"MENGEJAR CITA DAN CINTA"

"MENGEJAR CITA DAN CINTA"
Episode 19 "MULUT GACOR WAHID"


__ADS_3

 Lambaian bunga Flamboyan yang merah merekah begitu memanjakan mata.


Sehelai demi sehelai kelopak bunga  berguguran tertiup angin.


Rani sudah siap dengan sepeda roda duanya menanti kedatangan Tio. Sesekali kelopak yang gugur itu mengenai dirinya, menyentuh ujung kepala sebelum menyentuh tanah. Jam empat mataharipun masih sangat terang.


Pertengahan kemarau,, menghadirkan suasana hangat setiap harinya. Flamboyan satu-satunya pohon bunga tinggi yang tersisa di lingkungan itu.


  Tidak ada bangku atau apapun untuk bisa di pakai orang untuk duduk. Padahal lumayan rindang. Tapi dia seolah terabaikan. Tumbuh liar tetapi subur dan mekar meski tanpa terurus.


Rani terduduk di atas jok motor. Sesekali matanya melihat ke arah ponsel, hanya untuk melihat jam!.


Dari arah belakang Tio nampak berjalan Terburu-buru.


"Oh rupanya datang juga kak Tio" Rani sedikit merasa lega.


Tio segera menghampiri dan mengambil alih sepeda motornya. Tanpa banyak bertanya lagi mereka pun duduk berboncengan. Tio sebagai pengendara dan Rani sebagai penumpang.


Motor melaju dengan kecepatan sedang. Untunglah mereka mengenakan helm. Hingga mata mereka aman dari terjangan debu-debu jalanan. Tidak ada percakapan selama dalam perjalanan. Semua saling mendiamkan. Hingga pada akhirnya sampailah di kost'an Wahid. Kost'an hijau melon itu masih berwarna sama persis ketika Tio baru tiba di kota ini dulu. Pemiliknya mungkin masih enggan mengganti warna catnya.


   "Tok! Tok! Tok!" Pintu di ketuk, Tio mengucap salam tanda dia bertamu. Namun tiada sahutan dari dalamnya. Tio cukup merasa bingung. Tiada satu orang pun yang berada di situ untuk sekedar dirinya bertanya. Sedikit berpikir dan mencari akal, satu-satunya jalan adalah segera menelpon dengan hape jadulnya.


   "Pluk!" Terdengar suatu benda telah jatuh di antara kedua kakinya. Kebetulan saat itu Rani sedang melirik ke arahnya. Rani tertawa terpingkal dengan tiba-tiba. Tio dengan sedikit malu segera mengambil barang yang jatuh itu. Rupanya itu casing tutup batrey belakang ponselnya.


   Tio lupa memberinya karet gelang karna terburu-buru. Pantas sekali hapenya di sebut barang jadul kondisinya saja sampai serusak itu.

__ADS_1


   Baru kali ini Tio merasa semalu ini di depan perempuan. Namun Tio berusaha untuk tetap tenang. Rani pun pura-pura membuang muka sambil menutup mulutnya yang tidak mau berhenti tertawa.


   Dengan segera dia menekan nomor telpon Wahid. Sialnya batrey terlalu low. Baru berdering sebentar, sedetik kemudian mati total!. Kecewa? Tentu saja! Di saat penting ini, tiba-tiba si jadulpun enggan di ajak bekerja sama.


   Tio ingat tadi siang setelah menerima telpon dari Rahmat, dia belum sempat mencharge'nya, hingga akhirnya begini kejadiannya. Wajah lelah, lesu dan malu, kecewa komplit sudah!.


   Rani memperhatikan raut wajah yang sedikit frustasi itu.


   "Kenapa kak? Pakai hape aku aja kalau mau telpon, nih!" Rani memberikan ponselnya, namun Tio merasa percuma juga, karna Tio tidak hafal nomor ponsel Wahid. So! Meminjam hape Rani pun urung di lakukan.


   Menunggu,, akhirnya keputusan terakhir yang bisa di lakukannya. Duduk terbengong memandang sawah dari teras kost'an Wahid, menunggu si empunya rumah pulang. Sedang Rani tetap memilih jok sebagai tempat duduk ternyamannya.


   Semilir angin sore cukup menyegarkan nafas. View yang cukup enak. Wahid cukup pintar memilih lokasi yang nyaman. Pantas dia betah tinggal lama di sini.


   Sesekali sang angin memainkan helai demi helai rambut Rani yang terurai.


  "Kasihan juga anak orang di bawa nyasar! Seolah dia pengangguran saja!".


    Di ujung kontrakan ada bale-bale yang cukup lebar. Merekapun duduk-duduk santai menikmati lembutnya hembusan angin sore.


  Sekali-sekali mata Tio melihat ke arah jalan. Berharap agar Wahid segera pulang.


  Wah! Rani cukup menikmati suasana di sini rupanya!. Rani setuju dengan pendapat Tio kalau tempat ini memang nyaman dan bikin betah. Biasanya di sawah kalau kemarau seperti ini banyak anak dan orang dewasa yang bermain layangan. Tapi hari ini kenapa mendadak sepi? Padahal ini hari minggu.


Kesunyian buyar ketika suara klakson yang cukup keras memecah kesunyian.

__ADS_1


Wahid melepas senyum ke arah mereka berdua. Lalu turun dari motor dan meletakan helmnya di teras asal-asalan.


  "Udah lama kalian? Maaf ya tadi ada perlu, nganter oleh-oleh ke rumah pacar! Hehehee!" Wahid memberi penjelasan.


  Tio: "lumayan lama juga, aku ketok pintu kamunya gak nongol-nongol!"


  Wahid: "eh siapa itu? Cantik banget dah! Pacar baru ya?"


  Wahid melirik ke arah Rani. Rani hanya tersenyum kecil tetap diam, tidak menolak ataupun mengiyakan.


  Tio: "psssttt! Diemm itu anak majikan aku!" Tio memperhalus suaranya, agar Wahid tidak gacor mulutnya.


  Wahid: "anak majikan? Palingan sebentar lagi juga jadiaaann! Hahahayyy!"


  Haduhh! Tio di buatnya tepuk jidat! Semakin lama mulut Wahid semakin gacor saja! Mengalahkan ocehan perkutut lomba. Tio memberi kode agar Wahid menutup mulutnya. Namun Wahid tidak terlalu peka menangkapnya.


Tio: "Udah sini! Mana titipan Rahmat?"


Wahid mengeluarkan kardus berukuran sedang, lima buah tas pesanan Rani sudah tertata rapi di dalamnya.


  Daripada  berlama-lama di sana, dengerin ledekan Wahid yang bikin malu dirinya itu, lebih baik Tio cepat-cepat kabur dari kontrakan Wahid.


  Akhirnya Wahid cuma bisa bengong menyaksikan Tio dan Rani yang terburu-buru berpamitan.


  "Apa aku salah ngomong?" Gumam Tio.

__ADS_1


  Belum kenyang meledeknya, Tio sudah kabur duluan.


__ADS_2