
Pagi yang penuh semangat, Tio bersiap merapikan diri pergi ke tempat kerjanya.
Sedikit mengelus kuda besinya tidak akan membuat dirinya datang terlambat. Sayang kalau motor yang masih kinclongnya harus karatan karna kurang rawat.
Sedikit tembang religi di senandungkannya dengan halus.
Tiba-tiba telpon berbunyi, Tio melihat nama Lina tersemat di nomor itu. Segera Tio mengangkatnya.
"Assalamualaikuumm,, Tio, bisa gak pagi ini aku ikut bonceng kamu? kita berangkat bareng! nanti kamu tolong jemput aku ya!" suara Lina bernada begitu cepat, belum sempat Tio menjawab, Lina kembali menyambung ucapannya; "aku tungguuu!" klik! telpon kemudian terputus, tanpa Tio mendapat kesempatan untuk bisa memberi jawaban.
"Haduh maksa banget sih nih cewek!" Gerutu Tio. Jika kali ini dia harus terlebih dahulu menjemput Lina, maka Tio tidak bisa lagi berlama-lama memanjakan sepeda motornya.
"Ayo kita otewe ganteng! ada tuan putri yang minta kita jemput segera!" Tio menstarter motornya, dan meninggalkan kost-kostannya.
Bangun pagi memang menyenangkan. Udara sejuk menanti untuk di nikmati, dan bangun pagi membuat Tio lebih bahagia. Pantas saja orang-orang banyak yang sengaja bangun subuh untuk menikmati udaranya sambil olahraga. Ternyata bikin kita happy dong!.
Sebelum pertigaan lampu merah ada gang kecil di sebelah kiri. Di situ lah kontrakan Lina. sebenarnya Lina juga pendatang sih, namun pendatang yang lebih senior adalah Tio.
Nampak dari kejauhan seorang gadis cantik, tengah mematung di pinggir jalan raya. Matanya tajam memandang ke arah Tio.
Tidak ada kata lagi ketika Tio memberhentikan motor tepat si depannya, gadis itu langsung duduk di atas jok dengan tergesa dan tanpa kata!.
"Hey ada apa ini? kenapa dia bertingkah seperti ini?" petanyaan aneh yang kali ini di pendingnya. Mungkin karna terburu-buru. Positif thinking saja!
__ADS_1
Tidak nyaman sekali membonceng gadis ini rasanya. Tapi Tio tidak punya pilihan, mungkin lain kali dia harus cari alasan.
Tidak ada percakapan sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya tiba di parkiran, Lina hanya mengucapkan terimakasih dan tio bilang "sama-sama."
"Gadis aneh! padahal dia yang telpon aku duluan!."
Tio segera mengunci setang motornya dan berjalan menuju lobby kantornya. Tio bersyukur di tempat dia bekerja mendapat tempat sebagai salah satu bagian staffnya.
Bukan sebagai operator mesin atau bagian lain seperti quality control atau lainnya. Walaupun pekerjaannya cukup membuat otaknya harus lebih keras berfikir tapi income yang di dapat cukup memuaskan hatinya.
Di sertai tunjangan-tunjangan dari perusahaan, kehidupan Tio lebih stabil. Apalagi Tio bukan anak yang boros dan ibunya juga bukan orang yang suka menghambur-hamburkan uang. Setiap uang yang Tio kirimkan ke kampung, ibu selalu menyisakannya dengan membeli hewan ternak. Idul adha nanti akan ada peluang bisnis dan keuntungan baru yang bisa Tio dapatkan, dengan menjual sebagian ternak yang sudah siap di qurbankan. Hasil bebererapa tahun ini Tio sudah bisa merenovasi rumahnya menjadi lebih layak, seperti rumah-rumah di kota. Walaupun tidak mentereng, tapi cukup rapi untuk ukuran rumah di desa. Adik-adiknya sudah bisa menonton tivi di rumah sendiri, karna beberapa tahun ini, perkembangan jaman semakin pesat, listrik sudah bisa di nikmati di desanya dan roda ekonomi desa mulai bangkit. Dengan adanya listrik, industri-industri kecil yang membutuhkan tenaga listrik, bisa lebih nyaman sekarang. Tidak lagi bergantung kepada mesin yang memerlukan bahan bakar lagi. Mesin berbahan bakar hanya sesekali di pakai untuk memompa air dari sungai dan menyalurkannya ke sawah-sawah ketika menyiram padi atau tanaman lainnya.
Sekedar kembali ke masa berat perjuangan Tio. Ingatkah readers dengan Rahmat sahabat sekampung Tio?.
Rahmat merasa sangat keberatan waktu itu, ketika Tio meninggalkan usaha yang mereka sama-sama rintis dari nol sedang berkembang-berkembangnya.
Namun mereka selalu saling mendoakan agar mendapat yang terbaik.
Apapun yang Tio lakukan Rahmat selalu mendukungnya.
Rahmat tak akan lupa akan jasa-jasa Tio yang bagai konsultan.
Selalu memberikan solusi atas masalah-masalah usahanya.
__ADS_1
Rahmat hanya sedikit kecewa ketika Tio melepas usaha yang kini sedang mulus-mulusnya di jalani.
Namun Rahmat harus menghargai apapun keputusan Tio.
Dia tidak ingin menjadi teman yang menyebalkan buat Tio.
Rahmat tidak harus seluruhnya tahu apa maksud dan tujuan hidup Tio.
Yang jelas Tio sudah memberikan solusi terbaik untuknya dan para petani langganannya.
Ingat Anita adik Tio readers? Kita flasback sedikit lagi.
Anita kini sudah berhasil menjadi guru, dan mendedikasikan ilmunya di desanya sendiri. Semua atas saran dari Tio yang melarang Anita bekerja di luar setelah mengambil kuliah S1 PGSD. Kampus Anita berada di titik tengah antara kota B dan desanya. Tio tidak mengijinkan Anita ngampus lebih jauh lagi karna jika masa libur tiba mereka tidak menghabiskan waktu hanya untuk berlama-lama di perjalanan. Satu jam setengah dari rumah selama perjalanan. Terkadang Anita juga ngekost di sekitaran kampusnya, agar lebih fokus pada pelajarannya, dan tidak menghabiskan uang hanya sekedar untuk ongkos perjalanan pulang dan pergi. Terakhir Anita mendapat warisan motor butut Tio yang di permak sedemikian rupa agar layak pakai untuk Anita, ketika itu Tio mengganti motor bututnya dengan yang baru saja di belinya. Daripada di jual, harganya pasti tidak seberapa, jadi Tio mengirimnya ke kampung saja.
Anitapun terpaksa mau tidak mau demi kelancaran belajarnya, harus belajar mengendarai motor itu sampai mahir, di bantu zaka-zaki yang mulai beranjak remaja. Tentu saja zaka dan zaki juga akhirnya ikut-ikutan pandai mengendarainya. Dan motor butut itu malah sangat bermanfaat ketika di kirim ke kampung. Terkadang ada yang minta di antar belanja ke pasar. Salah satu adiknya bisa mendapat upah ongkos ojek orang yang menumpang padanya. Lumayan untuk menambah uang jajannya. Jika ada sisa, bisa buat ibu masak lauk makan. Sekalian ikut kepasar sama penumpangnya. Toh selama penumpangnya belanja, adiknya juga harus rela menunggu sampai penumpang mereka selesai belanja. Zaka-Zaki merasa sangat berterimakasih kepada Tio.
Si kembar hanya di beri tugas memberi makan ternak-ternaknya. Setelah semua selesai mereka bisa main kemanapun mereka suka. Karna semua ternak hanya di urus di dalam kandang saja.
Tak henti-hentinya Tio dan Anita mengedukasi mereka. Agar tidak berkelakuan buruk di luar. Anak-anak baik itu sangat mengerti akan nasihat kedua kakaknya. Hidup ibupun jauh lebih tenang meski ibu memutuskan untuk tidak menikah lagi, demi fokus mengurus mereka.
Perubahan hidup mereka sudah mulai menuai hasil.
Mungkin saatnya mencarikan jodoh buat mereka saat ini.
__ADS_1