
"haiiii gue datengg nihh!" Dwi benar-benar menepati janji.
"Lah beneran lo! Bawa apaan?" Tanya Rani.
"Ih kepo deh, ni oleh-oleh buat Tio! Di mana dia?" Jelas Dwi.
"Ya mana gue tahuu,, ya di kontrakannya kali!" Jawab Rani
"Si Dwi ini ternyata niat amat deketin kak Tio" (dalam hati Rani)
Dwi: "Anter dong gue!"
"Sudah ku duga!" (dalam hati Rani)
Rani terlihat langsung memainkan jemari tangannya mengetik pesan ketika Dwi meminta bantuan.
Rani: "Udah lu duduk dulu aja, gue ambilin minum!"
Sirup nan segar beraroma strawberry terhidang di atas meja tamu.
"Kenapa gak sekalian ajak yang lain aja tadi ya?" Rani sepertinya punya ide baru. Sekalian ngumpul, tidak ada salahnya mereka mengundamg teman yang lain untuk datang.
Mereka melakukan selfie bersama dan mengunggahnya ke grup.
"Ya, dari pada bertele-tele ribetnya mending sekalian aja gue bikin meet & greet! Biar fans kak Tio pada kumpul, males gue jadi comlang mereka!".
Dalam sekejap bermacam balasan komentar bertebaran di grup whatsapp.
A: "Jangan bubaran dulu gaess!"
B: "Tungguin gue masih nganter emak!"
C: "Fix gue otw sekarang juga!"
D: "Woyy party gak ngajak-ngajak lu pada!"
E: "Otewe!"
F: "Otewe woyy!"
Dan berbagai komentar lainnya.
Ketika sedang fokus membaca dan membalas komentar-komentar teman-temannya di grup, Tio pun datang ke tempat itu. Rani meninggalkan mereka berdua, Dwi dan Tio di luar.
Akan tetapi Rani tetap memasang mata tajam-tajam. Mengintai dari balik kaca jendela hitamnya.
Ketika itu Rani melihat Dwi tiba-tiba mengambil ponsel Tio, kemudian mengetikkan sebuah angka di sana. Oh Rani paham, Dwi rupanya memaksa memasukan nomor hapenya sendiri ke ponsel Tio.
"Si Dwi kelihatan banget cari perhatian dari kak Tio!" Rani menggerutu. Entah kenapa dirinya merasa kurang suka melihat kelakuan temannya itu.
Kali ini Tio datang dengan pakaian cukup rapi. Tio tidak terlalu memalukan, walaupun kali ini dia datang cuma dengan mengenakan kaos putih polos dengan bawahan jeans yang yang gak terlalu baru, tapi cukup stylish juga, apalagi terakhir potongan rambutnya dengan gaya anak milenial, mirip-mirip style rambut anak boy band korea gitu, Plus hapenya yang sekarang udah Andro lumayan ada kemajuan. Walaupun Andronya juga hanya pemberian dari Rani sendiri sih.
Tapi letak kelebihan dia bukan pada materi.
Semua teman setuju kalau fisik Tio nyaris sempurna.
__ADS_1
Memang kulitnya gak terlalu putih, tapi syarat ganteng itu tidak harus berkulit putih, bertubuh tinggi, atau berbody goals. Karna porsi suka atau sempurna pada tiap orang itu beda-beda. Ketika kamu menyukai si A atau menanggap si A itu sempurna di mata kamu, temanmu belum tentu akan berpendapat yang sama pula.
Pasti kita melihat ada sesuatu dalam diri orang itu yang membuat kita tertarik. Tertarik kadang-kadang tidak harus di sertai dengan ketampanan pula.
Atau ketika kamu bertemu seseorang yang bahkan belum kamu kenal sama sekali, namun sudah melahirkan debaran-debaran kebahagiaan di hati kamu. Seperti itulah kira-kira. Bersyukurlah kamu yang pernah merasakan itu. Kadang-kadang untuk suka pun tidak perlu ada alasannya.
Semakin siang suasana semakin ramai. Teman-teman Rani mulai berdatangan.
Tio kerap menjadi sasaran utama untuk di ajak bicara oleh teman-temannya Rani. Sekali-sekali ada yang usilin Tio juga. Tapi Tio cukup sopan untuk menanggapinya. Mungkin dia tidak ingin membuat malu Rani di mata sahabatnya. Tio sendiri masih bingung, mengapa dirinya harus di libatkan dalam reuni ini.
Tio tetap bersikap sabar dan tidak ingin membuat ulah seperti beberapa minggu yang lalu. Niat baiknya malah justru membuat kacau perasaan Rani.
Mungkin tidak ada salahnya mengenal gadis-gadis ini dengan menjalin persahabatan. Toh Tio juga perlu punya banyak mengenal teman di sini. Meskipun idealnya adalah teman laki-laki.
Mereka memang cantik-cantik, tapi tidak ada yang bisa membuat perasaannya sama seperti yang ia rasakan kepada Rani saat ini.
Maaf, Semua cerita ini tidak di rencanakan arahnya kemana. Gak apa-apa ya kita pakai sedikit bumbu biar gak boring. Dan di buat dengan bahasa dan isi cerita yang seringan mungkin
"Puas-puasin deh tu lo ketemu kak Tio, Aku gak mau ikut campur urusan kalian"
Sepanjang hari kegiatan ini berlangsung.
Rani malah lebih sering meninggalkan mereka di luar bersama Tio. Namun anehnya Rani juga seringkali mengintai gelagat mereka dari dalam rumah.
Perasaan keponya tiba-tiba menjadi sangat besar.
Rani begitu penasaran ingin melihat bagaimana sesungguhnya reaksi Tio menghadapi teman-temannya. Pun reaksi teman-temannya terhadap Tio. Rani merasa lebih penasaran, ingin tahu siapa dari salah satu temannya yang paling menyukai Tio saat ini.
Biasanya jam segini waktunya tidur siang,,
Tapi teman-temannya masih kelihatan betah berkumpul.
Lelahnyaa... Rani membaringkan badannya di sofa tengah. Berjaga-jaga jika nanti temannya ada yang mau pamit pulang meraka tidak mencarinya sampai ke kamar.
Rani pun tertidur pulas di bangku itu, melepaskan lelahnya ke alam mimpi.
Hai all...
Maaf ya jika di bagian ini pengungkapannya rada rumittt!
Ini tadinya mau di ganti alur ceritanya, tapi sayang udah cukup banyak isinya.
Intinya ketika Tio mulai di dekati teman-temannya si Rani, Rani ini agak kurang suka gitu.
Perang bathin dikit sih pas mau upload ragu-ragu hehehehe...
Semoga bisa di pahami yaa, Terimakasiihh.
Harusnya ini dari kemarin sudah di post, tapi masih mikir-mikir.
Seiring waktu berjalan mereka nampak semakin akrab. Namun tidak pernah ada status akan kedekatan mereka.
Maklum, konon masih usia di bawah umur. Kenal ya kenal aja, jalan ya jalan aja tapi tidak pernah ada kesepakatan kata pacaran. Terlebih lagi, mamanya masih mengganggapnya tabu untuk menjalin hubungan itu.
Lagi pula status Tio di sini hanya sebagai pegawai bapaknya saja.
__ADS_1
Walaupun sepertinya mereka selalu bersikap ramah dan baik, Tiopun sama halnya tidak ingin membuat masalah lebih jauh.
Tio cukup tahu diri untuk tidak membuat ulah mengikuti kata hatinya mendekati Rani.
Karna Tio sudah cukup lama bekerja, Tio sendiri kadang suka di mintai bantuan jika Rani sedang ada keperluan darurat. Sesungguhnya bukan Rani saja, tapi ketika salah satu anggota di rumah itu membutuhkan bantuan, Tiolah yang di tugaskan.
Lambat laun Rani banyak mengajarkan Tio bagaimana cara menikmati teknologi.
Dari Rani Tio paham bagaimana cara menggunakan seluruh aplikasi inti Andro, mengirim barang dengan menggunakan jasa paket.
Sehingga Tiopun tidak lagi harus titip menitip melalui temannya lagi ketika mengirim barang. Dan Ranipun tidak harus menunggu lebih lama untuk memenuhi pesanan tas dari temannya. Kini semua menjadi lebih mudah. Mungkin suatu saat dia pun harus mengajari Rahmat tentang semua yang Rani ajarkan. agar kelak komunikasi mereka lebih lancar.
Suatu pagi di beranda rumah Rani.
Rani "Ada berapa tas yang datang kak!"
Tio: "sepuluh pieces, ada sisa orderan sekitar dua pieces!"
Rani mulai mencatat nama orang-orang sudah memesan produknya, pada sebuah buku kecil.
Tiopun membantu mengemas tas-tas itu dengan plastik bening, karna walau bagaimanapun penjual utamanya adalah dia.
Dengan kemasan yang rapi, tas itu terlihat lebih menarik, rapi dan lebih terlihat istimewa.
Tio tersenyum puas ketika pada akhirnya melihat tumpukan packingan tasnya yang telah siap di pasarkan, tidak kalah bagus dengan barang yang beredar di pasaran.
Telpon berdering ketika mereka sedang fokus membahas seputar usaha ini.
Tio berusaha menyapa ketika dia mendapatkan telpon dari seseorang.
"Hallo,,, assalamualaikuumm!"
"Ya Dwi kenapa?" Rani melirik ke arah Tio ketika nama Dwi di sebut, sedikit berusaha menyimak percakapan mereka di dalam telpon. Rani berusaha diam, tidak memotong percakapan mereka meskipun sesungguhnya ingin ikut terlibat di dalam obrolan itu.
Oh! Ternyata selama ini Dwi cukup intens berhubungan via telpon dengan Tio
"Jangan-jangan mereka sering chatingan!"
Rani masih tetap berpura-pura sok sibuk menghitung nilai keuntungan dan jumlah modal yang mereka berdua keluarkan dan dapatkan.
Rani hanya bisa tetap menyimak dan masih enggan berkomentar.
Sesungguhnya jumlah uang itu tidak terlalu berarti untuk Rani, Rani hanya sama-sama ikut belajar bagaimana caranya merintis sebuah usaha dari nol. Apalagi ketika teringat cerita ayahnya di masa muda yang kehidupannya sangat keras. Itu cukup menjadi salah satu motivasi dirinya untuk jauh lebih mendalami tentang seluk beluk sebuah usaha.
Sebagai anak yang kekinian, Rani pun berencana untuk membuka online shop, menjual produk lewat salah satu aplikasi jual beli online dari hape.
Barang-barang clasic tentu lebih langka dan unik. Selain langka di pasaran, rata-rata produk seperti itu tidak banyak di jual di olshop.
Mungkin Rani bisa meminta Tio untuk menjadi suplier barang-barang seperti ini. Dengan mengambil dari produsen-produsen atau pengrajin di kampungnya.
Kalau usaha ini berhasil, semua akan mendapat keuntungan, para pengrajin di desa juga akan banyak mendapat penghasilan tambahan. Termasuk dirinya dan tio. Meski Rani harus sedikit bersabar menggeluti, karna untuk maju Rani sadar betul dirinya harus bisa memegang kepercayaan pelanggan.
Ketika mengenang cerita ayahnya atau bapaknya! Rani teringat akan Tio.
Mungkin kisah Tio muda adalah gambaran pak Dani ayahnya Rani di masa muda dulu, salah satu pemuda pekerja keras yang menjadi tulang punggung keluarga pula.
__ADS_1