
Lama menanti Tio tak kunjung datang. Eca dan Rani pun memutuskan untuk turun dari pick up nya.
"Lama juga kak Tio,, aku udah gerah nih Habis ini kita pulang yaa!"
"Iya aku juga sama nih!" Rani mengelap keringat di pundak dan lehernya.
Di luar udara cukup semilir, gak kayak tadi waktu di mobil, rasanya pengap, maklum hanya pick up, bukan mobil yang biasa Rani kendarai.
Ada sedikit pertanyaan yang coba Eca ucapkan.
"Kalian apa punya hubungan?"
"Kenapa bertanya seperti itu? apa ada yang salah?"
"Gak sih! Hanya saja tingkah kalian berdua itu sama-sama aneh!"
"Maksudnya?"
"Ya aneh aja, cuma aku pokoknya yang bisa baca gelagat kalian! kalian gak bakal mengerti!"
"Terus menurutmu kami bagaimana?" desak Rani.
"Menurutku ada sesuatu antara kamu dan Tio!"
"Ada-ada aja kamu Ca! kita gak ada apa-apa kok! kak Tio cuma karyawan bapakku saja."
"Aku gak tahu ya, perasaanku yang bilang begitu! Aku cuma memastikan saja, kalau kalian gak punya hubungan apa-apa, berarti aku bisa dong deketin kak Tio?"
"Blash!" Muka Rani seketika memerah. Mulutnya mengingkari jika dirinya tidak ada apa-apa dengan Tio, tetapi kini hatinya mulai merasakan adanya rasa yang lain. Entah perasaan apa itu? Rani belum ingin menyimpulkan kalau itu adalah perasaan cinta, namun juga enggan berkata jujur jika hatinya mulai terganggu oleh rasa aneh itu terhadap Tio.
Rani bungkam! Sedangkan Eca menunggu dengan santai jawaban dari Rani.
Eca menyudahi pembicaraan ini ketika tahu Rani merasa tidak nyaman mendengar pertanyaan darinya.
Samar-samar Tio terlihat berjalan mendekati mereka.
Hari semakin sore, merekapun segera menyudahi acara ngabuburit untuk sore ini.
Rani menyarankan agar Eca buka puasa di rumahnya saja sekalian biar ramai. Lagi pula Rani gak ada teman berbincang selain mama, ada Eca yang lumayan mengusir kesepiannya. Sempet sih dulu Rani meminta adik lagi. Tapi terkendala kesehatan mama, akhirnya pada waktu itu mama urung mengandung.
"Kamu nginep aja di sini,, lagian kan kamu juga gak ada teman!" Rani memberi kan tawaran baiknya.
"Hmmm... Aku bilang ibu dulu ya! Susah soalnya dapat izin ibuku!" Jawab Eca sambil menikmati kolak pisangnya.
"Ya udah nanti habis tarawih izin saja!" saran Rani.
"Aku coba ya" jawab Eca.
"Wajib! hahahahaa!" Rani dan Eca tertawa bersama. Mereka menikmati makanan berbuka sampai menjelang adzan isya.
Dan merekapun menunaikan shalat tarawih di mesjid bersama-sama.
"Eh tolong ceritain dong tentang desamu! dikiitt aja" Rani membuat permohonan.
"Dengan senang hatiiii,,," jawab Eca.
Eca mulai menanyakan hal apa yang ingin Rani ketahui, dan Eca pun mengabulkannya.
Khayalan Rani melayang-layang membayangkan sesuai apa yang di ceritakan Eca. Tentang kehidupan di desa, suasana kampungnya, aktifitas penduduknya, adat istiadat daerahnya dan berbagai makanan khasnya. Sangat menarik! Apa yang Eca ceritakan hanya ada dalam bayangan saja, karna Rani belum pernah di ajak ke desa yang kondisinya masih seperti yang Eca ceritakan sekarang.
"Udah aku jelaskan! Kamu mau tanya apalagi?" Tantang Eca.
"Kayaknya tinggal di desa kamu asyik juga ya Ca!" Rani menempelkan telapak tangan ke pipi dan dagu, di atas bantal tidurnya. Ekspresi bengong dengan begitu serius dirinya menyimak cerita-cerita Eca.
Rasanya seperti sedang mendengarkan dongeng sebelum tidurnya yang kadang di ceritain mama waktu dulu.
Teringat dengan Tio, dirinya ingin sekali bertanya, namun Rani merasa teramat malu.
"Bagaimana caranya tuk bertanya ya? sedangkan aku malu jika harus terlalu terbuka pada Eca" Rani mencari akal bagaimana caranya agar Eca menceritakan tentang Tio dan keadaan keluarganya di desa tanpa dia harus meminta.
__ADS_1
"Kamu bengong ya!" Tembak Eca.
"Ah, enggak! Udah ceritain lagi tentang hal lain di desa kamu, aku mau tahu lebih banyak lagi! tentang temenmu misalnya" tantang Rani.
"Teman yang mana nih? hahahaaa!"
"Teman yang mana aja bolehhh!"
"Oohh tentang kak Tio yaa?? cieee ada yang kepoo!" Ledek Eca.
"Ih kamu, kan aku bilang yang mana aja, kenapa malah kak Tio?"
"Terus aku ceritain apa jangan nihh?"
"Ceritainnn buru! Kalau gak, gak aku kasih permen nih! hahahaha!" Ancam Rani dengan candanya.
Tanpa ingin mengulur waktu Eca bercerita tentang Tio dan kebiasaannya. Rani menyimak dengan seksama tanpa ada yang terlewat. Sesekali ada ekspresi kekhawatiran pada raut wajahnya. Namun beberapa waktu kemudian berganti senyuman
"Oke masih ada yang mau kamu tanya lagi tentang dia?" Ucap Eca.
"Gak sih,, cuma kadang aku heran aja, kenapa dia tuh kelihatan kampungan banget ya! Ups! maaf, gak ada maksud apa-apa" Rani bicara nyeplos.
"Ya gak seperti kamu, kamu tinggal di desa tapi sama aja kan kita!" Sambung Rani.
"Ya kan sekarang jaman canggih! mode, gaya bicara dan info apapun pasti cepat di serap dan di tiru."
"Kenapa dia beda! Sebelum ini."
"Ya mungkin karna dia tidak memiliki peralatan komunikasi modern, jadi mungkin kurang wawasan dan info saja, terbuktikan kalau orangnya ganteng! Setuju?" Jebak Eca, sekali lagi bikin pipi Rani memerah menahan malu. Untung saja lampu kamarnya remang, hingga ronanya tidak terlihat oleh Eca. Remangnya lampu kamar karna awalnya mereka berencana untuk langsung tidur, tapi ternyata malah asyik berbagi cerita.
Memang berbagi cerita sebelum tidur cukup mengasyikan juga ya.
Bunyi pesan whatsapp terdengar lebih keras kali ini. Mungkin karna suasana malam, yang sepi menjadikan ringtonenya terdengar lebih nyaring. Eca mencoba mencari keberadaan ponselnya. Dia mengambilnya dari atas meja rias Rani.
Rani terkaget di buatnya, ketika Eca mengatakan jika itu pesan dari Tio.
"Apa katanya Ca?" Rani mencoba menyelidiki dengan bertanya.
"Gak apa-apa, ini tadi aku titip minta di belikan nasi goreng sama dia! aku kan belum makan, tadi kita habis buka langsung tarawih, ayo dong anter ke depan!"
"Oohh!" Perasaan Rani lumayan lega mendengarnya.
Niatnya mau tidur urung di lakukan, mereka pun segera turun dari tempat tidur, melangkahkan kaki menuju pintu depan.
Tio sudah terduduk di kursi tamu ketika Rani dan Eca membuka pintu dan menghampiri.
"Kok banyak sekali beli nasinya?" Tanya Rani.
"Eca yang minta di belikan tiga" jawab Tio.
"Ya kan kita bertiga, kamu juga kan belum makan Ran." Ucap Eca sambil meraih kantong plastik yang berisi tiga bungkus nasi goreng hangat.
"Ya udah aku ambil minum dulu ya!" Rani berlalu meninggalkan mereka.
"Cari apa neng?" tanya bi Minah. Kebetulan bi Minah belum tidur saat itu.
"Ini bi, mau ambil air, kita mau makan di depan."
"Bibi bawain ya?" Bi Minah menawarkan bantuan.
"Gak usah bi, Rani aja, cuma air putih aja kok!" Jawab Rani.
Rani meninggalkan dapur dengan teapot berisi air dingin di atas dan beberapa gelas kosong.
Rani meletakan baki di atas meja tamu.
Merekapun menikmati makan malam bersama-sama. Karna waktu sudah cukup larut malam, sekalian saja membaca doa niat puasa. Rani khawatir jika pas sahur nanti susah di bangunkan untuk makan sahur. Karna tidur yang sudah terlalu larut.
Mereka bertiga sedikit terlibat perberbincangan.
__ADS_1
Suasana cukup hidup, obrolan mereka bertiga pada akhirnya cukup nyambung.
Sampai pada akhirnya Tio pamit untuk tidur dan obrolanpun berakhir.
__ADS_1