
Rani nampak bimbang untuk memenuhi ajakan Eca. Kerutnya kadang terlihat dari cermin meja riasnya.
Terlalu sayang melewatkan kesempatan ini, tapi juga tidak ingin menjadi nyamuk di antara keduanya, Tio dan Eca.
Sekali-kali tangannya nampak menggoyang-goyangkan lipteennya. Mengetuk-ngetukannya di meja sampai menghasilkan bunyi.
Rasa tidak rela yang besar dari Relung hatinya, jika Tio pergi bersama Eca.
"Kalau mau ikut, siap-siap ya habis ashar, kita ngabuburit sampai menjelang magrib, nanti kami jemput!" Isi pesan singkat dari Whatsapp Eca.
"Lihat bahasanya, Eca bilang KAMI! apa artinya ini?". Kata itu bikin Rani merasa sedikit gerah.
"Oke! Aku ikut kalian!" Deal! Akhirnya kesepakatan terjadi.
Rani bersiap dengan mental dan emosinya. Apapun yang terjadi selama dalam perjalanan, Rani tetap harus bisa menahan diri dan emosi.
Baru jam dua belas tiga puluh. Masih ada waktu sekitar dua jam lebih untuk bersiap.
Cuaca di luar cukup hangat, Rani memilih tetap di kamar saja.
Di dapur ada bi Minah dan temannya yang sedang mempersiapkan hidangan berbuka puasa. Karna banyak menu yang di masak, mereka sengaja bersiap dari siang hari.
Rani sendiri berpikir untuk tetap berbuka di rumah saja, setelah pulang dari ngabuburit.
Sedikit berbaring mungkin akan membuat rileks tubuhnya. Jam dua belas jam haus-hausnya. Sebaiknya tidak menonton tivi, karna lagi banyak iklan makanan dan tayangan iklan sirup-sirup segar menjelang lebaran dan sangat menggiurkan dengan tampilan kesegarannya. Meskipun Rani bukan anak SD lagi. Tetap saja tayangan itu cukup membuatnya berpikiran tentang makanan yang enak-enak dan minuman yang segar-segar.
Sebuah dering telpon membangunkan tidur siangnya. Rupanya tanpa sadar dirinya sudah terlelap cukup lama.
Eca memberitahukan kalau sebentar lagi akan datang menjemputnya.
Rani bergegas membasuh wajah dan menunaikan shalat ashar sebelum mengganti baju. Tampilan casual selalu menjadi pilihannya. Kemeja dan kaos-kaos selalu menemani hari-harinya. Namun terkadang Rani pun kerap mengenakan hijab walau masih tutup buka, lebih sering di pakai ketika ke sekolah atau ketika di ajak pergi ke pengajian bersama mama.
__ADS_1
Rani bersiap di ujung gang ketika menunggu Eca datang
Tibalah Eca dengan roda duanya.
"Kok bawa motor? Apa kita akan naik bertiga?"
"Ya gak lah, Tio bawa kereta, kita numpang sama dia, Hehehee!"
"Aku titip motor di tempat kak Tio, ayo kamu naik dulu, kita ke sana!"
Mereka memasuki pagar besar di samping toko milik Rani.
Tio sudah bersiap menyambut, dan membantu memarkirkan motor milik Eca.
Rani masih di selimuti tanda tanya. Sebenarnya kendaraan apa yang akan mereka tumpangi bertiga. Kalau naik motor bertiga, pasti bisa kena tilang di jalan.
Tio membuka garasi toko, dan mengeluarkan pick up putih milik ayahnya Rani. Pick up itulah yang biasa Tio pakai sehari-hari untuk mengirim barang.
Rani melongo di buatnya, baginya lebih nyaman mengendarai motor daripada membawa mobil pick up ini.
Rani mendahului Eca duduk di tengah, sedangkan Eca menyusulnya duduk di pinggir.
Mereka bertigapun meninggalkan tempat itu.
Kurun waktu kurang lebih tujuh tahun cukup membuat perubahan yang besar. Eca melihat sekolah TKnya dulu sudah berubah bentuk. Sekarang lebih cenderung ke bangunan modern, dengan taman bermain yang cukup rindang. Dulu hanya rerumputan biasa, sekarang lantainya sudah di cor semen. Pot-pot tanaman tertata rapi. Meskipun ayunan itu Eca masih mengenalinya.
Teringat kembali kenangan delapan tahunan silam, dia sangat senang sekali berada di sana. Ayunan besi nan kokoh yang masih eksis sampai hari ini telah menjadi saksi kelucuannya di masa TK.
Ada tangis dan tawa di sana mengisi hari-harinya. Lucu dan sedih ketika Eca membayangkan itu semua.
Namanya juga keliling. Ya cuma jalan-jalan saja, dan hanya berhenti di beberapa titik yang di anggapnya cukup menarik dan punya kenangan. Terakhir mereka mengunjungi sekolah SDnya dulu. Di situlah awal mula Rani dan Eca memgukir kenangan sebagai sahabat di masa kecil.
__ADS_1
Dua tahun itu menjadikannya teman terbaiknya. Namun perpisahan selama tujuh tahun itu tidak memberi kabar apa-apa lagi, sampai bertemu kemarin di mesjid ketika bubar tarawih. Sangat mengejutkan sekaligus membahagiakan. Bertemu sahabatnya yang sempat menghilang dulu.
Di sebuah lapangan yang cukup luas, dan cukup rindang Tio memarkirkan mobil pick upnya. Saran Tio, Rani dan Eca cukup menunggu di mobil saja, karna Tio bermaksud ingin menemui seseorang di sini.
Yaa,, ini adalah pangkalan warung bu Tina. Di mana Tio dan bang Nana berkenalan dulu, dan di berikan info lowker ketika itu, sampai dirinya di terima bekerja dengan pak Dani hingga hari ini.
"Assalamualaikum bu!" Tio menyapa dan memberi salam.
"Waalaikum salam..." Bu Tina menghampiri Tio sambil menjawab salam. Bu Tina mengira Tio adalah pembeli yang akan makan di warungnya.
"Ini saya bu Tina, Tioo... Saya cari bang Nana bu!" Ucap Tio berusaha memperkenalkan diri kembali pada bu Tina. Khawatir bu Tina sudah melupakan dirinya.
"Oh Tioo,, iya ibu masih ingat kok! Bang nana lagi di belakang, lagi benerin motornya, dari pagi gak narik, karna motornya tiba-tiba demo!" Jelas bu Tina.
"Sebentar ibu panggilkan!"
"Gak usah bu! Tio saja yang ke sana!" Balas tio.
Tio menuju ke arah yang di tunjuk bu Tina.
Nampak bang Nana sedang fokus merombak motornya di sana. Tio pun menghampirinya segera. Sedikit obrolan cukup akurat untuk menjelaskan niat kedatangan Tio.
Tio bermaksud menyewa kios untuk berdagang, dan meminta pertolongan dari bang Nana untuk mencarikannya.
__ADS_1