"MENGEJAR CITA DAN CINTA"

"MENGEJAR CITA DAN CINTA"
Episode 2 TIBA DI KOTA


__ADS_3

 Kota B... Kota besar pertama yang akan Tio kunjungi.


 Berencana menumpang sementara di kost an temannya, karna Tio hanya membawa sedikit bekal dan beberapa helai baju ganti, itupun bukan baju yang terlalu bagus. Ongkos buat ke kota saja dari kuli mencangkul sawah milik tetangga selama berminggu-minggu.


 Seorang temannya yang biasa di panggil wahid olehnya sudah lebih dulu tinggal di sana. Wahid anak yang berprestasi di sekolah. Itulah mungkin sebabnya wahid lebih mudah mencari pekerjaan meskipun hanya lulus SMA. Di samping karna beruntung mendapat agen penyalur kerja yang amanah karna Wahid bisa masuk ke salah satu perusahaan yang cukup besar. Itulah yang orang bicarakan tentangnya.


Maklumlah kalau di desa tempat tinggal tio, setiap ada kabar apapun pasti langsung menyebar. Kabar baik atau buruk, sama saja hits nya.


 Tiga jam perjalanan mungkin akan cukup membuat pusing kepalanya. Dari itulah ibunya sudah menyiapkan bekal sejak pagi buta. Agar lebih bisa irit juga. Semakin siang ketika matahari mulai naik, teriknya matahari mulai terasa sekali menyentuh kulit.


Sengaja Tio duduk tepat di samping jendela kaca bis x, agar masih bisa sedikit mengintip kampungnya sebelum benar-benar menjauh hingga tak tampak lagi.


Perasaan sedih meninggalkan ibu dan ketiga adiknya di rumah tidak menyurutkan niatnya pergi ke kota untuk merubah hidup.


Tekad sudah bulat, Tio menyatakan perang melawan keadaan dan keterpurukan hidup keluarganya.


 Terminal bis terakhir, akhirnya tio sedikit lega hati. Seseorang sudah siap menyambutnya di terminal c. dengan sekuter bututnya. Ya wahid cukup setia sebagai teman. Bersedia mendukungnya setiap waktu, walaupun dalam urusan duit sedikit pelit haha!.


 Wahid: "beuh naha mani ku lila, urang tos nungguan ti tadi!" (Kenapa lama? Saya sudah menunggu dari tadi)


 Tio: "hampura hid! Tadi istirahat heula bis na di terminal A!" (Maaf hid, tadi bisnya istirahat dulu di terminal A!)


 Wahid: "nya tos atuh buruan paranas yeuh!" (Ya udah cepetan, panas banget nih!)

__ADS_1


 Tio: "hayu atuh" (ayolah)


 Tanpa memperpanjang lagi percakapan mereka segera meninggalkan terminal C.


Sekuter boleh butut, tapi masih lumayan kenceng lah walau pun di tumpangi berdua.


Terlanjur terik, perjalanan tidak di tunda-tunda lagi. Perjalanan yang lumayan panjang sampai menemukan sedikit demi sedikit pohon yang tumbuh dan mulai teduh di samping kanan dan kiri jalan. Angin lumayan menghibur, memberikan sedikit kesegaran di siang bolong ini. Jalanpun mulai menyempit, namun terik sudah berkurang, tidak seperti tadi lagi, penuh kepulan asap kendaraan di mana-mana, bercampur debu jalanan yang tertiup angin pergantian musim.


 Tibalah wahid dan tio di sebuah kostan berwarna hijau melon. Segar rasanya mata tio memandangnya. Lumayan juga sih, walaupun di kota tapi suasananya masih seperti setengah kampung. Banyak bangunan mewah permanen, tapi ada juga yang biasa saja. Sama seperti di desanya. Hanya saja di sini rumahnya rata-rata sudah bagus. Kalau di desa mungkin rumah Tio yang paling jelek. Sedih rasanya ketika Tio mengingat itu semua.


 Ya inilah tempat tinggal wahid di kota sekarang. Tio mungkin akan betah juga di sini. Ya ada lah sawah sepetak dua petak di dekat kontrakan wahid. Sengaja wahid mencari kontrakan agak ke pinggiran. Selain agar mendapat harga yang murah juga wahid ingin sedikit ada suasana kampung. Alasannya sih biar bisa sedikit mengobati kerinduan akan kampung halamannya. Tapi menurut Tio itu sudah jauh lebih baik dari rumahnya yang di kampung. Sudah ada tivi, dan sudah masak dengan magicom penanak nasi electrik. Tio sangat mengerti, seperti dirinya, mungkin wahid juga sengaja menekan pengeluaran agar bisa mengirim sisa gajinya ke kampung. Biasanya gaji yang di kirim oleh orang tuanya di pakai untuk membeli hewan ternak seperti domba. Atau mereka memakainya untuk biaya bercocok tanam di kampung semisal padi.


  Waktu berlalu, malam tiba, Tio sudah tak sanggup lagi menahan rasa lelahnya.baru sekali ini Tio pergi sejauh ini seorang diri pula. Tertidur lelap sejenak melupakan beban hidupnya yang berat. Padahal waktu baru menunjukan jam delapan malam. Sedangkan wahid masih mengitak-ngatik sekuternya. persiapan untuk besok pagi berangkat kerja, supaya motornya tidak rewel di jalan. Maklum besok wahid masuk kerja pagi, jadi pagi-pagi sekali harus sudah siap berangkat, lumayan, sepuluh menit perjalanan kalau tidak macet, kalau macet bisa kesiangan di jalan. Makanya wahid selalu berusaha berangkat di awal waktu.


 


mohon maaf ya apabila sedikit typo pada susunan tulisan.


Mungkin juga ada kalimat yang belibet hehehe...


Harap maklum ya, untuk seorang pemula (aslinya malu banget)


Tapi saya akan mencoba berusaha memperbaikinya terus.

__ADS_1


Agar lebih baik lagi selanjutnya.


Krisannya aja untuk memotivasi saya, supaya tetap semangat melanjutkan apa yang baru saya mulai ini.


Terimakasih sudah membacanya.


Sehat selalu ya all...oh ya,, jangan lupa sering-sering cuci tangan dan memakai masker serta hand sanitizernya.


Pandemi belum usai. Semoga kita semua kuat melaluinya. Aamiin...


Luv! Luv!


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2