
Bahagianya pekerjaan hari itu lancar. Tio segera bangkit dari duduknya, sedikit merapikan mejanya, dan bersiap pulang.
Seharian ini dia belum melihat Lina.
Tapi... tak apalah, dia malah merasa lebih tenang saja walau seharian ini tidak mendapat layanan special yang biasa Lina hadirkan.
Toh kalau cuma sekedar air minum, dia bisa mengambilnya sendiri sesuai kebutuhannya.
Gak berharap bertemu Lina di tempat biasa sih, tapi merasa aneh aja ketika Tio tidak melihat tanda-tanda kehadirannya di sana.
Mencoba untuk bertanya kepada teman yang lainpun rasanya Tio enggan.
Tio tetap melanjut kan perjalanan pulang seperti biasa. Kali ini bahkan dia tidak harus berhenti di pertigaan lampu merah hanya untuk menurunkan Lina dan mencarikan angkot.
Dengan santainya Tio naik motor sepulang kerja. Rasanya seperti baru terbebas dari belenggu kerjaan, pandangan bisa jauh tidak seperti di dalam kantor, yang terlihat hanya dinding saja, ada sedikit jendela kaca, namun tetap saja dengan pemandangan yang sama.
Terkadang rasa jenuh juga menghampirinya.
Namun pekerjaan ini adalah hal yang dulu sangat di mimpikannya. Lagipula, gaji dan tunjangan-tunjangannya lagi bagus.
Mungkin itulah alasan Tio tetap mempertahankannya. Meskipun Tio sadar takkan selamanya dia menjadi bawahan.
Kelak kreatifitasnya juga harus di asah kembali, untuk bekal di masa pensiun, agar tetap bisa mandiri di hari tuanya.
Sebuah kotak kardus tergeletak di depan pintu kamar kostnya. Security kontrakannya telah mengantarkan paket itu.
Tentu saja Tio tahu dari mana asal kotak itu. Dan apa isi di dalam kotaknya.
Tio segera membawa masuk dan mulai membongkar isinya.
Berbagai model tas rajut baru hasil karya pengrajin desa sudah di terimanya hari ini.
Sungguh nasib baik sedang berpihak padanya.
Dengan datangnya benda itu, Tio punya peluang besar untuk bertemu Rani kembali di hari itu. Tak ingin berlama-lama lagi menyia-nyiakan kesempatan, Tio segera menghubungi Rani.
Tidak afdol rasanya bila menghubunginya jika hanya via wa. Tiopun segera mencoba menghubunginya melalui video call di saat itu juga.
Tio; "Assaalamualaikumm,,"
Rani; "Waalaikum salam,, iya ada apa ya?"
Tio; "Hmm... kamu apa kabar?"
Rani; "Mm... Baikk,, heee,"
Tio; "Udah makan belum?"
Rani "Udah dong kak! makan itu kan penting, biar badan selalu sehat dan panjang umur!"
Tio; "Oh iya yaa,, kalau sehat kan bisa terus sama-sama kamu,, hehehee!"
Rani; "Udah deh jangan mulai, langsung aja ke topik semula!"
Tio; "Ini... tadi kakak dapat kiriman barang baru lagi, lumayan banyak, mau di ambil apa di anterin?"
Rani; "Anter aja deh! aku kan gak kuat kalau banyak-banyak bawanya."
Tio; "Iyaa sihh,, tapi malu gak ya sama calon mertua kalau kakak ke sana."
Rani; "Malu teruusss,,, emangnya mau backstreet'kah?"
Tio; "Gak dong neng! kakak harus gentle, apapun pendapat kedua orangtua mu, kita gak boleh bohong! kalau ada cowok yang naksir kamu dan minta backstreet, jangan kamu ikuti kemauannya. karna jika terjadi sesuatu, perempuan juga yang akan rugi! dan kamu bisa di salahkan juga sama mama papa kamu nantinya."
Rani; "Mmhhh... gitu yaa, jadiii... kakak pengen aku sama orang lain?"
Tio; "Ehhh jangan! jangan! ralat deh gak jadi hehee!"
__ADS_1
Rani; "Gitu dong! jangan plin plan,"
Tio; "Oke! oke! maaf!"
Rani; "Ya udah nanti tolong di antar aja ya,, tapi kabari dulu sebelum ke sini!"
Tio; "Oke tuan putri! kasih senyum dulu dong pangerannya!"
Rani menarik ujung bibirnya dengan jari dan menariknya ke samping.
"Niih! maniskan? hahaha!"
"jangan di jelekin ih, kayak senyum badut! biasa aja yang alamii heeee"
"kakak mah gituu,, aku di samain sama badut?" Rani pura-pura merasa tersinggung. Memamerkan ekspresi bete di layar ponsel milik Tio.
"Ya enggak dong neng! Wkwkwkk maafinn,, salah lagi dah!" Tio menanggapi serius ucapan Rani yang pura-pura marah.
Rani tertawa melihat Tio yang salah tingkah!
"Hahahahaa kakak kena prank!"
"Neng bikin mules kakak aja! jangan bikin panik dong neng! kakak tuh gak mau kalau kamu marah-marah gitu! kakak sedih tahu, ini kan saat yang sangat kakak mimpikan bisa deket sama kamu, kakak gak mau ada hal-hal buruk yang terjadi di dalam hubungan ini." Ucap Tio. Sekarang giliran Tio yang memasang wajah memelasnya.
Membuat Rani juga merasa bersalah.
"Mhhhh kaciaaannn,,, maaf ya ma'aaaff."
"Pengen di sayangg,,"
"Dih! manjaaa,, byee!"
Tiba-tiba ponsel di matikan Rani. Sisa gambar walpaper yang nampak di layar kunci ponsel Tio. ada photo mereka berdua terpampang di sana. photo ketika mereka baru jadian.
Tio tertawa kecil, melihat ulah Rani, karna sesungguhnya Tio hanya bercanda saja.
Sesuai kesepakatan bersama, sebelum pergi Tio memberi kabar terlebih dahulu.
Rani menyambutnya di depan gerbang rumahnya. Sebelum Tio benar-benar menginjakan kakinya ke tanah.
Rani membantu memegang kotak itu dengan hati-hati. Sedangkan Tio memarkirkan motornya dalam posisi aman.
Rani; "Berat ya kak!"
Tio; "Gak kok! ini kan cuma tas rajut! udah kakak aja yang bawa!"
Rani; "Oke!"
Tio berjalan di depan di ikuti oleh Rani di belakangnya.
Dan meletakannya di meja ruang tamu.
Tio; "gimana olshopnya? masih banyak peminatnya enggak?"
Rani; "Alhamdulillah kak! cuma stock barangnya aja yang agak sulit!"
Tio; "Ya udah, pasang iklan dulu gih! di status wa, atau akun sosmed lainnya!"
Rani; "nanti deh, belum di packing dan di cek kondisi barangnya kak! lagian harus di photoin dulu satu-satu buat photo promo."
Rani; "Silahkan duduk dulu kak!"
Tio; "Udah gak usah repot-repot bawain minuman! kalau ada sama poci-pocinya juga boleh dah!"
Rani; "oh seperti itukah?? tunggu ya sebentar!" Rani meninggalkan Tio di ruang tamu sendirian. Rani menyiapkan air putih dingin, seperti pesanan Tio, Ranipun membawa serta poci airnya di atas nampan.
Rani mendapati Tio tengah berada di kursi tamu depan.
__ADS_1
Tio memang cowok yang baik, buktinya dia tahu diri, ketika tidak ada orang lain di sana, dia malah memilih duduk di luar. padahal kursi ruang tamu di dalam rumah Rani kosong melompong!.
Rani meletakkan minuman itu di atas meja.
Rani; "ini kak! sesuai pesananmu, aku bawakan air sama poci-pocinya."
Tio; "hahahaha! serius bener sih, kakakkan cuma bercanda!"
Rani; "Ya aku juga sama, cuma bercanda hahaa!"
Tio; "hmmm,, iseng juga si neng ini ya!"
Rani; "Aku iseng? siapa yang ngajarin? weee!" ledek Rani.
Setiap jawaban Rani membuat Tio selalu merasa gemes saja.
namun Tio juga tidak berani untuk mencandainya terlalu jauh.
"Anak orang takut nangis, tar ngadu sama emaknya, terus aku di hapus dari daftar calon mantunya dah! ngeriiii!" Tio bergidik sendiri jika itu sampai terjadi.
"amit-amitt! pait! pait! pait! jauhkanlah hal-hal buruk dalam hubungan kami."
Tio malah berpikir yang tidak-tidak!.
Tak lama kemudian Tio datang dengan mobil putihnya dan ikut duduk bareng di sana, mereka pun bersalaman.
Rio; "Apa kabar bro! kemana aja kamu? baru main lagi ke sini?"
Tio; "Ada kok! maklum sibuk kuli bang! tetep aja gak bebas!"
Rio; "hebat kamu, denger-denger katanya kamu dapat kerja di perusahaan besar ya? kemarin bapak cerita-cerita katanya pernah ketemu kamu di jalan, kata bapak penampilan kamu sekarang kereen!"
Tio; "Ah abang bisa aja! masih sama kayak dulu kok bang, dekil! hehehee!"
Rio; "kamu tuh, tetap aja sederhana, kagak berubah! selalu merendah terus!" ucap Rio sambil berusaha melepas sepatu-sepatunya.
Rani; "Kak mana oleh-oleh buatku? ada gak?" rengek Rani.
Rio; "kamu udah gede masih aja ngarep di bawain oleh-oleh,"
Rani; "Kakak gitu,, emang kakak gak sayang apa sama adikmu ini? udah tiap waktu di tinggalin! minta jatah oleh-oleh aja di omelin!" teriak Rani. sambil memasang raut muka cemberut.
Rio; "haduuuh repot deh kalau urusan sama kamu! kakak gak bisa menang! sana ambil di jok belakang!"
Rani; "beneran? horeee! Rani berlari ke arah mobil Rio. begitu banyak bungkusan-bungkusan berisi barang belanjaan kakaknya, membuatnya bingung harus memilih yang mana.
Rani mengambil salah satu goodie bag bertuliskan salah satu merk ternama.
Rani; "aku ambil yang ini ya kak!" Rio tidak menjawab, hanya matanya saja yang terus memperhatikan Rani yang sibuk mengeksekusi bungkusan itu.
Rani; "Lhoo kok kemeja cowokk? gak mau yang ini,, ada yang buat cewek gak?"
Rio; "bawel, protes terus! ya itu memang kemeja kakakkk! liat dong brand apa dulu?"
Rani masih penasaran dengan bungkusan berikutnya, dan kembali mengaduk-aduk barang bawaan Rio.
Rio; "Ini bro! buat lu aja!,, udah tanggung di acak-acak si Rani!"
Tio; "Loh kok malah dapet oleh-oleh ni bang!"
Rio; "Udah gak apa-apa! lumayan buat lu ngantor, biar tambah ganteng! hahaha! by the way gue ke dalam dulu ya! biarin aja si Rani sibuk! udah kebiasaan dia mah! tukang ngacak-ngacak! paling tar gue suruh rapiin lagi!
Tio; "oh iya makasih bang!"
Tio dengan sedikit tak enak hati menerima pemberian dari Tio. meski sudah lama tak bertemu ternyata Tio masih ramah menyambutnya. Mereka memang tidak pernah berubah, masih seperti dulu memperlakukannya dengan baik!.
Sementara itu, Tio memperhatikan Rani yang sibuk membongkar isi mobil Rio kakak kesayangannya. Tio menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Rani yang ternyata masih bersikap manja kepada sang kakak.
__ADS_1