
"Yo aku berangkat dulu ya! Jangan lupa kunci pintu sebelum kamu keluar, jangan tinggalkan apapun di luar, meskipun itu sandal atau tempat sampah kosong! Di sini kurang aman! Bisa-bisa pas pulang nanti udah raib!" Seru wahid lantang. Dengan bahasa sunda nya seperti biasa. Ya teman sekampung masih memakai satu bahasa. Karna suara air kran yang jatuh cukup berisik makanya Wahid bicara agak keras. ketika itu Tio lagi di dalam kamar mandi pagi itu.
"O ya ya! Oke!" Sahut Tio. Nampak dari suaranya yang beda mungkin Tio sedang membasuh wajahnya dengan busa sabun.
Wahid sudah tak ada lagi di ruangan itu ketika Tio keluar dari kamar mandi. Bersiap niat mencari kerja di hari ini. Dengan selalu optimis penuh semangat.
__ADS_1
Dari satu tempat ke tempat lain di sambanginya. Baginya asal sekedar ada biaya untuk makan sehari-hari saja bakal dia terima. Kerjaan apapun yang di tawarkan kemungkinan bakal di ambil asal halal. Terik matahari sudah bukan halangan. Itu adalah teman hari-harinya waktu di desa dulu. Kerja di ladang orang sebagai pembajak sawah, pencabut rumput, kuli panggul hasil tani, apapun lah, sudah kenyang di jalani dari selepas putus sekolah. Maka pantaslah badannya kekar, kokoh meskipun tak sekekar tubuh binaragawan, hanya saja kulitnya agak hitam kurang terurus. Ya masih belasan, belum terlalu terlihat sisi kedewasaannya dari segi fisik. Kalau otak bisa bersaing dengan anak-anak lainnya. Bertanggung jawab dan sangat memikirkan keluarga. Anak seusia Tio umumnya masih terlena dengan menikmati fasilitas pemberian orang tua. Baju bagus, motor besar seperti idaman kebanyakan pemuda-pemuda anak orang kaya, sibuk dengan ponsel android keluaran terbaru, tempat tongkrongan yang asyik dan kelebihan-kelebihan lainnya. Tapi tidak! tidak ada kesempatan baginya untuk itu, hmmm mungkin belum, mungkin belum untuk saat ini. suatu saat bisa, bahkan lebih!.
"Krukkk! Kruuukkk!" Perut Tio sudah mulai enggan berdamai. Lupa dari pagi belum sarapan sedikitpun. Tio berhenti sejenak mencari warung untuknya beristirahat dan sedikit mengisi perut. Lumayan di seberang jalan ada warung kaki limaan, kebetulan cukup teduh karna di samping warungnya terdapat beberapa pohon besar. Ada juga tukang ojek dan taksi serta beberapa gerobak kuliner keliling di kiri kanannya. Tempat yang lumayan luas dan cukup di sukai para pencari rejeki buat istirahat. Ruang terbuka yang siap menerima sapaan hembusan angin tanpa henti. Begitulah tuhan ciptakan keadilan. Sedangkan yang kerja di gedung-gedung itu mereka memakai ac.
"Dari mana kamu dek? Nampaknya kamu lelah sekali" seorang abang ojek menegur sopan pada Tio yang sedang bengong memperhatikan aktifitas para penghuni kota B dari kejauhan.
__ADS_1
Tio terkaget-kaget ketika itu, entah pikirannya sedang kemana. Belum sempat Tio menjawab, abang ojek udah tersenyum-senyum melihat kekagetan Tio.
Yah sedikit demi sedikit mereka mulai mengobrol dan saling tukar cerita sepanjang aktifitas pekerjaan. Sedikit ada harapan dalam percakapan ini. Untuk seorang Tio, pencari kerja yang bukan dari lulusan sekolah tinggi untuk mendapat pekerjaan. Sebut saja abang gojek ini dengan nama panggilan bang nana.
Memang bukan di pabrik sih, mustahil saja rasanya kalau kerja di pabrik tanpa ijazah setara SMA. Padahal terkadang suka ada saja ketika ada yang membutuhkan pegawai dadakan ijazah bukan soalan. Meskipun hanya menjadi seorang office boy dan mungkin bukan sebagai operator mesin atau sejenisnya. Setidaknya sudah ada sedikit titik terang. Dadanya sedikit lega menerima kabar dari bang Nana ini. Sayangnya bukan hari ini. Besok Tio harus datang kembali menemui bang Nana di warung ini.
__ADS_1