
Matahari masih malu-malu memancarkan sinarnya, saat Tio dan adik-adiknya berjalan menyusuri pematang sawah. Udara segar sekali lagi seolah memenuhi jagat raya.
Idealnya jam seperti ini adalah waktunya orang-orang di kota untuk berolahraga pagi.
Sedangkan orang-orang di desa sudah pergi berladang, olah raga alam yang serentak rutin di lakukan oleh warga.
Cangkul menggantung di pundak kirinya.
Kebiasaan Tio sejak lama, apabila dirinya hendak berkebun.
Namun kali ini niat Tio ke ladang bukan untuk bercocok tanam.
Dia hanya bermaksud hendak menggali umbi-umbian saja. Zaka zaki terlihat gembira menenteng karung kosong. Mengikuti langkah kaki sang kakak.
Sampai tiba di sebuah kebun yang cukup luas. Lahan itu hanya berpagar ranting bambu bercampur ilalang dan beberapa tanaman liar lainnya. Tujuannya hanya untuk menghalangi hewan ternak seperti domba dan sapi menjajah tanaman.
Di ladang, pagar seperti itu sudah cukup aman. Ada beberapa pohon yang tumbuh sebagai pembatas lahan garapan berupa pohon mangga dan beberapa jenis pohon buah lainnya semisal jambu batu. Semua tumbuh liar tanpa di urus secara khusus. Tumbuhnya pun gak kepalang tingginya.
Tio berhenti sejenak, memandang keadaan sekelilingnya. Lahan yang setiap harinya begitu akrab dengannya. Yang terkadang menjadi teman curhatnya. Ada beberapa pola tanah yang berubah. Sepuluh bulan di rantau, lumayan terlihat perbedaannya. Ada kebun pisang yang sudah alihkan menjadi kebun sayuran juga, masih cukup baru. Tanahnya masih belum bertumbuh rumput. Mungkin baru beberapa bulan di garap. Karna pohon sayurnya pun masih belum tumbuh sejengkal.
"Ayo kita mulai gali umbinya!" Kalimat Tio menghentikan kegiatan main adiknya yang sedari tadi sedang asyik memilin-milin rumput liar yang tumbuh meninggi.
Zaka dan zaki mengambil karung dan bersiap menampung hasil cangkulan kakaknya. Tio mulai menggali pohon ubi.
Kebun itu bukan miliknya. Tio hanya akan membayar sebanyak yang dia berhasil ambil.
Pemilik kebun akan memberi harga nanti setelah umbi selesai di panen.
__ADS_1
Di desa harga hasil panen tidak terlalu mahal. Apalagi kalau mau memetiknya sendiri.
Yang menjadikannya mahal adalah biaya pengiriman hasil panennya ketika mau di pasarkan.
Semakin jauh jarak tempuhnya semakin mahal ongkosnya.
Bekerja di pagi hari memang cukup menyehatkan badan. Sama halnya dengan orang yang suka berolahraga. Sampai ketika matahari mulai naik, rasa hangat sudah menembus kulit, mereka pun berteduh di saung.
Di sebelah kanan ladang ubi, ada juga yang menanam padi.
Katanya sih padi yang biasa di tanam dan bisa bertahan di musim kering. Entah jenis apa namanya.
Ya karna pergantian musim, hujan mulai jarang turun bahkan mulai di rindukan para petani di desa.
Meski begitu padinya kini ternyata sudah banyak yang mulai mengeluarkan butir-butir hijaunya yang sangat di tunggu para petani.
Burung yang bergerombol menyerbu kadang membuat banyak kerugian buat petani. Walau secara nurani, itu adalah hal wajar. Semua mahluk butuh makanan untuk bertahan hidup, dan melahirkan generasi selanjutnya. Supaya keberadaan mereka tidak punah tentunya.
Para petanipun cukup berbaik hati untuk burung yang hanya datang sesekali, mereka tetap memberi tempat. Supaya alam tetap seimbang dan kelangsungan hidup mereka semua terjaga pula.
Semilir angin meniup mesra menyentuh kulit, lambat laun menghapus keringat para petani.
Apalah rasa hangat ini, sudah bukan menjadi halangan. Mereka tetap beraktifitas seperti hari-hari lalu.
"Hayu jang urang emam heula! Atos siang bisi kalantih! Ke gampil di sambung deui ngali'na!".
Artinya: (Ayo nak kita makan dulu! Sudah siang, takut telat makan! Gampang nanti di sambung lagi menggalinya!)
__ADS_1
Ucap pak yono dan istri menawarkan makan siang untuk Tio, zaki dan zaka.
"Oh nya nuhun ma, mangga tipayun!". (Oh terimakasih bu, silahkan duluan!) Jawab Tio.
Saung adalah tempat ideal dan nyaman untuk para petani beristirahat. Ada yang ngopi, minum teh hangat di temani pisang rebus, ada yang makan nasi timbel, ada yang sekedar mencari teduh dan sedikit menikmati hembusan angin. Di ladang lumayan ramai ketika siang hari, bahkan ada yang memang sengaja menghabiskan hari di saung. Selain menunggu ladang, mereka juga banyak menikmati suasana alam. Yap! Kipas angin versi alam dan keindahannya allah kasih gratis. Maka bersyukurlah kita bila masih bisa menikmati semua pemberiannya ini.
Banyak kegiatan yang terjadi di saung ini. Bahkan mereka bisa saling bertemu dengan tetangga kampung yang tanah garapannya berdekatan.
Kadang-kadang terjadi transaksi jual beli hasil bumi atau ternak.
Sebenarnya umbi yang di dapat Tio hanya setengah karung. Karna ubi itu berat, kalau penuh akan sulit membawanya pulang nanti. Sedari tadi pun Tio sudah menyelesaikan tugasnya, hanya saja tio masih betah di saung, memanfaatkan waktunya yang tidak akan lama berada di desa.
Hal ini yang sering dia ingat dan dia rindu ketika di kota.
Setelah lumayan lama berada di saung akhirnya mereka memutuskan kembali ke rumah. Kali ini gantian Tio yang memanggul karung di pundaknya, sedangkan zaka dan zaki membawa kan cangkul untuknya.
Untuk kali ini zaka dan zaki berjalan di depan mendahului Tio. Mereka tiba di rumah sebelum adzan dzuhur berkumandang.
Hari ini ibu tidak kemana-mana. Tio menjadi prioritas utama di hari itu.
Anita lagi-lagi menghidangkan masakan ibu di siang ini. Masakan khas yang ibu buat bersama Anita tak pernah berubah rasanya. Anita memang anak sekolah. Akan tetapi Anita adalah anak yang ringan tangan dalam membantu perkara pekerjaan rumah tangga.
Selain pintar Anita juga cukup rajin. Di sela-sela melakukan kegiatan sekolah, dia tetap bersedia menjadi tangan kanan ibunya. Tio pun bangga pada Anita. Tio berharap Anita akan bernasib lebih baik dan beruntung darinya di masa depannya kelak. Karna Anita anak sekolahan, mengantongi pendidikan, beda dengan dirinya. Namun kini Tio cukup bisa bernafas lega. Setelah bekerja dengan pak Dani di kota. Ekonomi keluarganya sudah cukup lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1