
Sengaja pagi ini Tio bangun di awal, lebih dulu dari Wahid. Rasanya Tio sudah tak sabar membuang waktu terlalu lama. Dia tak ingin terlalu lama lagi menganggur. Ya meskipun ini baru hari keduanya berada di kota B, namun pekerjaan itu harus segera dia dapatkan secepat mungkin. Mengingat kebutuhan keluarganya di kampung akan semakin banyak. Terlebih lagi, kedua adik kembarnya udah mulai mau masuk sd. Akan ada lebih banyak kebutuhan pengeluaran biaya di awal sekolah, dan otomatis Tio harus mendapatkan pemasukan yang lebih banyak lagi.
Semoga aja kali ini kedatangannya ke kota bisa berhasil. Yah paling tidak semua kebutuhan adik-adiknya akan terpenuhi. Tio tak ingin adik-adiknya seperti dirinya. Putus sekolah, tidak berijazah sehingga sulit rasanya bisa menjadi karyawan di sebuah perusahaan. Hmmm...
Pagi ini Tio beruntung bangun lebih awal dari wahid. Sehingga wahid bisa mengantar Tio ke tempat kemarin dirinya bertemu bang Nana. Sekalian Wahid pergi kerja, Wahidpun tidak merasa keberatan. Yah lagi-lagi Wahid memang baik sekali. Kecuali kalau masalah urusan uang hehehee...
__ADS_1
"Gimana bang? Hari ini apa bisa menemui orang yang mau mempekerjakan saya?" Tanya Tio pada bang Nana. Sambil sekali-kali meminum teh hangat bikinan bu Tina pemilik warung kopi ini, dengan bahasa indonesia namun terkadang bercampur bahasa sunda. Gorengan hangat memang selalu tersedia di warung bu Tina sepanjang hari. Baik itu pagi, siang maupun sore harinya. Entah mengapa gorengan begitu banyak peminatnya. Kadang kalau lagi rame saja bu Tina sampai kewalahan berkutat dengan penggorengan.
"Ya kita coba saja datangi dulu, kebetulan hari ini orangnya lagi ada di lapaknya! Udah sebulan ini dia keluar kota terus kerjaannya!" Jawab bang nana, sambil sama-sama menikmati kopi panasnya. Tio cuma manggut-manggut saja mendengarkan penjelasan bang Nana.
Tio merasa terharu bertemu dengan bang Nana. Konon kata orang-orang di kampung, orang dari kota jarang yang jujur, tapi kali ini Tio merasa beruntung sekali bertemu langsung dengan orang yang baik. Benar-benar tulus ingin membantunya. Padahal bukan siapa-siapanya Tio.
__ADS_1
"Sudah kamu jangan sedih! Tidak semua orang itu buruk, dan tidak semua orang itu baik juga! Kamu selalu berhati-hati saja! Pesan saya jangan sampai salah pergaulan! Pergaulan di kota itu glamour! Salah pijak sedikit saja bisa nyebur! Lebih enak tinggal di desa saja kalau banyak harta sih! Heheheh!"
Begitu panjang Nasihat bang Nana, rasanya seperti ada yang memberikan pencerahan pada tio. Walaupun di ujungnya bang nana malah terkekeh juga. Tapi nasihatnya seperti orang tua saja di mata Tio. Karna menganggap bang Nana orangnya baik, lagi-lagi sedikit demi sedikit Tio mulai membuka cerita tentang kehidupannya di kampung, dan niatnya pergi ke kota B ini.
Kelihatannya bang Nana cukup terharu. Mendengarkan cerita tio yang bak sinetron di tivi. Dari mulai masa kecilnya sampai dia menjadi remaja laki-laki yang mau tidak mau harus terima kenyataan menjadi tulang punggung buat keluarganya karna ayahnya yang enggan menafkahi kehidupannya setelah bercerai dari ibunya.
__ADS_1