
Tarawih pertama sudah selesai. Malam nanti masuk tarawih kedua.
Biasanya di minggu pertama dan kedua mesjid akan penuh dengan para jamaah.
Suasana khas di tiap bulan Ramadhan. Jamaah di bulan ini lebih banyak dari bulan-bulan sebelumnya.
Suasana religi sangat terasa kental.
Rani bersiap pergi ke mesjid, di temani mama. Lebih terasa saja suasananya jika bisa menikmati hadirnya Ramadhan bersama tetangga-tetangga, yang biasanya tidak pernah bertemu namun bisa bertemu di saat sedang tarawih. Sejenak melepas kerinduan akan kehadiran mereka, perjumpaan ini menjadi hal yang membahagiakan. Kesibukan membuat mereka menjadi kian jarang mendapat waktu untuk bertatap muka.
"Anaknya sudah gadis ya bu! Ini Rani kan?"
Bu astma menyapa mama.
"Iya bu". Jawab mama.
"Cantik banget mirip ibu'nya! Kalau gak sama ibunya mana mungkin saya kenal! Heheheee..."
"Ibu bisa aja, kalau mirip saya, gak salah lagi bu pasti itu Rani anak saya! Hahahaa!"
Mama dan bu astma tertawa renyah.
Sedikit dialog menjelang shalat, sebelum imam mulai memimpin shalat.
Rani menikmati suasana itu. Jarang sekali dia bisa sedekat ini dengan tetangga-tetangga.
Bahkan ada beberapa teman TK dan SDnya yang dulu begitu akrab dengannya, tapi kini kurang begitu dekat dan serasa ada jarak seolah mereka bukan teman akrab sebelumnya. Rani harus beradaptasi kembali dengan mereka.
Semua terasa kaku, tidak sama seperti dulu di saat mereka masih menjadi teman sekelas.
Ya,, komunikasi ternyata penting untuk di jaga. Agar jangan seperti ini. Kehilangan teman yang dulu sangat dekat dan akrab bercengkrama dengannya.
__ADS_1
Ketika di pikirkan kenangan itu, hadir rasa sedih di hati Rani.
Ada seorang gadis seusianya sedang memperhatikan Rani. Rani melempar senyum ke arah gadis itu, mencoba untuk bersikap ramah. Saat itu selesai shalat tarawih, dan Rani sedang mencari-cari sandalnya.
Tiba-tiba anak itu datang menghampiri tanpa di sangkanya.
"Rani!" Rani menoleh ke arah suara yang telah menyebut namanya.
"Ya,," jawab Rani.
"Kamu masih kenal aku gak? Aku Ecaa!" Eca tersenyum ramah, berusaha memperkenalkan diri kepada Rani kembali.
"Ecaa??" Rani tersenyum, tapi juga sedikit terkejut!.
Setelah cukup lama berusaha mengumpulkan ingatan masa lalu, Ranipun ingat, Eca adalah teman masa SDnya. Dua tahun di kelas bersamanya namun tiba-tiba harus terpisah, karna Eca di bawa pulang kampung dan meneruskan sekolah di sana. Entah mengapa Rani sangat gembira bertemu Eca di sini.
Ingin rasanya memeluk Eca, namun perasaan canggung menyelimuti keinginannya yang kemudian mengurungkan niatnya. Takut jika Eca sudah berubah, takut kalau Eca menyapanya hanya sekedar untuk say hai! Karna waktu yang lama sudah memisahkan persahabatan mereka, hingga ketika saat ini bertemu, rasanya seolah berkenalan kembali dengan teman baru.
Namun rasa kangen itu Eca tumpahkan dengan memeluk Rani, Rani pun ikut larut menyambut rangkulannya. Mereka tertawa bersama. Lalu saat itu mama datang bersama bu astma.
"Ayo kita pulang!". Ajak mama.
Rani masih terlalu kangen dengan Eca, Ranipun mengundang Eca untuk singgah ke rumahnya esok hari.
Eca yang baru datang dari desanya bersedia memenuhi undangan Rani. Kebetulan di sini Eca juga belum ada teman. Mungkin berteman dengan Rani akan lebih bagus. Hari-harinya gak akan terlalu membosankan.
Eca tahu kok kalau Rani dulu anak yang menyenangkan. Semoga sekarangpun tetap sama.
Rani dan mama berlalu meninggalkan mesjid dan Eca yang sama-sama segera meninggalkan tempat itu.
Di perjalanan mama sedikit mengorek keterangan. Karna mama tahu, Rani tidak punya teman di sekitar lingkungannya. Karna jadwal sekolah yang padat, tidak ada kesempatan buatnya mengenal teman di lingkungannya. Lagi pula tidak ada teman seusianya di sana.
__ADS_1
Teman yang Rani kenal hanya yang satu sekolah saja. Makanya kalau di rumah gak pernah kemana-mana. Kecuali kalau teman sekelasnya yang mengajaknya keluar.
"Itu tadi siapa? Kok kayaknya akrab?" Tanya mama.
"Itu temen Rani mah, pas SD dulu, tapi waktu kelas dua dia pindah ke kampung!" Jelas Rani.
"Oohh,,". Reaksi mama.
"Iya, dia baru datang dari kampung karena libur sekolah, besok Rani mengundangnya main ke rumah, bolehkan?"
"Boleh dong sayang,, kamu dan dia sama-sama butuh teman". Semoga karakter kalian cocok!" Mama tersenyum kecil.
Mama cukup senang jika Rani mengeluarkan senyumnya. Mama tahu Rani sering kesepian di rumah, dan teman terbaiknya hanyalah mamanya.
"Makasih ya mah!" Rani nampak sumringah mendapat izin dari mamanya.
Mereka pulang berjalan kaki, karna tidak terlalu jauh pula jaraknya. Lagipula jarang-jarang mereka melakukannya. Dengan jalan kaki mereka bisa sedikit menyapa tetangganya di tiap gang.
Tolong bantu check yaa all...
Kalau nemu-nemu yang ganjil dan perlu perbaikan.
Haturnuhun...
Ingat masker nya,, masih PSBB okee,,
__ADS_1