
Ubi panas terhidang di tampah bambu.
Bukan di meja makan, akan tetapi di tengah gelaran tikar pandan yang cukup lebar.
Satu persatu gelas-gelas teh panas dan beberapa cangkir kopi terhidang di samping kiri dan kanan tampah secara acak.
Umbi oleh-oleh Tio yang di bawanya dari desa siap di nikmati.
Walaupun di kota, ubi lebih banyak di gemari. Kadang di buat gorengan, di buat keripik, candil, dan banyak lagi makanan olahan lainnya.
Jadi masih banyak fansnya, selain sebagai pengganti nasi.
Sayangnya di sini semua pecinta nasi. Tanpa nasi, makan apapun perut tetap akan menagihnya.
"Ayo gaes kita eksekusi segera mumpung masih panas!" Seru mang dadang.
Separuh orang setuju untuk langsung menyantapnya, lainnya menunggu ubinya dingin.
Di temani acara televisi favorit, mereka pun asyik menonton dan saling adu komentar. Sesekali meneguk teh hangat buatan sendiri.
__ADS_1
Lelah setelah seharian bekerja mulai hilang.
Hiburan yang sesederhana itu, menonton tivi, ngopi berjamaah, berbincang-bincang sampai malam menjelang dan rasa kantuk menghampiri, tertidur lelap sampai pagi kembali. Rutinitas yang kontinyu di lakukan selepas pulang kerja.
Begitupun dengan Tio. Yang walaupun masih lajang, dirinya tetap berlaku sederhana. Meskipun ajakan keluar malam sering datang dari teman-temannya.
Lingkungan sekitar tempat tinggal Tio memang berbaur dengan masyarakat. Tio juga memiliki banyak teman di luar teman kerja. Karna Tio anaknya baik, mereka pun senang berteman dengan Tio.
Namun Tio terlalu takut untuk terlalu dalam bergaul. Kebiasaan nongkrong pemuda di kota sangat berbeda jauh dengan kebiasaan pemuda desa seperti dirinya. Bermacam karakter di temuinya di sini. Cukuplah Tio mengetahuinya. Tiopun tak pernah rewel. Baginya, biarlah orang tua mereka yang menegur dan mengingatkan mereka jika anak-anak mereka bertingkah kurang bagus.
Tio cukup tahu diri dan menempatkan posisi di sini. Jadi Tio memilih untuk tidak ikut-ikutan, meskipun sering mendapat tawaran dan ajakan. Tio tetap memilih say no!.
Untuknya masih ada banyak teman-teman lainnya yang benar-benar menjadi anak baik-baik di sini. Itulah teman yang Tio pilih dan pertahankan. Mereka saling mendukung dan saling membesarkan hati. Ya karna kehidupan mereka di kota juga sama posisinya seperti Tio. Orang-orang yang tingkat ekonominya masih lemah. Mereka merasa senasib dan seperjuangan dalam bertahan hidup.
Rani tengah berjalan ke arah rumah, ketika Tio melihatnya. Sekali-sekali terlihat Rani mengernyitkan dahi karna panasnya cuaca.
Pak Dani memang tidak memanjakan anak-anaknya. Meskipun kaya, mereka tetap hidup mandiri. Pergi dan pulang sekolah sendiri hanya dengan naik angkot. Padahal jarak sekolah ke rumah lumayan jauh. Mungkin karna letak sekolah dan rumah tinggalnya sama-sama di samping jalan raya. Sehingga tidak sampai lelah untuk berjalan kaki.
Tio teringat akan oleh-oleh tas yang di bawanya dari desa. Tas rajut, model klasik, yang saat ini juga mulai marak kembali di sukai banyak anak-anak remaja. Menjadi model trendy untuk di bawa ngemall sekalipun. Tio berharap Rani akan suka dengan pemberiannya.
__ADS_1
Rani dan Tio memang tidak terlalu akrab. Tapi mereka mengenal satu sama lainnya. Jarang berinteraksi karna selain anak bos Rani juga tidak pernah berurusan dengan Tio atau pekerja yang lainnya, meskipun hanya sekedar untuk meminta tolong. Namun sikap Rani sangat ramah. Tidak pernah ada batas status dalam keluarganya. Semua seakan sama di matanya, gadis ABG yang punya karakter baik. Sama seperti ayahnya yang tidak sok bossy. Rani memanggil Tio kakak, karna usianya yang tidak terlalu jauh. Masih seumuran dengan kakak pertama Rani, yaitu Rian.
"Ini ada sesuatu buat kamu! Kemarin kakak habis pulang kampung, anggap saja ini oleh-olehnya".
Tio menyerahkan sebuah bungkusan kantong hitam kepada Rani. Meskipun dengan rasa ragu Rani menerimanya dan mengucapkan terimakasih.
Tio merasa senang melihat reaksi Rani yang mau menerima pemberiannya. Senyum Rani manis seperti mamanya. Wajahnya pun tidak kalah cantik.
Tio kembali melanjutkan pekerjaannya, dan Rani segera masuk kedalam rumahnya.
Panas yang seterik ini membuat Rani enggan berlama-lama di luar. Bukan karna takut kulitnya hitam, tapi karna rasa panasnya itu yang membuatnya tidak tahan. Rani menaruh tas sekolah dan kantong kresek pemberian Tio di atas meja makan. Rani tidak langsung membuka bungkusan itu. Dia menaruhnya begitu saja.
Target pertama setelah sampai rumah adalah isi kulkas!
Sebuah tumbler berisi air putih dingin secepat kilat beralih ke tangannya. Dan dengan cepat pula Rani meneguknya. Telah hilang rasa hausnya kini. Sebuah ponsel di keluarkannya dari saku kantongnya.
Status wa teman-temannya begitu riuh. Rupanya semua temannya sudah berada di rumah masing-masing. Karna sesungguhnya membawa ponsel ke sekolah di larang keras oleh pihak sekolah. Semua sekolah menerapkan peraturan yang sama. Hanya karna ini hari sabtu dan hanya hari ekskul mereka bisa bebas membawa ponsel. Itupun tidak boleh di nyalakan sebelum bubar ekskul atau sebelum keluar dari area sekolah.
Satu persatu Rani memeriksa status Wa mereka, bukan bermaksud kepo. Itu hanya keisengan mereka semata, yang terkadang suka bercanda via online ketika menemukan status-status temannya yang lucu. Macam-macam juga status mereka. Sama halnya seperti aplikasi lainnya. Ada yang suka pamer harta, ada yang jualan, ada yang suka update di tempat nongkrong, ada juga yang gak pernah nongol dan nimbrung di grup Wa sekolah, kurang lebih mirip seperti dirinya. Menyimak sering menjadi pilihannya.
__ADS_1