidak menemukannya di manapun sepanjang jalan dari arah parkiran menuju ruang kerjanya.
Anehnya, secangkir kopi panas sudah tersedia di meja kerjanya.
Tio yakin kalau minuman itu buatan Lina.
Tio bekerja sebagaimana biasanya, tanpa merasa ada yang berubah.
__ADS_1