
Hari sudah menunjukan jam sembilan lewat tiga puluh menit.
Tio sudah selesai mencukur rapi rambutnya.
Mendapat salon murah dengan kwalitas hasil cukur sekelas salon ternama bak
mendapat hadiah give away mahal.
Sekarang waktunya mengisi perut!.
Wah,, sepertinya banyak yang mulai memperhatikan nih!.
Banyak cewek yang menoleh ke arahnya tanpa sebab. Terkadang sepertinya dia seolah menjadi bahan gibah wanita-wanita yang sedang duduk berkumpul. Tio sendiri tidak tahu penyebabnya. Dia tetap acuh melenggang.
Di sebuah gerai yang cukup ramai Tio menghentikan langkahnya. Ada boneka-boneka mini di sana. Terlihat lucu dan menggemaskan. Di lengkapi packaging yang bagus untuk setiap pembelinya. Hatinya tergerak untuk memiliki salah satunya. Boneka sebesar kepalan tangan menjadi pilihannya. Karna Tio membeli yang buy one get one akhirnya Tio mendapatkan boneka itu dua buah. Tio pun sengaja memilihnya sepasang.
Boneka kelinci laki-laki dan perempuan.
Sebenarnya gerai itu sedang melakukan promo brand baru. Jadi sebagian besar produknya di jual dengan harga murah. Bahkan ada give away juga buat yang mau menjawab survey, bisa mendapatkan hadiahnya dengan gratis.
Sayangnya Tio mendapatkannya dengan membeli, walaupun dapat satu gratisan sih.
Setelah rapi di dalam packaging yang di anggapnya lucu itu, Tio pun masih berkeliling untuk sekedar cuci mata.
Memiliki boneka itu pun tidak terpikirkan sebelumnya, kenapa dia tergelitik untuk membelinya, padahal dia bukan orang yang suka barang-barang seperti itu, entahlah kenapa tiba-tiba saja ada rasa ingin membelinya.
Namun ketika teringat adiknya di kampung, mungkin dia bisa memberikannya sebagai oleh-oleh dari kota saat mudik nanti. Anak perempuan biasanya akan suka dengan hadiah seperti itu.
Di tengah asyiknya Tio melanjutkan langkah kakinya, kembali matanya tertuju pada sekelompok anak perempuan yang sedang asyik bercengkrama. Dan Tio merasa mengenal salah satunya. Rani, sedang asyik menikmati makan siangnya bersama sekitar lima orang temannya.
Tio menghentikan langkahnya, sejenak Tio berpikir untuk mengajak Rani pulang bersama.
Tio memesan makanan di sebelah gerai tempat Rani berkumpul. Dia tidak ingin mengusik keasyikan mereka. Dia sangat menikmati makan siangnya sambil diam-diam mengawasi Rani dari tempat duduknya. "Lumayan juga rasa masakannya", perut yang sedang lapar memang lebih bisa menerima asupan makanan apapun, karna dorongan rasa lapar itu pun bisa membuatnya menjadi lahap makan.
Kesegaran es jeruk yang di minumnya membuatnya bertambah serius melahap itu semua.
Dwi tiba-tiba heboh sendiri.
"Eeh! Eh! Liat deh ada cowok ganteng bengettt di sanaa!" Semua menoleh ke arah yang di tunjuk Dwi, kecuali Rani. Rani masih sibuk mengaduk-ngaduk minumannya.
Semua teman-teman setuju dengan pendapat Dwi kalau cowok yang Dwi tunjukan itu memang ganteng.
__ADS_1
Tiwi: "Eh liat deh mirip-mirip artis siapa gitu ya?"
Nina: "Oh iya,, mmmm... Kira-kira malu gak ya kalau kita ajak kenalan? hahahaa!"
Dina: "Bawa bonekaaa! Pasti udah punya pacar deh!"
Dessy: "Haaa aku patah hati!" Timpal yang lain.
Rani tetap cuek saja mendengarkan coleteh mereka.
"Kalian tuh ya, suka genit deh!" Rani baru membuka suara, dengan matanya yang seolah enggan belanja kemana-mana alias gak mau jelalatan.
Raut-raut wajah kecewa, yang kemudian berhenti menggibah, namun sesekali mereka memperhatikan Tio dari meja makannya.
Mungkin mereka ingin memastikan, apakah akan ada seseorang yang datang mengampiri Tio?.
Rani: "Eh udah siang! Kapan pulangnya! Udah mulai panas juga nih!"
"Aku juga udah capek sih! Pulang sekarang juga ayolah!" Jawab Dwi, di ikuti yang lainnya tanda setuju.
Mereka pun bersiap merapikan barang bawaan yang telah di belinya, sementara Rani pergi ke kasir untuk membayar makanan-makanan yang telah mereka pesan.
Melihat Rani sudah selesai makan dan sudah mau pulang, Tio pun segera turut menyudahi makannya. Lalu menghampiri Rani di kasir.
"Mau pulang bareng lagi gak??"
Sejenak Rani agak kaget, seorang cowok ganteng, terlihat rapi sedang menegurnya untuk mengajak pulang bersama. Tapi style dan suara itu rani mengenalnya. Rani masih terdiam dalam bingung memikirkan. Agak syok sih, tiba-tiba ada yang ngajak pulang!
Alhasil semua temannya segera datang menyerbu.
Menggoda Rani tanpa ragu-ragu.
Dwi: "Rani ini siapa? Saudara kamu ya? Kenalin dooong!"
Dessy: "Rani diam-diam aja punya saudara ganteng!"
Nina: "Ih kamu curang merahasiakannya dari kita-kita!"
Ketika semua saling sahut menyahut mengatakan macam-macam, membuat Rani malah merasa pusing. Gemas rasanya menghadapi teror pertanyaan dari mereka.
Bahkan tanpa sungkan mereka silih berganti bersalaman memperkenalkan diri masing-masing.
__ADS_1
Tio pasrah memainkan peran. Terlebih lagi Rani tidak memberikan arahan untuk dia harus bersikap bagaimana menghadapi semua temannya.
"Hai aku Dwi!"
"Hai aku Tiwi!"
"Hai aku Nina!"
"Hai aku Dessy!"
"Aku paling imut! Namaku dyna!" Huuuhhh! Tiba-tiba saja mereka rusuh dan riuh mendengar kalimat perkenalan Dyna. Dyna menggerutu gak jelas mendapat respon dari sahabat-sahabatnya yang kurang mendukung dirinya itu.
"Udah! Udah!" Teriak Rani. Rani menarik lengan jaket Tio lalu pergi meninggalkan semua teman-temannya tanpa basa basi lagi. Tio mengikutinya saja dari belakang.
Semua sahabat Rani hanya bisa melongo menyaksikan adegan itu.
Tanpa arah dan tujuan Rani melangkahkan kaki. Rani menarik Tio dari kerumunan teman-temannya hanya untuk membuat mereka sedikit tenang. Timbul kekesalan Rani kenapa Tio harus datang hanya untuk membuat teman-temannya gaduh!.
Rani: "Kenapa kakak kesanaaa?"
Tio: "Ya kakak cuma mau menawarkan tumpangan sama kamu, kaka liat kamu sudah mau pulang, tadi kakak makan di sebelahnya karna sambil nungguin kamu, lagian kan motornya punya kamu..."
"Rani kan sudah bilang kakak boleh pulang bawa motornya duluan!"
Tio: "Ya kakak pikir kali aja kamu mau bawa pulang motornya lagi, apa kakak salah? gak apa-apa kakak yang jalan kaki kalau memang gak mau boncengan" Tio menyerahkan kunci motor ke Rani.
Entah apa masalah sebenarnya yang membuat Rani tiba-tiba jadi jengkel. Selain kunci Tio juga memberikan boneka yang sudah di kemas dengan rapi dan lucu itu kepada Rani. Karna dia akan pulang berjalan kaki, maka boneka itu sengaja di berikannya untuk Rani.
Tio tidak ingin menjadi pusat perhatian ketika di jalan nanti, bila dirinya membawa serta boneka itu bersamanya.
Rani tidak menolak juga tidak menerimanya. Namun karna Tio terburu-buru pergi meninggalkannya. Ranipun terpaksa harus membawanya pulang. Mungkin sesampainya di rumah Rani bisa mengembalikan boneka itu kepada Tio lagi.
__ADS_1